Menteri Investasi dan Hilirisasi / Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Roeslani (Sumber Foto: Tempo/M Taufan Rengganis)
Saibumi.com (SMSI), Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara berencana menempatkan sebagian dananya pada Surat Berharga Negara (SBN) sebelum dialirkan ke berbagai sektor penggerak ekonomi nasional.
Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani menilai langkah tersebut merupakan strategi yang lazim dilakukan oleh sovereign wealth fund (SWF) di berbagai negara.
“Temasek di Singapura, Kuwait Investment Authority, sampai Abu Dhabi Investment Authority juga memulai investasinya di instrumen publik seperti obligasi dan saham sebelum masuk ke proyek sektor riil,” ujar Ajib dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (20/10/2025), dikutip dari beritasatu.com
Menurutnya, pendekatan ini umum dilakukan pada masa awal pembentukan dana atau ramp-up period, sambil menunggu hasil kajian kelayakan dan koordinasi proyek strategis yang akan dibiayai. Ia menegaskan, publik kerap keliru dengan menganggap dana besar bisa langsung digelontorkan untuk proyek besar.
“Pembangunan PLTA saja bisa memakan waktu enam tahun untuk konstruksi dan sekitar 10 tahun agar mencapai titik impas. Kalau seluruh dana langsung dikucurkan, justru risikonya tinggi,” jelasnya.
Ajib menegaskan, pembelian SBN bukan penyimpangan, melainkan bagian dari tahapan normal SWF dalam membangun portofolio dan tata kelola investasi jangka panjang. Menurutnya, selama masa transisi, penempatan dana di SBN dapat menjaga likuiditas sekaligus memastikan uang negara tetap berputar di dalam sistem keuangan nasional.
“Langkah ini juga menyeimbangkan porsi investasi publik dan swasta. Dalam konteks Danantara, instrumen seperti SBN yang likuid dan berdenominasi rupiah dipilih untuk menjaga nilai modal negara tanpa mengambil risiko yang belum terukur. Ini langkah jangka pendek untuk memastikan kemampuan jangka panjang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ajib menyebutkan bahwa porsi investasi pada pasar publik tidak akan hilang sepenuhnya, meski akan berkurang seiring meningkatnya investasi langsung ke proyek-proyek strategis.
“SWF besar seperti Norges, GIC, dan Temasek juga tetap mempertahankan sebagian portofolio mereka di pasar publik sebagai jangkar likuiditas dan diversifikasi risiko,” katanya.
Ajib menambahkan, setiap SWF memiliki karakter dan tujuan berbeda—ada yang berorientasi menjaga nilai aset, sementara lainnya fokus pada pembiayaan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai kritik terhadap Danantara seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman publik terkait peran dan mekanisme kerja SWF.
“SWF bukan lembaga pencari keuntungan cepat. Mereka bertugas menjaga aset negara lintas generasi. Mandat Danantara tetap sama: mendukung industrialisasi dan memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Tapi untuk mencapainya, dibutuhkan waktu dan proses yang matang, dan itu sedang dijalankan saat ini,” pungkas Ajib. (GA)
BACA JUGA: SMARTFREN Perluas Jaringan 3X Lebih Luas di Batam, Gelar Ajang SMARTFREN Fun Run 2025
merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.
1
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 653
2
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 305
3
Senin, 27/07/2026 - Dibaca : 267
4
Selasa, 28/07/2026 - Dibaca : 242
5
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 203
6
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 192
1
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 99
2
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 62
3
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 58
4
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 58
5
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 55
6
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 53
7
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 50
BERLANGGANAN BERITA