Logo Saibumi

Menjaga Ekonomi di tengah Pandemi Covid-19

Menjaga Ekonomi di tengah Pandemi Covid-19

Saibumi.com (SMSI), Kontraksi ekonomi diakibatkan pandemi Covid-19, yang ditambah dengan situasi geopolitik dunia yang terjadi pada kuartal II-2020 ini, mengakibatkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebagian besar negara di dunia menyusut. Perang dagang yang masih terjadit antara Amerika Serikat dan Tiongkok, pergolakan antara Tiongkok terhadap wilayah Hong Kong semakin memberikan tantangan perbaikan ekonomi kedepannya. Disamping  itu, pembukaan kembali ekonomi yang mulai dilaksanakan sejalan dengan stimulus berskala besar, memancing anggapan positif pasar keuangan dan harga komoditas dan juga aliran modal menuju emerging market. Walaupun  demikian, perbaikan ekonomi masih sepenuhnya belum pasti, contohnya saja masih dibayangi oleh  adanya second wave.

 

Berikutnya, pelemahan ekonomi domestik menuju skenario yang lebih berat harus  perlu diwaspadai, sebagai dampak  laju penyebaran Covid-19 yang sangat tinggi dan aktivitas perekonomian masyarakat yang mengalami hambatan dan perlambatan, dengan diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa wilayah. Sementara itu, pasar keuangan domestik mulai membaik dan masih cukup terjaga, tetapi masih relatif fluktuatif. Keberhasilan penanganan Covid-19 yang dilaksanakan secara optimal dan komprehensif, menjadi alasan penentu agar menahan perlambatan ekonomi sebelum lebaran serta akibat terhadap penerimaan pajak. tanggapan kebijakan fiskal domestik melewati program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yaitu upaya Pemerintah untuk menggerakkan perekonomian, mempertahankan, melindungi dan meningkatkan kemampuan ekonomi pelaku umkm, baik di sektor keuangan maupun sektor riil, termasuk kelompok usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Hal tersebut disampaikan pada publikasi APBN Kita edisi Juni 2020.

BACA JUGA: Pengguna BBM Cerdas Harus Tahu, Ini Dia Perbedaan Dexlite dan Pertamina Dex

 

Progres Stimulus Fiskal Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Pemerintah sudah mengerahkan tambahan belanja stimulus untuk penanganan Covid-19 baik untuk kesehatan, pemulihan ekonomi nasional, dan jaring pengaman sosial. Secara umum, program penanganan Covid-19 masih menghadapi kesulitan, yaitu dari sisi regulasi, implementasi maupun administrasi di lapangan. walaupun demikian, mengingat stimulus ini merupakan awal dan agar mendorong akselerasi eksekusi dan juga mendorong efektivitas program harus terus diusahakan. Dalam bidang kesehatan, Pemerintah sudah mengerahkan insentif dan santunan tenaga medis, pelayanan kesehatan untuk pasien rawat inap Covid-19 dan juga penyediaan sarana prasarana di Rumah Sakit rujukan. disamping itu, dana tambahan belanja dipakai pula untuk program pencegahan/pengendalian Covid-19, pelayanan laboratorium, alat kesehatan dan kefarmasian, serta pengelolaan limbah medis dan penyebarluasan informasi terkait kesehatan. Berikutnya , pada rangka penyediaan Jaring Pengaman Sosial (Social Safety Net), Pemerintah sudah merealisasikan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) sebesar Rp19,1 triliun, kartu sembako sebesar Rp17,2 triliun, kartu prakerja sebesar Rp2,4 triliun, bansos sembako sebesar Rp1,4 triliun, dan bansos tunai sebesar Rp11,5 triliun.

 

Menjaga Keberlanjutan Fiskal di tengah Ketidakpastian Kondisi Global Maupun Domestik

Keberlanjutan fiskal di tahun 2020 diharap bisa tetap terjaga. Realisasi defisit APBN hingga Mei 2020 mencapai Rp179,62 triliun atau sekitar 1,07 persen PDB. Disamping itu, balance primer hingga Mei 2020 berada di posisi negatif Rp33,92 triliun. Realisasi biaya anggaran sampai Mei 2020 menginjak Rp356,05 triliun, sumber utamanya berasal  dari biaya utang sebesar Rp360,66 triliun. Keadaan pasar SBN masa Mei ini memberikan angin segar di tengah pandemi. Tren incoming bid perlahan naik kembali sejak akhir April sampai lelang terakhir, terutama untuk lelang SUN semenjak penurunan yang cukup signifikan karena pengaruh Covid-19 pada bulan Maret. Pelonggaran lockdown serta mulai kembalinya aktivitas perekonomian pada berbagai negara maju, ikut menggiring pandangan  positif  terhadap pasar dan memberikan optimisme investor agar kembali masuk ke aset pendapatan tetap sampai aset berisiko. Hal tersebuti berakibat pada kembalinya arus modal asing ke Tanah Air serta penurunan tingkat imbal hasil (yield) yang menjadi acuan pasar. Yield SBN domestik 10 tahun di pasar sekunder mulai turun, saat ini telah mendekati posisi yield di awal tahun 2020. Begitu juga perkembangan yield SBN Valas tenor 10 tahun membaik dan turun 11,9 persen dibandingkan awal tahun. Hal tersebut sejalan dengan mulai masuknya kembali investor asing ke pasar  di bulan Mei dan Juni 2022. Penulis : Farikhah, Handayani, Setiawan. Priyatama, Fauzi dan Kurniawan
(Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta)

BACA JUGA: Pengguna BBM Cerdas Harus Tahu, Ini Dia Perbedaan Dexlite dan Pertamina Dex

Saibumi.com

merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA