Saibumi.com (SMSI), Bandar Lampung – Tayangan di salah satu program televisi nasional yang menyoroti budaya pemberian amplop di kalangan pesantren menuai reaksi keras dari kalangan santri dan pengurus pondok pesantren di Lampung. Mereka menilai, pemberitaan tersebut menyesatkan dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap kultur pesantren yang selama ini berakar kuat di masyarakat Indonesia.
Muhammad Rijah Majdidin, M.H., salah satu pengurus pondok pesantren Madarijul' Ulum di Lampung, menegaskan bahwa tradisi memberi kepada kiai bukanlah bentuk paksaan atau kewajiban, melainkan ungkapan ketulusan dan rasa hormat dari santri kepada guru.
"Budaya ini sudah berjalan lama, lahir dari kecintaan santri terhadap kiai. Tidak ada keharusan siapa pun untuk memberi, ini murni ekspresi penghormatan murid kepada gurunya,” ujarnya, Jumat (17/10/2025).
Menurutnya, penghormatan semacam itu juga tidak hanya terjadi di pesantren, melainkan menjadi nilai universal antara murid dan guru di berbagai tempat. Namun, pemberitaan yang muncul di televisi dinilai justru menggiring opini negatif terhadap pesantren dan menimbulkan kecurigaan seolah budaya tersebut identik dengan feodalisme.
"Yang perlu dilihat justru, kenapa isu seperti ini digoreng? Apakah ada upaya untuk merusak tradisi keagamaan yang sudah mengakar kuat di Indonesia?” tambahnya.
BACA JUGA: CMSE 2025 Usung Tema Pasar Modal untuk Rakyat, Satu Pasar Berjuta Peluang
Rijah juga menilai tayangan tersebut berpotensi memperkuat sentimen negatif terhadap pesantren dan ulama. Bahkan, ia mencurigai munculnya gerakan yang ingin memisahkan masyarakat dari tradisi Islam khas Indonesia yang moderat.
Ia menjelaskan, secara faktual justru pesantren lebih banyak memberi ketimbang menerima. Banyak santri yang tidak mampu tetap ditanggung oleh pondok.
"SPP 100 persen masuk itu jarang. Tapi santri yang tidak bayar tetap makan, bajunya tetap dilaundry, tetap diurus. Justru kiai dan ustaz yang banyak berkorban. Di banyak pesantren, guru tidak mendapat upah pasti, mereka mengajar karena keikhlasan,” ungkapnya.
Menanggapi adanya aksi santri di Lampung yang sempat menggelar protes di Mapolda, Rijah menyebut hal itu merupakan bentuk kekecewaan yang wajar.
"Video itu jelas melukai hati santri. Orang yang tidak paham pesantren jadi salah paham, bahkan makin menjauh. Padahal yang terjadi tidak seperti yang digambarkan di tayangan itu,” katanya.
Rijjah menegaskan, hubungan santri dan kiai di pesantren didasari nilai khidmah—pengabdian tulus yang diyakini membawa keberkahan ilmu dan kehidupan.
"Kalau feodal itu muncul karena pamrih, karena ingin jabatan atau keuntungan. Tapi khidmah santri lahir dari cinta dan ketulusan. Itu yang membedakan pesantren dengan budaya feodalisme,” pungkasnya. (GA)
BACA JUGA: CMSE 2025 Usung Tema Pasar Modal untuk Rakyat, Satu Pasar Berjuta Peluang
merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.
1
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 644
2
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 299
3
Senin, 27/07/2026 - Dibaca : 266
4
Selasa, 28/07/2026 - Dibaca : 241
5
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 199
6
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 188
1
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 63
2
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 50
3
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 50
4
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 46
5
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 45
6
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 43
7
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 41
BERLANGGANAN BERITA