Logo Saibumi

Vaksin Nusantara Ternyata Memang Bikin Sehat dan Kuat

Vaksin Nusantara Ternyata Memang Bikin Sehat dan Kuat

Saibumi.com (SMSI) - Berbagai pengalaman menceritakan tentang relawan Vaksin Nusantara pasca menerima vaksin dari dokter Terawan. 

 

BACA JUGA: Supir Truk di Lampung: Kami Pilih Erick Thohir Jadi Presiden, Jika Kelangkaan Solar Cepat Diatasi

Seperti halnya Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang membuat pulih kembali. Begitu juga dengan seorang pengusaha Antoni Budi yang merasa semakin sehat dan kuat pasca-Vaknus.

 

Pendeta Daud Toni tidak pernah terbuka sering melakukan perjalanan ke berbagai kota untuk pelayanan ibadah, bahkan beberapa kali berdoa untuk umatnya yang terkena dampak Corona.

 

Selain pengalaman saya sendiri yang memiliki hobi mendaki ke berbagai gunung baik dalam maupun luar negeri, namun sudah sekitar 4 tahun tidak dapat melakukan aktifitas ekstrim ini. Baru tanggal 26 hingga 29 Januari lalu mendaki gunung tertinggi di Sulawesi, Gunung Latimojong 3478 Mdpl. selamat 4 hari 3 malam.

 

Keputusan ikut mendaki saya ambil hanya dalam waktu 10 hari sebelum hari H. Sehingga sekitar praktis waktu yang dimiliki sangat minim untuk mempersiapkan diri. 

 

Olahraga dilakukan hanya jalan cepat mengitari Gelora Bung Karno (GBK) bersama teman-teman dari PWI Jaya. Dalam tempo 1 jam saya ternyata mampu mengitari 6 kali Gelora Bung Karno padahal bisa lebih dari itu. Maklum sejak pandemi tidak pernah sekalipun melakukan olahraga sehingga tidak dapat maksimal ketika mengitari GBK.

 

Selain jalan cepat di GBK, ketika di rumah mencoba melakukan olahraga naik turun tangga. Itu pun tidak lama, hanya sekitar 15 menit saja.

 

Singkat cerita, dengan modal semangat dan nekat, perjalanan menggapai puncak gunung tertinggi di Sulawesi dari titik awal pendakian atau base camp berhasil ditempuh kurang lebih 17 jam melalui jalan terjal berliku dan naik turun hingga merayapi dinding tebing curam. 

 

Perjalanan 17 jam tentu diselingi istirahat tidur di tenda karena hari sudah malam. Saat melakukan summit atack saya yang ditemani 2 wartawati dari PWI Jaya, Yanni Krishnayanni dan Onaria Fransisca kesiangan bangun sehingga rencana semula akan muncak pukul 5 pagi tertunda menjadi pukul 11.30.

 

Akibatnya kami tiba di puncak Latimojong sekitar pukul 18.00 setelah melewati Pos VI dan Pos VII. Mendekati puncak kami diguyur hujan lebat dan tiupan angin kencang.

 

Di puncak kami tidak dapat berlama-lama karena cuaca ektrim dan hari sudah mulai gelap. Sambil berhujan-hujan ria di tengah kegelapan malam, waktu yang ditempuh mulai dari puncak hingga turun ke Pos V menjadi 6 jam lebih.

 

Usai bermalam di Camp V, siangnya kami turun menuju ke Base Camp titik awal pendakian. Saya sendiri membutuhkan waktu sekitar 13 jam untuk turun, lebih lama 2 jam dari Yanni Krishnayanni dan Onaria Fransisca yang turun terlebih dahulu. Mereka dipersilahkan duluan turun agar cepat sampai sementara saya didampingi 2 orang porter.

 

Yanni dan Onaria fisiknya lebih baik karena mereka setiap hari selalu olahraga rutin, dan bulan lalu mereka berdua baru saja mendaki Gunung Bukit Raya di Kalimantan Tengah selama 5 hari. Rute Bukit Raya katanya lebih ekstrim dari Latimojong.

 

Yang heran dan tidak habis pikir, kondisi lutut, kaki serta fisik saya tetap prima kendati sepatu dan celana basah selama berjam-jam. Logikanya, dengan usia hampir 55 tahun dan kondisi fisik yang tidak pernah latihan bertahun-tahun, ditambah berjalan dijalanan terjal serta berliku-liku, pasti semua badan akan merasa sangat letih dan mengalami sakit di persendian terutama pada lutut, pergelangan kaki, paha, saat naik maupun turun gunung.

 

Hari Minggu malam (30/1), saya tiba di Jakarta usai mendaki Latimojong, Seninnya langsung melakukan aktifitas seperti biasa hingga malam, tanpa ada keluhan berarti.

 

Saya baru menyadari, setelah anak pertama kami mengingatkan bahwa sejak menerima Vaksin Nusantara beberapa bulan lalu, kondisi fisik saya semakin bagus dan tidak pernah sakit.

 

Jadi apa yang dikatakan Profesor Terawan bukanlah isapan jempol. Dengan Vaksin Nusantara membuat tubuh kita semakin sehat dan kuat menjadi terbukti, hal ini berdasarkan apa yang saya alami, begitu juga Mantan Menkes Siti Fadila Supari, Antoni Budi, Pendeta Daud Toni dan mungkin pengalaman para relawan lainnya yang belum terungkap.

 

Semoga Vaksin Nusantara karya anak bangsa ini dapat segera diijinkan sebagai salah satu vaksin booster sehingga dapat membuat seluruh bangsa Indonesia menjadi sehat dan kuat.

 

Jika ada yang meragukan Vaknus dapat diproduksi masal, maka salah satu Peneliti Utama Tim Vaknus Kolonel (CKM) dr Jonny mengatakan bahwa persiapan dapat menyiapkan alat cara mudah pembuatan Vaknus, yang siap dibagikan ke seluruh laboratorium yang tersebar di seluruh nusantara.

 

Mengingat pengalaman yang luar biasa di Latimojong, saya yakin Vaksin Nusantara yang hanya sekali suntik untuk seumur hidup ini dapat memutus rantai pandemi serta dapat menjadikan bangsa Indonesia sehat dan kuat. Dan tentunya dapat menjadi sumber devisa besar bagi negara.

 

 

 

Dar Edi Yoga

Pendaki Gunung

Praktisi Media

BACA JUGA: Pengamat Kebijakan Dari Media Donny Irawan : Pemecatan dr.Terawan Oleh IDI Arogansi dan Tendensius

>

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA