Foto Ist| Niluh Swati, Pendiri International Art Project (NSIAP)
Saibumi.com(SMSI), Bandar Lampung – Sebanyak 27 perupa Indonesia, dipastikan ambil bagian dalam ajang pameran seni internasional ARTe Kunstmesse Wiesbaden 2026 di Jerman.
Keikutsertaan mereka difasilitasi melalui Niluh Swati International Art Project (NSIAP), sebuah inisiatif yang bertujuan membuka akses lebih luas bagi seniman Tanah Air untuk menembus pasar seni internasional.
BACA JUGA: Polisi Selidiki Komplotan Emak-emak Diduga Gondol Emas Senilai Rp60 Juta di Pasar Cimeng
Pendiri NSIAP, Niluh Swati, mengatakan gagasan membentuk program tersebut berangkat dari pengalaman pribadinya, sebagai seniman Indonesia yang membangun karier di Jerman sejak 2019.
Menurutnya, banyak tantangan yang harus dihadapi seniman Indonesia ketika ingin memasuki ekosistem seni di Eropa, mulai dari membangun jaringan hingga memahami sistem galeri.
"Indonesia memiliki banyak seniman berkualitas, tetapi masih banyak yang kesulitan menembus pasar internasional karena keterbatasan akses, informasi, jaringan, dan biaya. Melalui NSIAP, saya ingin menjadi jembatan yang membuka peluang bagi seniman Indonesia untuk berpameran, membangun relasi, dan berkembang di dunia seni internasional," ujar Niluh, dalam keterangannya Rabu (29/7/2026).
Sebanyak 27 perupa akan berpartisipasi dalam pameran tersebut, yakni I Wayan Mardiana, Doddy "MR D" Hernanto, Fahmi DNR, Arzethian, Putu Arcana, Prassboedhi, Agus Wicaksono, Con, Didik Hamdi, Dodi Darussalam, Achy Askwana, Epot Owl, Hary Nurdianto, Harhari Gustaf, Ifat Futuh, Juan Widhiyanto, Kusswoyo, I Made Sesangka Puja Laksana, Masadjie Noer, Rizal Ramdhani, Restu Adi, Sanher, Sapto Oetomo, Tingga, Yuni Daud, Zulfian Hariyadi, dan Niluh Swati.
Niluh menjelaskan tantangan yang dihadapi bukan sekadar membawa karya seni ke Eropa, tetapi juga mempersiapkan para perupa agar mampu bekerja secara profesional sesuai standar internasional.
Ia menyebut banyak seniman Indonesia telah menghasilkan karya berkualitas tinggi, namun masih memerlukan pendampingan dalam aspek administrasi, seperti penyusunan Certificate of Authenticity, pembuatan invoice profesional, pemahaman kontrak kerja sama, hingga penggunaan tanda tangan elektronik.
"Melalui NSIAP, kami tidak hanya membuka akses pameran, tetapi juga membimbing para seniman agar siap memasuki pasar seni internasional," lanjutnya.
Mengenai respons masyarakat seni di Jerman, Niluh mengaku optimistis. Berdasarkan pengalamannya mengikuti berbagai pameran di negara tersebut, karya-karya seniman Indonesia mendapat sambutan positif karena dinilai memiliki kualitas artistik, identitas budaya, dan cerita yang kuat.
Meski demikian, ia mengatakan respons terhadap pameran NSIAP di ARTe Kunstmesse Wiesbaden 2026 baru akan terlihat setelah pelaksanaan pameran berlangsung. Ia berharap program perdana tersebut mampu membuka peluang kolaborasi baru dengan berbagai pihak di Eropa.
Pameran ini juga terbuka bagi beragam pendekatan seni kontemporer. Namun, NSIAP lebih mengutamakan karya yang memiliki kualitas artistik serta mampu memperkenalkan budaya, nilai, identitas, maupun cerita dari Indonesia kepada masyarakat internasional.
"Kami tidak mengutamakan karya yang bersifat anarkis atau provokatif karena tujuan pameran ini adalah membangun dialog budaya sekaligus menghadirkan citra positif seni Indonesia di tingkat internasional," jelasnya.
Niluh menambahkan, secara formal NSIAP bertindak sebagai sponsor penyelenggaraan pameran tersebut. Program itu juga mendapat dukungan dari sejumlah kolektor seni yang memiliki visi yang sama untuk memperkenalkan karya seniman Indonesia ke pasar global.
Selain itu, dukungan dari galeri dan pelaku seni di Jerman juga dinilai cukup positif. Bahkan, kata Niluh, telah ada beberapa tawaran kerja sama yang akan dibahas lebih lanjut setelah rangkaian pameran NSIAP selesai.
Ia berharap kehadiran NSIAP menjadi langkah awal yang mampu membuka lebih banyak kesempatan bagi seniman Indonesia untuk dikenal di tingkat internasional.
"Saya berharap NSIAP dapat terus menjadi jembatan yang menghubungkan seniman Indonesia dengan galeri, kolektor, dan institusi seni di Eropa," tuturnya.
Di akhir wawancara, Niluh juga berpesan kepada para perupa Indonesia agar terus berkarya tanpa harus menunggu segala sesuatunya sempurna.
"Teruslah berkarya. Jangan menunggu semuanya sempurna atau punya biaya besar untuk mulai. Berkaryalah dengan apa yang ada, lalu terus belajar dan berkembang. Jangan hanya mengandalkan bakat, tetapi bangun juga portofolio, jaringan, dan sikap profesional. Kesempatan akan datang bagi mereka yang konsisten, mau belajar, dan berani mencoba," pungkasnya.
BACA JUGA: Polisi Selidiki Komplotan Emak-emak Diduga Gondol Emas Senilai Rp60 Juta di Pasar Cimeng
merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.
1
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 640
2
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 292
3
Senin, 27/07/2026 - Dibaca : 264
4
Selasa, 28/07/2026 - Dibaca : 233
5
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 196
6
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 185
1
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 17
2
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 14
3
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 14
4
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 11
5
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 10
6
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 10
7
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 9
BERLANGGANAN BERITA