Banjir di Perumahan Bumi Arinda Permai, Pematang Wangi Kecamatan Tanjung Senang Kota Bandar Lampung pada Sabtu 22-23 Febuari 2025. Foto : Dok Saibumi.com
Saibumi.com (SMSI), Bandar Lampung - Persoalan Banjir di Kota Tapis Berseri masih menjadi permasalahan yang belum terselesaikan hingga saat ini. Bahkan terus meluas ke daerah yang sebelumnya tidak ada catatan riwayat banjir justru terjadi banjir bahkan hingga ke jalanan dan mengganggu lalu lintas. Lantas mengapa semua ini terjadi ??
Berdasarkan berbagai analisa dan pengamatan penulis, terlihat bahwa luapan air banjir terjadi pada drainase maupun berbagai Sungai di kota Bandar Lampung. Dari temuan di lapangan juga menunjukan bahwa aliran air hujan yang seharusnya mengalir ke tempat penampungan tumpah ke permukiman warga karena tidak mampu menampung debit air yang datang. Hal demikian menunjukkan bahwa infrastruktur kota ini dalam keadaan kritis.
Banyak dari saluran drainase mengalami kerusakan sehingga tidak mengalirkan air limpasan dengan lancar sesuai fungsinya. Selain itu, penumpukan sedimentasi di aliran air menumpuk di dasar saluran sehingga air tidak mengalir dengan optimal.

Sedimen ini terjadi karena limpasan permukaan yang membawa butiran tanah cukup banyak. Penyebab lainnya dan yang utama menjadi penyebab banyaknya sedimen pada dasar saluran adalah aktivitas manusia dan ketidakpedulian masyarakat.
Salah satu contoh kasus pada Pembangunan Gedung atau permukiman, sering kali pemilik pekerjaan tidak mengindahkan saluran drainase yang ada, dengan tetap menumpuk material batu dan pasir di sekitar saluran bahkan diatas drainase,
Tentu hal tersebut akan menyebabkan pasir ataupun material lain berjatuhan ke saluran, terlebih lagi saat terjadi hujan akan semakin banyak butiran pasir yang memenuhi drainase. Penumpukan sedimentasi pada aliran air ini lah yang menyebabkan ketidak optimalan fungsi dari pada infrastruktur saluran sebagai tempat pengairan limpasan air.
Kejadian seperti ini terjadi di banyak tempat seiring banyaknya Pembangunan wilayah perkotaan. Akumulasi waktu dan volume dari kejadian ini yang mengganggu sistem saluran drainase.
Hal tersebut diperparah dengan ketidakpedulian masyarakat untuk pembersihan dan juga pemerintah dalam memerhatikan perawatan infrastruktur saluran drainase dari sedimen dan berbagai material secara berkala.
Selain itu, banyak juga saluran drainase yang rusak dan tidak berfungsi optimal, seperti tersumbatnya inlet di sisi jalan yang harusnya mengalirkan air limpasan ke saluran dipenuhi dedaunan atau sampah, banyak sekali saluran drainase yang rusak akibat aktivitas parkir liar maupun pembangunan di sekitar aliran.
Dalam hal penyelesaian, Pemerintah dan juga masyarakat harus bekerja sama dalam upaya pencegahan banjir di Kota Bandar Lampung dengan pendekatan yang komprehensif.
Peran penting Pemerintah dalam hal ini, perlu meningkatkan infrastruktur drainase dengan memastikan saluran-saluran yang rusak untuk segera diperbaiki dan meningkatkan kapasitas drainase dengan cara diperbesar sesuai dengan kebutuhan urbanisasi.

Program rutin pengerukan sedimen dan pembersihan saluran drainase harus dijalankan secara berkala agar tidak terjadi penyumbatan akibat akumulasi material sedimen dan sampah.
Pemerintah juga perlu memperketan fungsi pengawasannya terhadap pembangunan gedung dan rumah dengan memastikan bahwa para pemilik proyek konstruksi tidak menyebabkan kerusakan lingkungan seperti halnya menumpuk material di atas atau di sekitar drainase yang dapat menyebabkan pasir dan tanah masuk ke dalam saluran saat hujan.
Penerapan sanksi bagi pelanggar juga dianggap penting terhadap siapapun yang mengganggu fungsi drainase dengan pendekatan pemberitahuan dan langkah penindakan agak ada efek jera dan kepatuhan terhadap aturan.
Sementara, masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan drainase dengan tidak membuang sampah sembarangan serta melakukan kerja bakti secara berkala untuk membersihkan saluran air di sekitar tempat tinggal mereka.
Kesadaran akan pentingnya sistem drainase yang bersih harus ditanamkan melalui edukasi lingkungan sejak dini, baik melalui sekolah, komunitas, maupun kampanye sosial yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
Selain itu, partisipasi aktif semua pihak dalam hal ini masyarakat dan pemong setempat dalam pelaporan drainase yang tersumbat atau rusak kepada pihak berwenang dapat membantu percepatan penanganan masalah.
Pemerintah bersama masyarakat juga perlu menggunakan konsep pembangunan berwawasan lingkungan, seperti membuat sumur resapan, taman infiltrasi, atau biopori di sekitar rumah untuk mengurangi limpasan permukaan yang langsung mengalir ke drainase.
Dengan begitu, kombinasi perbaikan infrastruktur, penegakan aturan, edukasi, serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan dan fungsi drainase, maka risiko banjir dapat diminimalisir secara signifikan di Kota Bandar Lampung.
Penulis: Muhammad Hakiem SP, Dosen Prodi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Fakultas Tekhnologi, Infrastruktur dan Kewilayahan, ITERA.
Penyunting: Tim Redaksi Saibumi.com
merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.
1
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 644
2
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 298
3
Senin, 27/07/2026 - Dibaca : 266
4
Selasa, 28/07/2026 - Dibaca : 239
5
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 198
6
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 187
1
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 50
2
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 44
3
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 43
4
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 42
5
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 39
6
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 37
7
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 34
BERLANGGANAN BERITA