Suasana kegiatan supercamp literasi yabg diikuti para guru SMKN 1 Ponorogo di Markas Sutejo Spektrum Center (SSC) Ponorogi, Jawa Timur, Selasa (7/7/2036). ANTARA/HO-Dr Sutejo.
Saibumi.com, Surabaya - Dalam "Supercamp Menulis" di SSC Ponorogo, Jawa Timur, (3-4/7/2026) yang diikuti para guru sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri, seorang peserta bertanya, "Bagaimana cara menulis yang baik?"
Spontan, saya menjawab, "Tulislah sesuatu yang dialami. Bermuara dari pengalaman jiwa profesi, perkaya dengan rasa dan hati, sehingga tulisan bernyawa. Tulisan bernyawa jauh lebih berharga daripada sekadar pesan-argumentasi dalam logika dan paradigma belaka."
Para peserta tampak antusias dan menemukan ruang permenungan baru yang selama ini barangkali belum pernah ditemukan. Saya menyebutnya pendekatan menulis ini sebagai "belajar mendalam (deep learning) dalam menulis".
BACA JUGA: Transformasi Koperasi Menjadi Soko Guru Ekonomi Yang Berdaya Saing
Pendekatan belajar mendalam bermuara pada bagaimana peserta tidak saja mengetahui masalah tetapi benar-benar menyadari dan memaknai materi yang dihadapi hingga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena peserta para guru, berdaya guna bagi pembiasaan dan pengembangan profesi keguruannya.
Belajar mendalam sebagaimana kebijakan Kemendikdasmen hakikatnya sebuah proses pembelajaran yang bersandar pada tiga pilar, yakni berkesadaran (mindful learning), bermakna (meaningful learning), dan menggembirakan (joyful learning).
Dalam praktik pelatihan menulis para guru, belajar mendalam akan memberikan eksplorasi pengalaman profesi dalam ekspresi tulisan yang tidak saja berkesadaran tetapi bermakna bagi kehidupan profesi yang dijalani dengan eksploratif dan kreatif.
Model menantang
Dalam praktik belajar mendalam untuk memulai menulis, berikut pengalaman eksploratif menarik berbasis tiga langkah penting yang bisa dimodeli.
Pertama, pentingnya eksplorasi ide dan bahan berbasis pengalaman nyata, apa yang dilihat, didengar, dipikirkan, dan dirasakan. Tahap ini merupakan yang paling penting sebab di sinilah pangkal tulisan “dimasak” via kematangan jiwa dan kecerdasan pikiran.
Kemampuan analisis diperlukan, argumentasi berkualitas data dan fakta, serta bagaimana bahan tulisan mampu menemukan nilai kesadaran agar mampu disuguhkan secara ekspresif, mengalir, berkesadaran, dan bernas. Tulisan bernyawa, sejatinya bermuara dari hal-hal demikian.
Berikut ini adalah contoh eksplorasi proses berkesadaran penulis yang bisa direnungkan.
Ada peserta bertanya, "Mengapa tidak membangun sesuatu yang lebih besar? Mengapa tidak mengejar kedudukan lebih tinggi? Mengapa tidak mendirikan pesantren besar, lembaga pendidikan megah, perusahaan besar, atau menjadi tokoh yang dikenal banyak orang? Kok kita penting membangun budaya dan peradaban melalui tulisan?"
Saya tidak segera menjawab. Sebab, pertanyaan-pertanyaan demikian tidak cukup dijawab dengan logika. Ia harus dijawab oleh perjalanan hidup dan pengalaman yang berkesadaran penuh makna. Perlu dijawab dengan tulus hati, suci jiwa, dan kedalaman rasa.
Kita sering melihat dunia seperti pasar yang riuh, begitu kira-kira jawabannya. Semua orang menjual dirinya: ada yang menjual kecerdasan, menjual kesalehan, ada yang menjual popularitas, dan ada yang menjual penderitaan. Bahkan, yang paradoks: kebaikan pun berubah menjadi komoditas dipamerkan untuk dijualbelikan, diikuti tepuk tangan. Semakin tinggi panggung dibangun, seseorang akan semakin banyak mata memandang.
Saya sering bertanya sendiri: apakah banyak mata yang memandang kehidupan itu benar-benar melihat menggunakan mata jiwa? Pertanyaan ini membuat kita makin menjauh dari keinginan menjadi besar. Kita tidak anti-kebesaran. Cerita tentang pesantren besar, pengusaha besar, pahlawan besar, pemimpin besar, orang besar; sering kali menyimpan sesuatu yang entah rona pelangi tersembunyi berlapis warna.
Hal yang menarik dipikirkan justru kesadaran kita ketika takut kehilangan jiwa kemanusiaan, manakala terlalu mengejar kebesaran. Kita kenal orang berharta melimpah, bekerja keras, dan pantas dihormati. Pengalaman saya menunjukkan, ternyata di sisi paling ekstrem, terdekat dengannya, tak mampu berdamai dengan saudara kandung, bahkan "memakan" kehidupan saudara mereka.
Kita juga kenal sejumlah kiai yang membangun pesantren dengan ribuan santri penimba ilmu. Kita hormati mereka sepenuh hati sebab mereka sedang menjalankan panggilan luhur agama. Tetapi, pikiran dan jiwa sering kali bergejolak kala menyaksikan santri harus berjalan jongkok dan mundur ketika sowan.
Kita terbawa pada bacaan sejarah nabi yang bercerita bagaimana nabi Muhammad berakrab ria di serambi masjid dengan murid-murid yang dipanggil dan diposisikan sebagai sahabat.
Kita teringat Amirul Mukminin, Salman Alfarizi, ketika berpapasan dengan rakyat jelata, pedagang kecil, kemudian Alfarizi hadir membantu memanggulnya hingga ke pasar. Begitulah eksplorasi proses berkesadaran dalam proses menulis yang menarik direnungkan.
Kedua, pentingnya daya ulik-telisik dalam menemukan mutiara makna di balik bahan dan tulisan yang akan diolah dan diekspresikan.
Tugas selanjutnya, menemukan makna kesadaran yang diungkapkan dalam tulisan. Di sini, dibutuhkan kemampuan emosi untuk mewarnai tulisan, sehingga ia benar-benar terasa dibutuhkan pembaca karena memiliki energi makna dan kontekstualitas yang menyertainya. Hanya tulisan berkontekstual dan bermakna yang berdaya sentuh lembut ke dalam jiwa pembaca karena mengandung nilai psikologis-sosial yang kental.
Sejak kecil, misalnya, kita melihat makna kesadaran hidup orang-orang yang tidak pernah masuk berita. Mereka itu, para buruh, petani, pedagang kecil, penggembala kambing, janda yang membesarkan anak-anaknya, mahasiswa putus kuliah, guru honorer yang menahan lapar demi mempertahankan martabat sebagai guru.
Jika kita mau dan mampu menelisik makna dan nilai di balik orang-orang kecil demikian tentu akan menemukan nilai substansial kehidupan yang akan menyadarkan dan mengejutkan. Saya menyebutnya orang-orang demikian sebagai pahlawan kehidupan yang sesungguhnya. Begitulah contoh dari tahap ilustrasi ulikan masalah yang bermakna.
Ketiga, menikmati proses ekspresi tulisan secara kreatif dan menyenangkan. Tahap tak kalah penting adalah kejujuran, eksplorasi, dalam menikmati proses menulis di bingkai ruang penuh diskusi, berbagi, dan saling mengisi dalam merangkai alur pemaknaan tulisan bernas dan punya nafas. Menulis bisa dilakukan dengan rileks dan ngemil, seperti mengunyah makanan.
Pengalaman mendampingi para guru yang belajar menulis, misalnya, kiranya banyak hikmah yang bisa dipetik sebagai contoh pembelajaran yang menyenangkan.
Dari 25 orang hebat, guru kehidupan bagi saya, tiba-tiba terbuka diri, telanjang jiwa tanpa prasangka, dan saling berbagi pengalaman mengajar. Ada yang dilindas keraguan diberikan "ladang ibadah terluas" dengan karunia anak autis. Bukankah anak berkebutuhan khusus hanya dianugerahkan pada orang khusus? Tuhan memilih orang tua brilian itu, karena Allah rindu pada orang sebagai pengejawantah sifat-sifat-Nya.
Ada yang digulung ombak keraguan mengapa harus menjalani menikah dengan pasangan berjauhan. Karena itu, bagi saya, kalian hebat, luar biasa. Ternyata, ada peserta lain yang jauh lebih lama menjalani pernikahan dengan berjauhan lebih dari 25 tahun. Bukankah itu hanya cara Tuhan memuliakan dan meninggikan kualitas cinta kita? Tuhan menakdirkan itu karena Allah tahu bagaimana luas dan tak terhingganya Rahmah dan Rahim-Nya.
Ini hanya beberapa contoh saja dari pengalaman bermakna yang tergali di kegiatan belajar menulis, selebihnya masih ada puluhan makna hidup yang muncul, kemudian mengalir membasahi kesadaran para guru. Mereka berkesadaran untuk menggembalakan pembelajaran bagi anak didiknya dengan penuh cinta tanpa penghakiman.
Akhirnya, jika tiga tahap deep learning dalam menulis ini rutin dipraktikkan para guru, kelak kita bisa menemukan bagaimana kecakapan hidup peserta didik akan lesap dengan sendirinya dalam kehidupan mereka. Sebab, para guru telah menjadi contoh abadi yang akan menjadi afirmasi positif dalam kehidupan mereka untuk menyongsong era Generasi Indonesia Emas 2045.
*) Dr Sutejo, alumnus S3 kajian sastra Unesa Surabaya, penggerak literasi, dan dosen di LLDIKTI 7 Jawa Timur (SB05)
BACA JUGA: Transformasi Koperasi Menjadi Soko Guru Ekonomi Yang Berdaya Saing
merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.
1
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 639
2
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 289
3
Senin, 27/07/2026 - Dibaca : 263
4
Selasa, 28/07/2026 - Dibaca : 231
5
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 195
6
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 183
BERLANGGANAN BERITA