Desa Gebang, Pesawaran — 13 Agustus 2025 Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Institut Teknologi Sumatera (Itera) menggelar program IoT-Based Smart Mangrove Tourism di Desa Gebang, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran. Program yang didanai hibah BIMA Kemendiktisaintek ini menggabungkan konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan wisata melalui teknologi Internet of Things (IoT).
Kegiatan ini diketuai oleh Dr. Winati Nurhayu, S.Si. (Program Studi Biologi, Fakultas Sains) bersama Nurul Adhha, S.S.I., M.A. (Program Studi Biologi, Fakultas Sains) dan Rahmattullah Harianja, S.T.Par., M.M.Par. (Program Pariwisata, Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan).
Dalam sambutannya, Dr. Winati menekankan pentingnya hutan mangrove bagi masa depan Desa Gebang.
BACA JUGA: 98 Pesilat Ikuti Seleksi PON Bela Diri
“Mangrove menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting yang penting bagi mata pencaharian nelayan, melindungi garis pantai dari abrasi, menahan dan memecah energi gelombang sehingga mengurangi risiko kerusakan akibat ombak besar, menyaring polutan agar kualitas air tetap terjaga, sekaligus menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar yang membantu mengurangi dampak pemanasan global,,” jelasnya.
Nurul Adhha menambahkan, penguatan promosi menjadi kunci peningkatan kunjungan wisatawan.
“Promosi ini harus menjadi gerakan bersama warga Desa Gebang, bukan hanya tugas Kelompok Pelestari Mangrove Petengoran,” ujarnya.
Inovasi utama program ini adalah pemasangan perangkat IoT untuk memantau kualitas lingkungan mangrove, khususnya air laut sebagai habitat utama. Perangkat dilengkapi sensor suhu, pH, kekeruhan (turbidity), oksigen terlarut (dissolved oxygen), dan konduktivitas elektrik (electrical conductivity) yang memantau kondisi secara otomatis dan real-time. Data dapat diakses langsung melalui ponsel pintar pengelola, sehingga memudahkan pengawasan dan menjadi basis penting bagi pengelolaan mangrove di masa mendatang.
Setelah sesi sosialisasi, tim PkM melakukan survei langsung ke hutan mangrove untuk menentukan titik strategis pemasangan alat. Titik ini dipilih berdasarkan kondisi lingkungan dan aksesibilitas, sehingga alat dapat berfungsi optimal sekaligus aman dari potensi kerusakan.
Menurut Dr. Winati, penerapan teknologi ini menjadi pembeda Mangrove Petengoran dari kawasan mangrove lain di Indonesia.
“Wisatawan akan melihat bahwa Mangrove Petengoran dikelola secara berkelanjutan dengan dukungan akademisi. Pendekatan ini menjadi nilai tambah dalam promosi ekowisata, karena memastikan kegiatan wisata berlangsung secara bertanggung jawab dan berkelanjutan,” katanya.
Program ini melanjutkan kegiatan pembuka pada Januari 2025, ketika Prof. Ho Sang Kang dari Seoul National University bersama 30 mahasiswa Korea—difasilitasi oleh Pusat Riset Hayati Berkelanjutan LPPM Itera—mengunjungi Mangrove Petengoran dan mengapresiasi keanekaragaman hayati di lokasi tersebut.
Meski memiliki potensi besar, pengembangan wisata Mangrove Petengoran masih menghadapi tantangan, terutama akses jalan yang rusak dan jembatan tracking yang memerlukan perbaikan. Dengan sinergi teknologi, pemberdayaan, dan keterlibatan masyarakat, diharapkan Mangrove Petengoran dapat berkembang menjadi destinasi ekowisata cerdas dan berkelanjutan yang bermanfaat bagi lingkungan dan perekonomian lokal.
merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.
1
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 640
2
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 292
3
Senin, 27/07/2026 - Dibaca : 264
4
Selasa, 28/07/2026 - Dibaca : 233
5
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 196
6
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 185
1
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 20
2
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 16
3
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 15
4
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 13
5
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 12
6
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 12
7
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 11
BERLANGGANAN BERITA