Logo Saibumi

Fenomena Thrifting Sebagai Pemicu Budaya Konsumtif

Fenomena Thrifting Sebagai Pemicu Budaya Konsumtif

Foto: Istimewa

Saibumi.com (SMSI), Trend thrifting masih menjadi salah satu fenomena yang digandrungi kalangan masyarakat khususnya anak muda. Biasanya, para penjual berjualan di kios, pinggir jalan, bahkan online shop.

 

Namun, ternyata banyak kalangan yang masih belum mengerti apa itu thrifting. Di sini akan dibagikan beberapa hal tentang thrifting dan sedikit pengalaman pribadi. Simak penjelasan berikut!

BACA JUGA: Prospek Cuaca 3 Hari Kedepan, Provinsi Lampung Diperkirakan Hujan Lebat

 

Apa Itu Thrifting?

Thrifting merupakan tindakan membeli barang bekas yang layak dipakai dengan keadaan baik dan berkualitas yang murah harganya. Menurut kamus Inggris-Indonesia, thrifting memiliki arti penghematan. Thrifting tidak hanya identik pada pakaian, namun merujuk pada barang bekas seperti peralatan rumah tangga, alat elektronik, dan barang-barang yang dinilai masih layak untuk dipakai. Barang-barang thrift shop tersebut biasa didapatkan dari toko-toko branded yang memiliki barang reject dari dalam maupun luar negeri. Tentunya harga yang ditawarkan lebih murah dibanding dengan harga pasaran aslinya.

 

Alasan Bisa Nge-hits?

Dengan banyaknya pengincar thrift, muncul sebuah pertanyaan, sebenarnya apa alasan anak muda menyukai thrifting?

 

Pertama, harga ramah dikantong

Mendapat harga yang murah tentunya menarik perhatian anak-anak muda. Kapan lagi anak muda tetap stylish dan tampil kece dengan modal yang terjangkau. Selain murah, thrift shop juga bisa ditawar sesuai kantong mereka.

 

Kedua, unik dan jarang

Terkadang terasa menyebalkan jika tiba-tiba di jalan bertemu sama orang yang memakai pakaian yang sama model dan desainnya. Dengan thrifting, para anak muda bisa menemukan barang yang unik dan jarang untuk ditemukan. 

Selain itu, mengeksplorasi thrift shop membuka kemungkinan untuk menemukan ‘hidden gem’ atau barang dengan edisi 

 

Perspektif Pembeli

Membeli barang bekas sendiri memang terkadang dipandang sebelah mata karena terkesan tidak mampu, namun ternyata ada kepuasan tersendiri untuk bisa memiliki sebuah barang dengan harga yang lebih murah dari pasarannya. Bagaimana antusias masyarakat tidak meningkat, jika baju bermerek yang harganya mencapai jutaan rupiah tersebut bisa didapatkan dengan harga yang jauh lebih murah. Sebagai seorang penyuka style kekinian, pasti suka jika mampu belanja dengan underprice.

 

Namun ternyata, dengan adanya fenomena thrifting itu, bisa membuat konsumen menjadi konsumtif. Bagaimana bisa? Begini, seringkali orang dikelabui oleh penjual, mungkin harganya murah, penjual membuat iming-iming untuk sekaligus membeli banyak. Jadi meskipun harganya murah tapi barang yang dibeli banyak, tidak akan terasa jika dompet menangis.

 

Sebagai penutup, melihat banyaknya thrift shop yang bermunculan, tentunya memberikan dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia. Salah satunya yaitu menurunkan daya beli masyarakat terhadap pemakaian produk dalam negeri. Oleh sebab itu, jangan tergiur oleh harga underprice.

 

Sehingga menggiatkan kegiatan perekonomian masyarakat.

 

Nah, oleh sebab itu, bijak-bijaklah saat berbelanja, jangan mentang-mentang murah lalu terkecoh untuk membeli banyak. Apa mungkin readers salah satu dari mereka yang konsumtif?

 

 

Artikel ini ditulis oleh: Tinandar Priyatama dan Agus Dwi Cahya (UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA)

 

 

 

 

BACA JUGA: Prospek Cuaca 3 Hari Kedepan, Provinsi Lampung Diperkirakan Hujan Lebat

Saibumi.com

merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA