Logo Saibumi

Ternyata, Tinggi Tsunami Selat Sunda Desember 2018 Lebih dari 100 Meter!

Ternyata, Tinggi Tsunami Selat Sunda Desember 2018 Lebih dari 100 Meter!

Foto: Istimewa

Saibumi.com (SMSI Lampung) - Tsunami Selat Sunda yang dipicu erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Desember 2018 lalu ternyata mencapai tinggi 100 meter, demikian hasil penelitian terbaru dari para ilmuwan di Jepang dan Inggris.

Gelombang tsunami Selat Sunda itu diperkirakan akan menelan lebih banyak korban jiwa dan material, jika saja arah gelombang tersebut menuju ke daratan Pulau Jawa atau Sumatera.

BACA JUGA: Diganti Robot, Mulai Januari 2020 Jokowi Pangkas Eselon 3 dan 4

Lebih dari 430 orang tewas, puluhan lainnya hilang, dan 7.200 orang luka akibat tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 itu.

Tsunami dipicu longsoran material vulkanis dari Gunung Anak Krakatau. Longsoran terjadi akibat letusan gunung api tersebut.

Gelombang tsunami yang mencapai pesisir Banten dan Lampung, dua tempat dengan kerusakan paling parah dan korban paling banyak, dilaporkan setinggi 5 - 13 meter.

Tetapi hasil analisis terbaru dari para ilmuwan di Brune University, London dan University of Tokyo menunjukkan gelombang awal tsunami tingginya mencapai 100 - 150 meter.

"Ketika material vulkanis jatuh ke laut, ia memicu pergolakan air di permukaan. Sama seperti kita melempar batu ke dalam kolam," kata Mohammad Heidarzadeh, ilmuwan dari Brunel yang memimpin penelitian itu.

"Dalam kasus Anak Krakatau, tinggi air yang disebabkan oleh longsoran material vulkanis mencapai di atas 100 meter," imbuh dia, dilansir Suara.com -- jaringan Saibumi.com, Sabtu, 30 November 2019.

Tinggi gelombang tsunami dengan cepat menyusut akibat beberapa faktor seperti gravitasi dan gesekan dengan dasar laut.

Meski demikian, gelombang tsunami itu masih setinggi 80 meter saat ia menyapu sebuah pulau yang berjarak beberapa kilometer dari Gunung Anak Krakatu. Untungnya pulau itu tak berpenghuni.

"Untungnya pulau itu tak dihuni satu orang pun. Tetapi, jika ada penduduk yang tinggal dekat dengn Gunung Anak Krakatau, katakanlah dalam jarak lima kilometer, maka mereka akan disapu tsunami setinggi 50 sampai 70 meter," jelas Heidarzadeh.

Sebagai pembanding, letusan Gunung Krakatau pada 1883 memicu tsunami setinggi 42 meter dan menyebabkan setidaknya 36.000 orang tewas.

Hasil studi Heidarzadeh dan rekan-rekannya, yang diterbitkan dalam jurnal Ocean Engineering, menggunakan data-data tinggi permukaan air laut dari lima lokasi dekat Gunung Anak Krakatau.

Data-data itu diproses menggunakan model komputer untuk membuat simulasi pergerakan gelombang tsunami, mulai dari ketika terjadinya longsoran material vulkanis.

Heidarzadeh kini bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk memetakan dasar laut di Indonesia bagian timur serta menyusun rencana tanggap darurat tsunami. (*/ruslan)

 

BACA JUGA: Sering Mati Lampu, Menteri BUMN Erick Thohir Siap Rombak Direksi PLN

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong