Ilustrasi pabrik tekstil. Foto: Antara
Saibumi.com (SMSI), Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menegaskan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia masih memiliki prospek cerah dan tidak akan menjadi sunset industry. Optimisme ini didasarkan pada data pertumbuhan positif yang dicatat sektor TPT sejak triwulan IV tahun 2024 hingga triwulan II tahun 2025, yakni sebesar 5,39%. Pertumbuhan tersebut turut memberikan kontribusi 0,98% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Pandangan Menperin ini mendapat dukungan dari pelaku industri. Wakil CEO PT Pan Brothers Tbk, Anne Patricia Sutanto, mengakui bahwa pernyataan Agus Gumiwang sesuai dengan kondisi di lapangan. Menurutnya, industri TPT Indonesia masih memiliki potensi besar untuk terus berkembang.
“Saya sudah lebih dari 25 tahun di industri ini dan kami tetap optimistis. Memang terkadang ada tantangan, tapi dengan dukungan pemerintah seperti yang disampaikan Pak Menperin, kami semakin yakin industri ini akan terus tumbuh,” ujar Anne dalam program Investor Market Today di BeritaSatu TV, Senin (27/10/2025), dikutip dari Beritasatu
Anne menambahkan bahwa tanda-tanda kebangkitan industri TPT kini semakin terlihat jelas. Hal ini, katanya, tercermin dari meningkatnya perhatian pasar global terhadap potensi besar industri TPT Indonesia.
“Kami baru saja mengikuti Global Conference di Yogyakarta pekan lalu. Banyak peserta internasional yang melakukan kunjungan pabrik ke Pan Brothers. Ini menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai salah satu pemain penting dalam industri TPT dunia,” ungkapnya.
BACA JUGA: Hakim Tolak Praperadilan Delpedro, Status Tersangka Tetap Sah
Lebih lanjut, Anne menjelaskan bahwa momentum saat ini semakin menguat berkat kerja sama ekonomi komprehensif yang baru ditandatangani Indonesia dengan Uni Eropa dan Kanada. Kesepakatan tersebut membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi produk tekstil Indonesia ke kedua kawasan tersebut.
“Kami berharap seluruh rantai industri TPT, dari hulu hingga hilir, bisa bergerak bersama dan saling memperkuat agar kita dapat tumbuh bersama sekaligus mendukung pemulihan ekonomi nasional,” kata Anne.
Sebelumnya, Menperin Agus Gumiwang juga mengungkapkan bahwa secara global Indonesia menempati posisi lima besar negara dengan efisiensi produksi tekstil tertinggi di dunia.
Pada subsektor pemintalan benang, misalnya, biaya produksi Indonesia hanya sekitar US$ 2,71 per kilogram — lebih efisien dibandingkan India, Tiongkok, dan Turki, serta sebanding dengan Vietnam dan Bangladesh. Sementara di subsektor pertenunan, biaya produksi mencapai US$ 8,84 per meter, termasuk yang paling rendah di dunia. Adapun pada sektor fabric finishing, biayanya hanya sekitar US$ 1,16 per meter, lebih murah daripada mayoritas negara pesaing di kawasan.
“Data ini menunjukkan daya saing global industri tekstil Indonesia yang semakin kuat dan menjadi landasan penting untuk pertumbuhan berkelanjutan di masa depan,” tegas Menperin Agus Gumiwang dalam pernyataan resminya, Minggu (26/10/2025). (GA)
BACA JUGA: Hakim Tolak Praperadilan Delpedro, Status Tersangka Tetap Sah
merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.
1
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 642
2
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 298
3
Senin, 27/07/2026 - Dibaca : 266
4
Selasa, 28/07/2026 - Dibaca : 238
5
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 197
6
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 186
1
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 45
2
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 41
3
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 40
4
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 38
5
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 35
6
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 33
7
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 30
BERLANGGANAN BERITA