Mentari pagi perlahan naik dari balik perbukitan di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pesawaran. Cahaya keemasan menyentuh hamparan padi yang membentang luas, berkilau saat diterpa angin yang bergerak pelan.
Pemandangan itu tampak damai.
Namun di balik ketenangan desa agraris ini, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan yang tidak selalu terlihat.
BACA JUGA: Jelang Mudik Lebaran, Polresta Bandar Lampung Sediakan Hotline 110 dan Pos Pengamanan
Sebuah jalan tanah memanjang membelah Desa Tanjung Rejo. Jalan itu menjadi satu-satunya jalur yang menghubungkan para petani dengan pasar, sekolah, dan berbagai aktivitas kehidupan.
Saat musim kemarau tiba, jalan mengeras dan retak-retak. Debu beterbangan setiap kali kendaraan melintas, menempel di wajah para petani yang pulang dari sawah.
Sebaliknya, ketika musim hujan datang, jalan berubah menjadi licin dan berlumpur. Kendaraan kerap tergelincir, roda terperosok, bahkan harus didorong bersama-sama agar dapat melanjutkan perjalanan.
Bagi warga Desa Tanjung Rejo, jalan itu bukan sekadar akses.
Ia adalah jalur kehidupan.
Jalan Sulit, Nafas Petani Tersendat

Kodisi jalan sasaran TMMD saat sebelum di bangun
Selama bertahun-tahun warga desa harus berdamai dengan kondisi jalan tersebut.
Setiap musim panen tiba, kegembiraan selalu disertai kekhawatiran. Gabah yang telah menguning memang siap dipanen, tetapi perjalanan menuju pasar sering kali menjadi perjuangan tersendiri.
Biaya angkut meningkat karena kendaraan harus bekerja lebih keras melewati jalan yang rusak. Waktu tempuh pun semakin panjang, sementara risiko kerusakan kendaraan tidak dapat dihindari.
Di atas jalan itulah para petani menanggung beban tambahan yang tak pernah mereka minta.
Keringat mereka tidak hanya tercurah di sawah, tetapi juga di sepanjang jalan yang belum kunjung berubah.
Harapan seakan tertahan di antara debu dan lumpur.
Titik Balik Sebuah Penantian

Penandatanagn naskah TMMD saat upacara pembukaan
Perubahan yang lama dinantikan akhirnya datang.
Pada 10 Februari 2026, Desa Tanjung Rejo menjadi lokasi pembukaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127. Upacara pembukaan berlangsung khidmat dan penuh semangat.
Bupati Pesawaran, Hj. Nanda Indira B., S.E., M.M., hadir bersama Dandim 0421/Lampung Selatan Letkol Kav M. Nuril Ambiyah, S.H., M.I.P., serta jajaran pemerintah daerah dan TNI.
Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa pembangunan benar-benar hadir hingga ke pelosok desa.
Dalam sambutannya, Bupati Pesawaran menegaskan bahwa TMMD merupakan wujud sinergi antara pemerintah daerah dan TNI dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kami mendengar keluhan masyarakat terkait akses jalan dan kebutuhan dasar lainnya. Melalui TMMD ini, kami ingin memastikan pembangunan benar-benar dirasakan hingga ke desa,” ujarnya.
Kabupaten Pesawaran sendiri memiliki sejarah panjang sebagai kawasan transmigrasi sejak masa kolonial Belanda. Wilayah yang resmi berdiri pada tahun 2007 ini tumbuh dari semangat para perintis yang membangun kehidupan baru dari awal.
TMMD ke-127 seakan menghidupkan kembali semangat tersebut.
Membangun dari desa.
Menguatkan Indonesia.
Dentuman Molen Mengawali Perubahan

Jalan yang menjadi sasaran TMMD setelah di lakukan pembangunan
Tak lama setelah upacara pembukaan selesai, suasana Desa Tanjung Rejo berubah.
Truk-truk pengangkut material berdatangan membawa batu split, pasir, dan semen. Jalan yang sebelumnya sunyi kini dipenuhi aktivitas pembangunan.
Pengerjaan rabat beton sepanjang 666 meter, dengan lebar 3 meter dan tebal 15 sentimeter, pun dimulai.
Dentuman mesin molen berpadu dengan suara sekop dan cangkul. Komando anggota Satgas TMMD bersahutan dengan semangat warga yang ikut membantu pekerjaan.
Di atas tanah yang dulu retak-retak, kini berdiri tekad yang lebih kokoh.
Sedikit demi sedikit, wajah jalan berubah.
Dari jalur berdebu menjadi bentangan beton yang siap menopang roda kehidupan desa.
Benteng Penjaga Harapan
Pembangunan tidak berhenti pada permukaan jalan.
Sepanjang 540 meter talud dibangun untuk memperkuat struktur jalan sekaligus melindunginya dari gerusan air dan potensi longsor.
Batu demi batu disusun dengan ketelitian tinggi.
Talud itu bukan sekadar pasangan batu.
Ia adalah benteng yang menjaga harapan.
Karena membangun bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga memastikan bahwa apa yang dibangun hari ini dapat bertahan dalam waktu yang lama.
Lima Rumah, Lima Kisah yang Bangkit
.jpg)
Salah satu RTLH yang menjadi sasaran kegiatan TMMD
Perubahan juga hadir di sudut-sudut rumah warga.
Lima rumah milik Suhono, Ngadino, Ibu Siti Hamdiah, Khoirul Anwar, dan Heri yang sebelumnya tidak layak huni kini berdiri lebih kokoh melalui program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Dinding reyot diganti permanen.
Atap bocor diperbaiki.
Lantai tanah berubah menjadi lantai yang layak.
Bagi keluarga-keluarga tersebut, perubahan ini menghadirkan rasa aman yang selama ini terasa jauh.
Ibu Siti Hamdiah masih mengingat bagaimana hujan sering kali masuk melalui atap rumahnya.
“Kalau hujan deras kami harus menaruh ember di mana-mana karena atap bocor. Anak-anak sering terbangun tengah malam. Sekarang kami bisa tidur tenang,” ujarnya.
Kini rumah itu terasa lebih kokoh, lebih hangat, dan lebih layak untuk ditinggali.
Air yang Menghidupkan

Kebahagian anak-anak saat menikmati hasil pembuatan sumur bor
TMMD ke-127 juga menghadirkan lima titik sumur bor bagi masyarakat Desa Tanjung Rejo.
Di desa agraris seperti ini, air adalah sumber kehidupan. Air tidak hanya dibutuhkan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mendukung aktivitas pertanian warga.
Dengan adanya sumur bor, masyarakat kini memiliki akses air bersih yang lebih mudah dan lebih dekat.
Ketahanan desa pun semakin kuat.
Kepemimpinan di Garis Terdepan

Letkol Kav M. Nuril Ambiyah sedang memaparkan sasaran kegiatan TMMD
Di balik hiruk-pikuk pembangunan itu, ada sosok yang terus memastikan setiap proses berjalan dengan baik.
Dansatgas TMMD ke-127, Letkol Kav M. Nuril Ambiyah, S.H., M.I.P., hampir setiap hari terlihat berada di lokasi pekerjaan.
Ia tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga turun langsung meninjau progres pembangunan.
Berdiri di antara tumpukan batu dan pasir, ia berdialog dengan anggota satgas sekaligus menyapa warga yang ikut bergotong royong.
Bagi dirinya, TMMD bukan sekadar program pembangunan.
Ini adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat.
“TMMD adalah wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat. Ketika TNI dan masyarakat bekerja bersama, pembangunan akan berjalan lebih cepat dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh warga,” ujarnya.
Membangun Jiwa, Bukan Sekadar Infrastruktur

Penyuluhan dalam kegiatan Non Fisik TMMD
TMMD ke-127 tidak hanya menghadirkan pembangunan fisik di Desa Tanjung Rejo.
Di sela-sela pekerjaan pembangunan jalan dan rumah warga, berbagai kegiatan nonfisik juga digelar.
Mulai dari penyuluhan kesehatan, pelayanan keluarga berencana, pencegahan stunting, donor darah, hingga sunat massal.
Warga juga mendapatkan pembinaan UMKM, bantuan bibit sayuran dan alat pertanian, serta penyuluhan tentang pentingnya toleransi antarumat beragama.
Bantuan kitab suci Al-Qur’an juga turut disalurkan kepada masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, TMMD tidak hanya membangun jalan dan rumah, tetapi juga memperkuat pengetahuan, kesehatan, serta ketahanan sosial masyarakat desa.
Kehadiran Tim Wasev Meninjau Progres

Brigjen TNI (Mar) Bambang Hadi Suseno, S.E., M.M., saat meninjau sasaran kegiatan TMMD
Pelaksanaan TMMD ke-127 di Desa Tanjung Rejo juga mendapat perhatian dari Mabes TNI.
Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) yang dipimpin Wakil Asisten Teritorial Panglima TNI, Brigjen TNI (Mar) Bambang Hadi Suseno, S.E., M.M., hadir langsung meninjau berbagai sasaran kegiatan.
Rombongan melihat pembangunan jalan rabat beton, talud, rumah tidak layak huni, hingga fasilitas sumur bor yang kini dimanfaatkan masyarakat.
Kehadiran tim Wasev menjadi bentuk perhatian sekaligus dukungan terhadap keberhasilan program TMMD di desa tersebut.
Perjuangan yang Tak Sia-sia

Sasaran TMMD yang sudah selesai di kerjakan
Hari-hari pelaksanaan TMMD dipenuhi kerja keras yang tak mengenal lelah.
Personel Satgas TMMD Kodim 0421/Lampung Selatan bekerja sejak pagi hingga menjelang senja.
Di bawah teriknya matahari desa, mereka mengangkat batu, mencampur semen, dan meratakan beton bersama warga.
Kelelahan menjadi bagian dari pengabdian.
Namun semua itu terbayar ketika perubahan mulai terlihat.
Jalan yang dahulu berdebu kini mengeras oleh beton.
Rumah-rumah yang dulu rapuh kini berdiri kokoh.
Air bersih mengalir lebih dekat.
Setiap tetes keringat berubah menjadi harapan baru bagi masyarakat desa.
Perjuangan itu tidak sia-sia.
Jejak Kerja yang Menjadi Bukti
Mayjen TNI Kristomei Sianturi potong pita meresmikan Jalan Usaha Tani
Rangkaian TMMD ke- XXI di Desa Tanjung Rejo akhirnya mencapai penutupnya.
Pangdam XXI Raden Intan Mayjen TNI Kristomei Sianturi hadir langsung meninjau berbagai hasil pembangunan yang telah rampung.
Mulai dari jalan rabat beton, talud, rumah warga yang direhabilitasi, hingga sumur bor yang kini dimanfaatkan masyarakat.
Di salah satu titik jalan usaha tani yang dibangun melalui program TMMD, Pangdam melakukan pemotongan pita sebagai tanda peresmian.
Jalan yang dahulu berlumpur kini membentang kokoh, membuka akses yang lebih mudah bagi para petani membawa hasil panen mereka.
“Program TMMD bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat kebersamaan antara TNI dan masyarakat dalam membangun desa,” ujarnya.
Dari Desa untuk Indonesia
Kini Desa Tanjung Rejo menatap masa depan dengan wajah yang berbeda.
Jalan yang dahulu berdebu dan berlumpur kini membentang kokoh di tengah hamparan sawah. Rumah-rumah yang dulu rapuh kini berdiri lebih layak. Air bersih mengalir lebih dekat, menghadirkan rasa aman bagi warga yang selama ini hidup dengan keterbatasan.
Namun perubahan terbesar bukan hanya pada jalan, rumah, atau sumur bor yang berdiri.
Perubahan itu hidup dalam semangat kebersamaan antara masyarakat dan para prajurit yang datang membangun desa mereka.
Di atas jalan yang baru itu, kelak roda sepeda motor para petani akan melintas membawa hasil panen. Anak-anak akan melewati jalan yang sama menuju sekolah mereka.
Dan kehidupan desa akan bergerak sedikit lebih mudah dari hari-hari sebelumnya.
Di sanalah makna TMMD menemukan wujudnya.
Bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari kota-kota besar.
Kadang, ia lahir dari desa kecil yang perlahan bangkit dari kerja keras, gotong royong, dan harapan yang dicor bersama.
Karena ketika desa bergerak maju, yang menguat bukan hanya desa itu sendiri.
Tetapi juga Indonesia.
penulis : Jeri Wahyuda
BACA JUGA: Jelang Mudik Lebaran, Polresta Bandar Lampung Sediakan Hotline 110 dan Pos Pengamanan
merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.
1
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 642
2
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 297
3
Senin, 27/07/2026 - Dibaca : 266
4
Selasa, 28/07/2026 - Dibaca : 238
5
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 197
6
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 186
1
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 45
2
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 41
3
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 40
4
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 37
5
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 35
6
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 33
7
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 30
BERLANGGANAN BERITA