Saibumi.com (SMSI), Bandar Lampung - Berbagai faktor disinyalir berpotensi meningkatkan harga berbagai komoditas pangan Indonesia di tahun depan.
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Setiawan di Jakarta mengatakan, dibutuhkan kebijakan yang tepat sasaran untuk mengantisipasi kenaikan harga tersebut.
BACA JUGA: UMP, UMK Tahun 2022 Lampung, Pekerja : Kita Berharap Naik
“Krisis iklim telah menjadi salah satu tantangan dalam kelangsungan sektor pertanian dalam menjalankan fungsinya menyediakan pangan bagi seluruh dunia. Dalam konteks Indonesia, ketidakpastian musim tanam dan panen semakin menambah tantangan petani kita dalam memproduksi pangan dan memenuhi kesejahteraannya,” ungkap Indra Setiawan, Sabtu (13/11/2021).
Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini distribusi dan ketersediaan sebagian besar bahan pangan pokok di Indonesia memang sudah lebih stabil daripada sebelumnya. Akan tetapi beberapa komoditas yang sebagian besar bersumber dari impor, seperti bawang putih, gula, daging sapi dan kedelai, diprediksi juga akan mengalami fluktuasi harga.
Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat sepanjang 2021 harga bawang putih cenderung mengalami kenaikan dari Rp 28.300 per kilogram (kg) di bulan Januari dan mencapai titik tertinggi di bulan Agustus sebesar Rp 30.600 per kg. Harga daging sapi juga terus mengalami kenaikan dari Rp 113.250 per kg di Januari 2021 hingga mencapai Rp 120.050 per kg di bulan Mei 2021.
“Pantauan pergerakan harga dan produksi nasional seharusnya sudah bisa dijadikan dasar pengambilan kebijakan yang akurat. Di samping itu, dibutuhkan data pangan yang dapat dipercaya dan diperbaharui secara berkala,” jelas Indra.
Indra menambahkan, rendahnya permintaan akibat pandemi memang dapat meredam kenaikan harga. Tetapi, menjelang Bulan Ramadan dan Idul Fitri, jumlah permintaan sudah dipastikan akan melebihi permintaan di hari-hari biasa.
“Rentetan peristiwa yang menandai fluktuasi harga komoditas pangan, terutama yang termasuk pada komoditas pokok dan ketersediaannya dipenuhi lewat impor, idealnya sudah bisa dijadikan parameter dalam mengambil kebijakan,” tegas Indra.
Selain fluktuasi harga, data produksi pangan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi sangat penting dalam menentukan kebijakan. Proses panjang importasi juga perlu diingat sehingga timing masuknya komoditas pangan impor tidak merugikan petani.
“Seperti contohnya bawang putih yang ketersediaanya dipenuhi lewat impor, perlu dipermudah akses dan syarat-syarat impornya. Ketahanan pangan dalam negeri penting untuk dijaga melalui pemenuhan kebutuhan pangan dengan harga terjangkau” pungkas Indra. (Riduan)
BACA JUGA: UMP, UMK Tahun 2022 Lampung, Pekerja : Kita Berharap Naik
merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.
1
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 644
2
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 298
3
Senin, 27/07/2026 - Dibaca : 266
4
Selasa, 28/07/2026 - Dibaca : 239
5
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 198
6
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 187
1
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 51
2
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 46
3
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 45
4
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 43
5
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 39
6
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 37
7
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 36
BERLANGGANAN BERITA