Logo Saibumi

Perbedaan Vaksin Sinovac, Pfizer, Moderna, Sinopharm Dan AstraZaneca

Perbedaan Vaksin Sinovac, Pfizer, Moderna, Sinopharm Dan AstraZaneca

Saibumi.com (SMSI), Bandarlampung - Saat ini, ada sekitar lima jenis vaksin yang ada dan mendapatkan izin penggunaan di Indonesia yaitu Sinovac, Pfizer, Moderna, AstraZaneca dan Sinopharm. Setiap vaksin ini memiliki efikasi dan efek samping yang berbeda-beda.


Berikut adalah perbedaan ke lima vaksin tersebut yang berhasil dirangkum dari berbagai sumber.


1. Sinovac

BACA JUGA: Penuh Syukur Peringati Hari Raya Idul Adha, UNILA Salurkan 29 Ekor Hewan Kurban

Vaksin Sinovac berasal dari perusahaan China yang menggunakan virus utuh yang telah dimatikan. Penerima vaksin Sinovac harus mendapatkan dua kali vaksin dengan jeda antara 14-21 hari antara dosis pertama dan kedua. Efikasinya di Indonesia sekitar 65,3%.

Efek samping yang dapat timbul dari vaksin ini yaitu: nyeri, mengantuk, mual dan lapar yang berangsur-angsur hilang selama 1-2 hari.


2. Pfizer

Pfizer adalah vaksin yang berasal dari perusahaan Amerika Serikat. Vaksin ini dibuat dengan teknologi RNA (mRNA) dengan efikasi pada usia 16 tahun ke atas sebesar 95,5% dan untuk usia 12-15 sebesar 100%.

Vaksin Pfizer bisa diberikan kepada anak dengan umur 12 tahun ke atas dua kali penyuntikan dengan rentang waktu sekitar 3 minggu menggunakan dosis 0,3 ml.

Efek samping yang biasanya muncul setelah vaksinasi menggunakan Pfizer yaitu: nyeri di bagian suntikan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot serta demam.


3. Moderna

Vaksin Moderna juga dibuat oleh perusahaan Amerika Serikat menggunakan mRNA. Vaksin dapat diberikan dengan jarak 28 hari/3 minggu antara penyuntikan pertama dan kedua. Moderna memiliki efikasi sebesar 94,1% untuk rentang usia 18 tahun ke atas.

Efek samping yang bisa timbul setelah vaksinasi ialah: rasa sakit di bagian bekas suntikan, kemerahan atau pembengkakan, klelahan, sakit kepala, nyeri otot, panas dingin, demam dan mual.


4. AstraZaneca

Vaksin AstraZaneca merupakan hasil penelitian dari Universitas Oxford Inggris menggunakan teknologi tradisional platform adenovirus. Penyuntikan dilakukan dua kali dengan jeda 28 hari. AstraZaneca memiliki efikasi sebesar 62,11% dan sudah memiliki izin penggunaan darurat dari BPOM.

Efek samping yang bisa timbul yaitu pembekuan darah, inflamasi, demam, sakit di bagian bekas suntikan dan mual.


5. Sinopharm

Merupakan vaksin yang dikembangkan oleh China Pharmautical Group yang dibuat menggunakan virus utuh yang sudah dilemahkan. Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan jarakl 21-28 hari.

Efek samping yang bisa timbul yaitu rasa sakit dan kemerahan, sakit kepala, diare atau batuk dengan kemungkinan 0,1%. (SB.06)

BACA JUGA: Penuh Syukur Peringati Hari Raya Idul Adha, UNILA Salurkan 29 Ekor Hewan Kurban

#

Saibumi.com

merupakan portal berita Indonesia, media online Indonesia yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA