Logo Saibumi

Harusnya Indonesia Protes, Jurnalis Warga Dideportasi Hong Kong karena Tulisan

Harusnya Indonesia Protes, Jurnalis Warga Dideportasi Hong Kong karena Tulisan

Yuli Riswati, aktivis dan jurnalis warga yang kerap menuliskan kisah dan isu-isu buruh migran, sudah 10 tahun tinggal di Hong Kong. | Foto: Istimewa

Saibumi.com (SMSI Lampung) -  jurnalis warga, aktivis dan buruh migran, Yuli Riswati, dideportasi dengan cara yang tidak wajar oleh pemerintah Hong Kong.

Migrant Care dan Amnesty Internasional menilai seharusnya pemerintah Indonesia mengambil sikap protes soal itu.

BACA JUGA: Begini Kondisi Terkini Dua Anggota TNI Korban Ledakan di Monas

Pasalnya, ada hal yang janggal ketika pemerintah Hong Kong memutuskan untuk mendeportasi Yuli.

Yuli Riswati kerap menuliskan kisah dan isu-isu buruh migran dan sudah 10 tahun tinggal di Hong Kong.

Namun kekinian, Yuli Riswati justru ditangkap dan ditahan selama 28 hari, lalu dideportasi atas tuduhan pelanggaran izin kerja atau visa.

"Tindakan Pemerintah Hong Kong terhadap Yuli bersifat represif dan tidak lazim. Sudah seharusnya pemerintah Indonesia memprotes perlakuan tidak adil pemerintah Hong Kong dan memberi perlindungan hukum untuk Yuli," kata Direktur Migrant Care Indonesia, Anis Hidayah, dalam keterangan tertulisnya, dilansir Suara.com -- jaringan Saibumi.com, Selasa, 3 Desember 2019.

Kejanggalan tercium ketika pemerintah Hong Kong mendepak Yuli Riswati dengan alasan visa kerja Yuli yang sudah habis masa berlakunya sejak 19 Agustus 2019.

Visa Yuli Riswati memang sudah habis, tetapi atasan kerja Yuli Riswati mengatakan dirinya masih memiliki perjanjian kerja yang berlaku dan berjanji akan memperpanjang izin kerjanya.

Apabila ada jaminan dari tempat kerja, pihak imigrasi Hong Kong pun akan mempersilahkan untuk memperpanjang izin kerja.

Namun yang dialami Yuli Riswati justru ditangkap polisi Hong Kong di tempat tinggalnya, lalu menangannya dalam ruang tahanan di Pusat Imigrasi Castle Peak.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengatakan tindakan kepolisian Hong Kong semacam itu termasuk ke dalam tindakan yang agresif.

"Tindakan kepolisian Hong Kong terhadap Yuli merupakan bentuk pemolisian yang agresif. Tindakan itu melanggar kewajiban Pemerintah Hong Kong di bawah standar maupun hukum internasional hak-hak asasi manusia," ujarnya.

Di balik perlakuan pihak kepolisian Hong Kong tersebut, justru ada dugaan kuat kalau pemerintah Hong Kong menangkap Yuli Riswati karena karya tulisnya di Harian SUARA, tempat Yuli Riswati bekerja.

Dalam tulisan Yuli itu mengandung nada protes kepada pemerintah Hong Kong yang membungkam kebebasan ekspresi yang seharusnya tak mengenal batas negara.

Untuk diketahui, Yuli Riswati, pekerja migran Indonesia yang menulis tentang protes pro-demokrasi Hong Kong telah dideportasi karena masalah visa. Ia menyebut telah "dibohongi" oleh petugas imigrasi.

Disadur dari Hong Kong Free Press, Senin, 2 Desember 2019, Yuli Riswati adalah seorang penulis pemenang penghargaan dan pekerja rumah tangga di Hong Kong.

Ia ditahan Castle Peak Bay Immigration Centre (CIC) pada Senin, 4 November 2019, karena gagal memperpanjang visanya.

Menurut kelompok pendukungnya, Yuli telah ditekan untuk membatalkan perpanjangan visanya.

Dalam pernyataannya, Yuli Riswati mengatakan seorang petugas imigrasi "mengelabui" dirinya dan mengatakan kepadanya pada Senin pagi bahwa pemerintah telah mencoba untuk memanggil pengacara, tetapi nyatanya tidak ada. (*/ruslan)

BACA JUGA: Ini Kronologi Detik-detik Dua Anggota TNI Jadi Korban Ledakan di Monas

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong