Logo Saibumi

Tragedi Diksar MAHEPEL Unila: Pratama Meninggal Diduga Dianiaya, Sang Ibu Lapor ke Polda

Tragedi Diksar MAHEPEL Unila: Pratama Meninggal Diduga Dianiaya, Sang Ibu Lapor ke Polda

(Jilbab Kuning) Wirna Wani, Ibu Alm Pratama usai membuat laporan polisi atas dugaan meninggalnya Pratama akibat kekerasan yang terjadi saat diksar Mahepel, Selasa (03/06/2025). Foto: Kristin/Saibumi

Saibumi.com (SMSI), Bandar Lampung — Kisah memilukan diungkap Wirna Wani, Ibu dari almarhum Pratama Wijaya Kusuma yang meninggal diduga akibat tindakan kekerasan saat kegiatan Pendidikan Dasar (Diksar) Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam (MAHEPEL) Universitas Lampung (Unila) yang diselenggarakan pada tanggal 14-17 November 2024. Dalam kesaksiannya, sang ibu menceritakan bagaimana putranya pulang dalam keadaan lemah, penuh luka, dan sempat mengalami kejang serta muntah hingga akhirnya harus menjalani operasi otak.

Peristiwa itu terungkap pada malam hari, sekitar pukul 22.00 WIB. Wirna menerima telepon dari anaknya yang meminta dijemput setelah selesai mengikuti diksar.

“Dia minta dijemput, sudah malam. Terus saya jemput, kira-kira sudah jam 10-an. Dia kelaparan. Dia bilang kelaparan, minta cari mie ayam. Kami cari, sudah dapat, lalu kami pulang,” ungkap Wirna setelah membuat Laporan Polisi di Mapolda Lampung, Selasa (03/06/2025).

Sesampainya dirumah, Pratama terduduk dan pinsan hingga pukul 03.00 WIB.

“Anakku pingsan, saya jerit nangis. Di rumah cuma bertiga, suami saya kerja di Jakarta. Saya lihat luka-lukanya banyak banget di tangannya, sampai saya lap dan bersihkan lukanya,” ujarnya dengan suara terbata.

Menurut kesaksian sang ibu, anaknya sempat sadar sekitar pukul 08.00 pagi keesokan harinya. Saat itu, sang anak meminta minum lalu mengaku tidak menjalankan ibadah selama berada di tempat yang belum diungkapkan identitasnya. Ketika diajak berobat ke rumah sakit, ia menolak karena merasa terancam.

“Nanti ketahuan, Mama. Nanti aku diancam. Kita pulang aja. Jangan ngomong-ngomong. Kalau Mama sayang, diam ya. Nyawa aku ini diancam. Rumah kita jauh. Nanti aku diincar, mau dibunuh,” ucap korban seperti ditirukan ibunya.

Dirawat Saat Ramadan, Sempat Alami Kejang dan Harus Operasi Otak

Menurut ibunya, korban mulai dirawat sekitar bulan Ramadan (Maret 2025) setelah mengalami muntah-muntah dan kejang. Ia sempat dibawa ke RS Bintang Amin dan ditangani oleh seorang dokter bernama Tony.

Tangannya mengalami kejang hebat, dan jalannya pun pincang. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, korban dirujuk ke spesialis saraf. Di sana, dokter menyatakan bahwa korban telah mengalami kerusakan saraf serius.

Hasil pemindaian (Scanning) di RS Abdul Moeloek menunjukkan adanya gumpalan darah dan cairan otak yang tidak mengalir. Korban pun menjalani operasi otak pada 27 April 2025.

Tanda-tanda Kekerasan dan Tuduhan Kampus yang Dibantah

Korban sempat menceritakan bahwa ia mengalami kekerasan fisik berupa tendangan di dada dan perut, serta diinjak-injak. Kukunya sampai copot dan hanya diberikan obat luar seadanya.

Namun, ketika ditanya siapa pelaku kekerasan tersebut dan berapa orang yang terlibat, korban enggan menyebutkan.

Pihak keluarga juga membantah pernyataan dari kampus yang menyatakan bahwa korban mengalami gangguan otak sejak lama.

“Anak saya dari kecil sehat. Nggak pernah ada gangguan otak. Cuma batuk pilek biasa,” tegas ibunya.

Tidak Ada Respons dari Pihak Kampus

Wirna juga mengatakan bahwa tidak ada satupun perwakilan kampus Universitas Lampung (Unila) yang datang menjenguk selama masa perawatan. Setelah anaknya meninggal dunia, baru beberapa orang datang, termasuk Wakil Dekan III FEB Unila, Dr. Neli Aida, S.E., M.Si.

Wirna juga sempat menulis unggahan di media sosial Facebook agar masyarakat berhati-hati memilih organisasi mahasiswa.

"Saya tulis: ‘Kalau ada saudara yang mau masuk UNILA, jangan salah pilih e-school. Cukup saya yang merasakan sakit, sampai anak saya meninggal.’ Tapi mereka minta dihapus. Akhirnya saya hapus,” kata Wirna

Keluarga Minta Kasus Diusut Tuntas

Pihak keluarga meminta agar kasus kematian anaknya diusut secara hukum dan tuntas. Mereka menduga ada unsur kekerasan sistematis yang menyebabkan kematian korban.

“Saya ingin diusut secara tuntas oleh kepolisian. Hukum seberat-beratnya pelaku. Itu harapan saya,” pungkas sang ibu.

BACA JUGA: Kanwil Kemenag Lampung dan PKUB Fasilitasi Dialog Damai Pembangunan Rumah Ibadah

Saibumi.com

merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA