Saibumi.com (SMSI), YOGYAKARTA -Peningkatan suhu yang terjadi terjadi di Indonesia termasuk DIY saat ini merupakan dampak dari meningkatnya konsentrasi CO², sehingga masyarakat diimbau waspada dengan melakukan mitigasi.
Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Yogyakarta Muh. Nur Hadi mengatakan terkait peningkatan suhu udara tersebut, untuk provinsi DIY tetap perlu mewaspadai potensi dampak dari pemanasan global sebagai akibat dari peningkatan konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer Bumi. Dampak pemanasan global dapat menyebabkan perubahan iklim dan cuaca, musim hujan/kemarau yang tidak normal dan lebih seringnya terjadi cuaca ekstrem sudah mulai terjadi.
"Peningkatan suhu terjadi semenjak revolusi industri dan peningkatan jumlah populasi manusia sehingga pemakaian bahan bakar fosil, penebangan hutan, serta pemakaian lahan hijau untuk pemukiman meningkat. Hal ini akan terus terjadi dan menimbulkan dampak bencana bagi manusia tanpa ada upaya mitigasi dan adaptasi," cetusnya melalui pesan singkatnya, Selasa (31/8/21).
Sehingga, tambah Nur Hadi, upaya mitigasi pemanasan gobal dapat dilakukan dengan penghijauan (penanaman hutan kembali), mengurangi pemakaian bahan bakar fosil, penggunaan tehnologi yang ramah lingkungan, menjaga lingkungan.
Lebih lanjut Nur Hadi mengucapkan kalau suhu udara meningkat secara global maka akan berpotensi mencairkan es di kutub selatan atau utara, yang akan berdampak pada perubahan iklim dan cuaca. Iklim atau cuaca yang ekstrem seperti kekeringan, banjir, suhu ekstrim, dan angin kencang sering terjadi. Ini akan menjadi dampak bencana bagi manusia, sehingga perlu adaptasi terhadap perubahan iklim baik dalam bidang kesehatan, sistem pengairan, dan sistem produksi pangan.
"Untuk cuaca dingin di malam hari pada musim kemarau karena cuaca cenderung cerah sehingga radiasi bumi dipancarkan ke amosfer bumi tanpa terhalang awan serta bertiupnya angin musim dari benua Australia yang membawa udara dingin. Atas adanya perubahan cuaca itu, di daerah pesisir DIY sementara ini terjadi gelombang tinggi 4.0 - 6.0 meter dan angin cukup kencang. Terkait dengan perubahan iklim dan cuaca sebagai pengaruh dari pemanasan global kiranya masyarakat perlu mewaspadai iklim dan cuaca ekstrem yang dapat terjadi terutama di wilayah rawan bencana baik di wilayah pegunungan, daerah aliran sungai, pesisir, dan pemukiman padat penduduk," tutupnya. (Tuti)
merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.
1
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 649
2
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 303
3
Senin, 27/07/2026 - Dibaca : 266
4
Selasa, 28/07/2026 - Dibaca : 241
5
Kamis, 30/07/2026 - Dibaca : 201
6
Jumat, 31/07/2026 - Dibaca : 190
1
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 86
2
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 57
3
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 56
4
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 56
5
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 54
6
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 50
7
Senin, 03/08/2026 - Dibaca : 48
BERLANGGANAN BERITA