Logo Saibumi

Mata Uang Asia Pasifik Variatif, Rupiah Melemah Pagi Ini

Mata Uang Asia Pasifik Variatif, Rupiah Melemah Pagi Ini

Ilustrasi

Saibumi.com (SMSI), Bandar Lampung - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada pagi hari ini.

Pantauan saibumi.com pukul 09.13 WIB, berdasarkan data Bloomberg pada Senin (20/12/2021), rupiah terdepresiasi 0,20 persen menjadi Rp14.383 per dolar AS.

Rupiah turun bersama sejumlah mata uang lain di kawasan Asia Pasifik seperti baht Thailand yang melemah 0,56 persen, ringgit Malaysia melemah 0,20 persen, dan yuan China melemah 0,04 persen.

BACA JUGA: Berikut Cara Cek Status Penerima BLT Subsidi Gaji Rp 1 Juta

Sementara itu yen Jepang menguat 0,13 persen, peso Filipina menguat 0,13 persen, dan rupee India menguat 0,01 persen.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam riset hariannya menyatakan rupiah akan dibuka berfluktuatif dan berpotensi ditutup menguat tipis pada rentang Rp14.330 - Rp14.390 per dolar AS.

Selanjutnya, menurut Ibrahim virus Omicron masih mempengaruhi sejumlah lini termasuk indeks finansial.

"Pelaku pasar optimis virus Omicron yang terdeteksi di Indonesia bisa ditanggulangi secepatnya oleh pemerintah. Presiden Joko Widodo meminta masyarakat agar waspada tapi perkembangan Omicron ini jangan membuat kita panik,” tulis Ibrahim.

Lebih lanjut Ibrahim menjelaskan, Kementerian Kesehatan RI mendeteksi seorang pasien dengan inisial N terkonfirmasi virus Omicron pada 15 Desember 2021. Selain itu, Kemenkes RI juga mendeteksi 5 kasus yang kemungkinan juga terkena Omicron dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang baru kembali dari luar negeri.

"Pemerintah memutuskan tidak mengetatkan pembatasan sosial pada akhir tahun ini pun membuka peluang untuk stabilitas konsumsi masyarakat dan mobilitas orang di luar ruang. Bank Indonesia (BI) optimistis bahwa ekonomi kuartal IV/2021 diperkirakan tumbuh di atas 4,5 persen,” jelas Ibrahim.

Kemudian, dolar AS terpantau melemah walau masih berada di level tertingginya karena tertekan ekspektasi investor mengenai kenaikan suku bunga dari bank sentral Inggris (BoE) dan bank sentral Eropa (ECB).

"Adapun, bank sentral utama dunia telah. mengadopsi kebijakan yang berbeda karena ketidakpastian dampak varian Omicron Covid-19 pada pemulihan ekonomi," tukas Ibrahim.

Perdebatan tentang sejauh mana bank sentral harus bertindak untuk mengekang inflasi yang tinggi juga terus berlanjut. (Riduan)

BACA JUGA: Berikut Cara Cek Status Penerima BLT Subsidi Gaji Rp 1 Juta

Saibumi.com

merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA