Logo Saibumi

Psikolog: Cegah Gangguan Jiwa, Wartawan Wajib 'Me Time' dan Gathering

Psikolog: Cegah Gangguan Jiwa, Wartawan Wajib

Pengidap gangguan jiwa. | Foto: Ilustrasi/Shutterstock

Saibumi.com (SMSI Lampung) - Pekerjaan sebagai wartawan atau jurnalis diakui rentan dengan tekanan dan stres tinggi.

Jadi tidak heran pekerjaan ini rentan terhadap depresi hingga gangguan mental.

BACA JUGA: Jokowi Klaim Menkes Terawan Temukan Jurus Atasi Defisit BPJS Kesehatan

Mengatasi hal ini, Psikolog Sustriana Saragih menyarankan para jurnalis tidak lupa melakukan 'me time' untuk merilis stres, sehingga tidak membebani mental.

Sedangkan hal yang wajib dilakukan perusahaan media, yakni menyediakan waktu para jurnalisnya untuk tidak memikirkan pekerjaan, salah satunya dengan menggelar gathering.

Tapi ia mengingatkan gathering tidak dilakukan sambil bekerja dan memikirkan berita, melainkan fokus pada peningkatan kualitas mental jurnalisnya. Misalnya, diberikan materi seputar kualitas hidup.

"Mungkin bisa berfokus pada hal-hal yang bisa meningkatkan sumberdaya manusia, bisa tentang leadership, jadi jurnalis hidupnya bukan cuma bekerja, ada sisi lain yang perlu ditingkatkan juga," ujar Sustri kepada Suara.com -- jaringan Saibumi.com, saat disambangi di tempat kerjanya di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dilansir Senin, 9 Desember 2019.

"Misalnya bagaimana menikmati kepuasan hidup melalui komunikasi dengan pasangan hal-hal seperti itu. Bagaimana mencintai diri sendiri, dengan mengatur pola hidup, lebih ke arah meningkatkan kualitas manusia, di luar aspek pekerjaan," tambahnya.

Sustri melanjutkan, para perusahaan harus percaya saat aspek kesehatan mental karyawannya bahagia atau tanpa beban, maka secara tidak langsung akan meningkatkan produktivitas karyawannya itu sendiri, begitupun dengan jurnalis.

"Jadi kalau manusia bahagia, dia akan lebih produktif di tempat kerja," timpal Sustri.

Kalau perlu, selain gathering diisi dengan hal menggembirakan, bisa juga menggandeng ahli seperti psikolog maupun praktisi emotional healing untuk mengisi sesi-sesi khusus.

Acara ini ampuh membuang racun atau energi negatif dalam tubuh. Mengingat secara tidak langsung jurnalis sering terpapar hal-hal negatif.

"Jurnalis pergi ke lapangan menyaksikan ada yang anak diperkosa, istri yang dipukuli. Perilaku kriminalistas pembunuhan, itu kan sebenarnya, sadar tidak sada berkontribusi terhadap diri mereka sendiri itu. Apa yang disaksikan akan terekam, disaksikan negatif itu akan terekam emosi negatif berkontribusi terhadap emosi negatif," paparnya.

"Di sesi-sesi gathering bisa dibawakan trauma healing atau detox emosi negatif, jadi mereka healing dulu dari emosi negatif yang mereka alami yang mereka terima di lapangan," tutu Sustri. (*/ruslan)

BACA JUGA: Termasuk Mengurangi Risiko Asma, Ini Lima Manfaat Jalan Kaki 15 Menit

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong