Dosen Prodi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu. Fakultas Tekhnologi, Infrastruktur dan Kewilayahan (FTIK) Institut Teknologi Sumatera, Muhammad Hakiem SP S.T., M.T
Saibumi.com (SMSI), Bandar Lampung - Akhir tahun merupakan musim penghujan hal ini terus berlangsung hingga awal tahun. Sebagian masyarakat senang akan fenomena alam ini, tetapi di sebagian wilayah tempat warganya justru mengalami keresahan serta persoalan masalah banjir yang kian rutin menghampirinya.
Suatu masalah yang terus berulang dari waktu ke waktu dan masih juga belum teratasi hingga saat ini bahkan malah semakin parah terus mengancam beberapa wilayah kota. Sebetulnya apa yang menjadi faktor bencana ini?? Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai makhluk alam dalam sebuah ekosistem serta masyarakat urban.
Dalam ilmu Hidrologi atau Teknik sumberdaya air, hal pokok bahasan utama yang akan kita bahas mengenai masalah banjir ialah Air, dalam hal ini adalah air yang turun dari langit atau hujan.
Ketika hujan turun, air yang turun itu pasti akan mengisi ruang-ruang Permukaan, Terserap lalu Mengisi Air Tanah, kemudian selebihnya akan menjadi limpasan yang terbuang ke saluran Sungai.
BACA JUGA: Walikota Resmikan Tiga SMP Negeri di Bandar Lampung
Hal ini secara akademisnya dinamai Siklus Hidrologi dan memang normalnya seperti itu. Namun yang menjadi masalah adalah ketika terjadi anomali atau penyimpangan pada satu bagian Siklus tersebut. Apakah saat air Hujan Turun, Penyerapan (Infiltrasi), atau ketika air tersebut berada di permukaan.

Jika kita telaah lebih jauh, curah hujan selalu memiliki trend atau perilaku yang sama yakni fluktuatif dari masa ke masa. Kadang hujan deras kadang juga cuma gerimis. Akan tetapi, ada satu hal yang terpapang jelas terlihat dan terasa di sekitar kita saat ini, yaitu daerah terdampak banjir selalu bertambah.
Tidak lah bijak bahkan ngawur rasanya bagi seorang intelek, pemimpin, atau pejabat untuk mengatakan bahwa Hujan adalah penyebab utama dari masalah Banjir demikian. Bahkan bila terlontar menjadi pernyataan di ruang publik, jelas hal itu ngelantur karena tanpa dasar dan belum ada analisa lebih jauh mengenai persoalan bencana ekologi di kota Tapis berseri.
Penyebab Banjir
Bila dilihat dari sisi limpasan air yang terlalu besar, hanya ada Dua kemungkinan besar penyebab terjadinya bencana ekologi banjir tersebut. Pertama; Air hujan yang tidak terserap karena kekurangan atau bahkan tidak ada lahan serapan. Kemudian Kedua; Air yang datang tidak memiliki ruang aliran untuk bermuara ke sungai.

Coba kita amati seksama, saat ini pertumbuhan perkotaan begitu massif dan pesat di kota-kota besar, menghilangkan banyak lahan daerah resapan (cathcment area).
Minimnya daerah resapan tentu ini akan menghambat penyerapan air hujan, dan meminimalisir pengisian (recharge) air tanah, dengan keadaan tersebut, tentu air hujan yang harusnya terbuang justru menjadi limpasan bebas yang cukup besar.
Hal kedua yang menjadi faktor permasalahan adalah air hujan yang turun ke permukaan tidak memiliki ruang untuk keluar dan bermuara ke Sungai. Untuk faktor satu ini sangat dekat dengan manusia dan manajemennya, karena kita bicarakan infrastruktur yang 100% semuanya ada ditangan manusia baik pembangunannya, pengelolaannya dan perawatannya.

Perkembangan kota yang tidak dibarengi dengan tata kelola sumber daya air yang tepat adalah suatu masalah berat yang memungkinkan berujung pada dampak negatif ke masyarakat luas di kemudian hari.
Miskonsepsi pemahaman menjadi salah satu yang perlu diperhatikan. Pelbagai sikap anomali para pemangku kebijakan dan masyarakat sangatlah berkaitan agar tidak salah ngambil langkah dan kebijakan.
Padalah, banyak infrastruktur keairan yang dapat menjadi tolok ukur, tentu yang pertama dan utama adalah saluran drainase. Drainase yang ada saat ini bisa kita katakan belum maksimal dan butuh evaluasi lebih lanjut.
Hanya sedikit daerah yang memiliki sistem draianse baik dan berkelanjutan. Bahkan Sebagian besar wilayah di Indonesia masih belum memiliki saluran draianse, dan Sebagian besarnya lagi belum memiliki sistem yang maksimal untuk pembuangan air.
Ada banyak hal mengapa saluran drainase di banyak wilayah belum maksimal, antara lain kapasitasnya yang sudah tidak mampu mengalirkan air yang terbuang, kerusakan pada saluran drainase, dan sedimentasi pada saluran draianse, semua hal tersebut karena kurangnya perhatian dari pemerintah maupun masyarakat sekitar terhadap lingkungan.

Dengan minimnya fungsi drainase tersebut, tentu menyebabkan air yang terbuang tidak mengalir secara maksimal dan akhirnya meluap menjadi banjir.
Menyikapi masalah tersebut pemerintah perlu melakukan perencanaan dan pembangunan sistem drainase yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Eco-drainage Salah Satu Solusi yang Cocok
Langkah pertama adalah memperbaiki dan memperbesar kapasitas drainase yang sudah ada, disesuaikan dengan intensitas curah hujan dan perkembangan wilayah perkotaan.
Selain itu, perlu diterapkan teknologi drainase modern seperti drainase berbasis ekologi (eco-drainage), yang menggabungkan ruang hijau, kolam retensi, dan biopori untuk meningkatkan penyerapan air.
Pemerintah juga harus rutin melakukan pemeliharaan dan pembersihan saluran drainase guna mencegah sumbatan akibat sampah atau sedimen. Edukasi kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan serta penegakan hukum terhadap pelanggaran juga penting dalam menjaga keberlanjutan sistem ini.
Terakhir, integrasi sistem drainase dengan perencanaan tata ruang wilayah harus diperkuat untuk memitigasi dampak banjir jangka panjang.
Pentingnya Membangun Kesadaran
Dari sisi masyarakat, peran aktif sangat diperlukan untuk membantu menangani banjir melalui partisipasi dalam menjaga dan mendukung sistem drainase yang ada.
Pertama, masyarakat harus disiplin untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke saluran drainase, sungai, atau area publik lainnya.
Kedua, masyarakat dapat mendukung pengelolaan air dengan membuat lubang biopori atau sumur resapan di sekitar rumah mereka untuk membantu penyerapan air ke tanah.

Selain itu, partisipasi dalam kegiatan gotong royong membersihkan saluran air di lingkungan sekitar juga sangat penting untuk mencegah penyumbatan.
Edukasi dan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan, seperti menanam pohon atau membangun taman-taman hujan kecil (rain garden), juga dapat membantu mengurangi limpasan air permukaan.
Kolaborasi dan keseriusan pemerintah bersama semua pihak termasuk masyarakat tentunya dapat menjadi bagian dari solusi dalam mitigasi banjir.
Sehingga, dapat menjadi rujukan kesimpulan bahwa berdasarkan berbagai analisa serta ilustrasi panjang yang telah dikemukakan tadi, bisa ditemukan koherensi antar semua pihak dan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam menanggulangi bencana ekologi banjir supaya bisa mewujudkan sebuah kota sehat, maju, sejahtera dan berkelanjutan.
BACA JUGA: Walikota Resmikan Tiga SMP Negeri di Bandar Lampung
merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.
1
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 642
2
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 297
3
Senin, 27/07/2026 - Dibaca : 266
4
Selasa, 28/07/2026 - Dibaca : 238
5
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 197
6
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 186
1
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 45
2
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 41
3
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 40
4
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 37
5
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 35
6
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 33
7
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 30
BERLANGGANAN BERITA