Foto ilustrasi/Dok.Saibumi.com
Saibumi.com(SMSI), Jakarta – Penurunan harga minyak mentah dunia ke kisaran US$70 per barel belum serta-merta diikuti dengan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik karena harga Pertamax masih bertahan di angka Rp16.250 per liter.
Meski harga minyak global melemah, penetapan harga BBM nonsubsidi di Indonesia tidak dilakukan berdasarkan pergerakan harga harian.
Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) menggunakan mekanisme evaluasi tertentu dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk rata-rata harga minyak dalam periode tertentu.
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, menjelaskan bahwa perubahan harga BBM nonsubsidi tidak dilakukan secara otomatis setiap kali harga minyak dunia mengalami penurunan.
Menurutnya, pemerintah bersama DPR selama ini menggunakan rata-rata harga minyak mentah dunia dalam periode tiga bulan sebagai dasar evaluasi penyesuaian harga BBM.
"Terkait penyesuaian harga BBM, menurut saya kemungkinan baru bisa dihitung pada bulan depan," ujar Said Abdullah kepada wartawan di Kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta, dilansir Beritasatu.com, Rabu (17/6/2026).
Politikus PDI Perjuangan itu menambahkan, mekanisme tersebut diterapkan agar kebijakan harga BBM tidak terlalu dipengaruhi fluktuasi harga minyak yang bersifat jangka pendek.
"Biasanya pemerintah dan DPR menggunakan rata-rata harga dalam periode tiga bulanan," lanjutnya.
Said menilai penyesuaian harga yang dilakukan terlalu cepat justru berpotensi menimbulkan ketidakpastian. Pasalnya, harga minyak dunia masih sangat dinamis dan dapat berubah dalam waktu singkat.
"Kalau hari ini harga minyak turun lalu langsung menurunkan harga BBM, kemudian besok harga naik lagi dan harus dinaikkan kembali, tentu akan merepotkan masyarakat maupun pelaku usaha," tegasnya.
Sementara itu, Ekonom Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai keputusan Pertamina mempertahankan harga Pertamax merupakan langkah yang sejalan dengan formula penetapan harga yang selama ini diterapkan.
Ia menjelaskan Pertamina menerapkan strategi price smoothing atau penghalusan harga, yakni kebijakan yang membuat harga BBM tidak selalu langsung mengikuti kenaikan maupun penurunan harga minyak mentah dunia.
Menurut Yayan, saat harga Pertamax dinaikkan menjadi Rp16.250 per liter pada Juni lalu, harga tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang seharusnya berdasarkan formula karena harga produk BBM di pasar internasional saat itu sedang tinggi.
"Ketika Pertamax dinaikkan menjadi Rp16.250 pada Juni lalu, harga tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang disiratkan formula karena harga produk BBM dunia saat itu sedang sangat tinggi. Pertamina menyerap kerugian ketika itu, sehingga saat harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya," ujar Yayan dikutip dari Antara, Rabu (7/7/2026).
Dengan demikian, turunnya harga minyak mentah dunia belum tentu langsung berdampak pada harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.
Selain mempertimbangkan rata-rata harga minyak selama beberapa bulan, pemerintah dan Pertamina juga memperhitungkan stabilitas harga agar tidak terjadi perubahan yang terlalu sering, sehingga memberikan kepastian bagi masyarakat maupun dunia usaha.
merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.
1
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 640
2
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 292
3
Senin, 27/07/2026 - Dibaca : 264
4
Selasa, 28/07/2026 - Dibaca : 233
5
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 196
6
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 185
1
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 19
2
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 16
3
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 15
4
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 13
5
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 12
6
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 12
7
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 11
BERLANGGANAN BERITA