Logo Saibumi

Fenomena Aphelion Ramai Diperbincangkan, BMKG: Tidak Perlu Khawatir Secara Berlebihan

Fenomena Aphelion Ramai Diperbincangkan, BMKG: Tidak Perlu Khawatir Secara Berlebihan

Saibumi.com (SMSI), Bandar Lampung -Banyak tersiar kabar di tengah masyarakat ihwal suhu dingin yang terjadi belakangan ini, ditambah lagi pesan berantai yang berisikan seruan/himbauan. Hal tersebut seolah membuat masyarakat semakin panik.

Adapun isi pesan berantai itu sebagai berikut:

BACA JUGA: Rekonsiliasi dan Pemutakhiran Data Laporan Keuangan dan BMN Secara Virtual, Sekjen Berikan 13 Arahan

"Mulai besok Pukul 05.27 wib kita akan mengalami "FENOMENA APHELION" dimana letak bumi akan sangat jauh dr matahari.
Kita tdk bs melihat fenomena tsb, tp kita bs merasakan dampaknya. Ini akan berlangsung sampai bulan Agustus. Kita akan mengalami cuaca yg dingin melebihi cuaca dingin sebelumnya, yg akan berdampak meriang flu ,batuk sesak nafas dll. Oleh karena itu mari kita semua tingkatkan imun dgn banyak2 meminum vitamin atau suplemen agar imun kita kuat. Semoga kita semua selalu ada dlm lindunganNYA Aamiin. Jarak bumi ke matahari perjalanan 5 mnt cahaya atau 90.000.000 km. Fenomena aphelion menjadi 152.000.000 km . 66 % lbh jauh. Jadi hawa lebih dingin, dampaknya ke badan kurang enak karna ga terbiasa dgn suhu ini. Tetap sehat&tetap semangat," tulis pesan siaran

Tak mau membuat keadaan semakin riuh BMKG melaluiDeputi Bidang Meteorologi, Mulyono R. Prabowo, pun angkat bicara

"Informasi tersebut tersebar dengan sangat cepat dan cukup meresahkan masyarakat. Sebenarnya fenomena aphelion ini adalah fenomena astronomis yang terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli. Sementara itu, pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim kemarau. Hal ini menyebabkan seolah aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia," ujar Mulyono pada keterangan resminya

Lebih lanjut ia menyampaikan, faktanya penurunan suhu ini disebabkan kandungan uap di atmosfer cukup sedikit

"Padahal pada faktanya, penurunan suhu di bulan Juli belakangan ini lebih dominan disebabkan karena dalam beberapa hari terakhir di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT kandungan uap di atmosfer cukup sedikit. Hal ini terlihat dari tutupan awan yang tidak signifikan selama beberapa hari terakhir. Secara fisis, uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas. Sehingga, rendahnya kandungan uap di atmosfer ini menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmosfer lapisan dekat permukaan bumi tidak signifikan. Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan," ungkapnya

Kondisi ini bertolak belakang dengan kondisi saat musim hujan atau peralihan dimana kandungan uap air di atmosfer cukup banyak, sehingga atmosfer menjadi semacam "reservoir panas" saat malam hari.

"Selain itu, pada bulan Juli ini wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia semakin signifikan sehingga berimplikasi pada penurunan suhu udara yang cukup signifikan pada malam hari di wilayah Indonesia khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT," tuturnya

Berdasarkan pengamatan BMKG di seluruh wilayah Indonesia selama 1 hingga 5 Juli 2018, suhu udara kurang dari 15 derajat Celsius tercatat di beberapa wilayah yang seluruhnya memang berada di dataran tinggi/kaki gunung seperti Frans Sales Lega (NTT), Wamena (Papua), dan Tretes (Pasuruan), dimana suhu terendah tercatat di Frans Sales Lega (NTT) dengan nilai 12.0 derajat Celsius pada tanggal 4 Juli 2018. Sementara itu untuk wilayah lain di Indonesia selisih suhu terendah selama awal Juli 2018 ini terhadap suhu terendah rata-rata selama 30 hari terakhir ini tidak begitu besar. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena aphelion memiliki pengaruh yang kurang signifikan terhadap penurunan suhu di Indonesia, sehingga diharapkan masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan terhadap informasi yang menyatakan bahwa akan terjadi penurunan suhu ekstrem di Indonesia akibat dari aphelion.(*)

BACA JUGA: Tindak Lanjuti Permohonan, MPD Notaris Bandar Lampung Gelar Rapat Internal

#
>

Saibumi.com

merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA