Logo Saibumi

Semangat Mbah Dirun, Tetap Mencari Nafkah di Usia Senja

Semangat Mbah Dirun, Tetap Mencari Nafkah di Usia Senja

Mbah Dirun saat mangkal menjajakan arem-arem. Foto: Windi Safitri/Saibumi.com

Saibumi.com (SMSI Lampung), Pringsewu - Usia senja tak menghalangi Mbah Dirun (70) untuk berjualan arem-arem keliling. Aktivitas menjual makanan yang berbahan dasar beras ini sudah ia lakoni sejak lima tahun lalu.

Mbah Dirun yang beralamat di Pleret, Rejosari, Pringsewu ini berjualan dengan berjalan kaki menyusuri jalan dari rumahnya menuju tempat ia biasa mangkal.

BACA JUGA: Dinsos Pringsewu Dorong Peningkatan Kesejahteraan dan Kualitas SDM Penyuluh

Memakai jaket hitam lusuh, celana bahan warna hitam kusam dan juga sepatu boot hijau serta membawa keranjang hijau bertali, dengan langkah tertatih-tatih ia berjalan membawa dagangannya.

Dalam sehari, Mbah Dirun sanggup menjual 60-70 arem-arem yang ia bawa dari rumah. Arem-arem itu ia buat bersama Sang Anak, Pardiyati.

"Anak saya yang membuat arem-arem Mbak, biasa buat dua kilo beras yang jadi 60 hingga 70 arem-arem. Kadang juga saya jualan combro," ujarnya saat diwawancarai wartawan Saibumi.com, Sabtu, 9 November 2019, pagi.

Per buah arem-arem dijual seharga Rp1.000. Dalam sehari terkadang dagangannya habis, kadang juga tidak. Seringkali ia mencemaskan esok hari, apakah dagangan yang ia bawa akan laris terjual?

"Kalau mau dagang kadang-kadang enggak bisa tidur. Mikirin dagangan, besok laku atau enggak," kata Mbah Dirun.

Bapak empat anak ini baru saja berduka karena baru 100 hari ditinggal mati oleh istri tercinta. Menurut anaknya Pardiyanti, sejak ditinggal ibunya, Mbah Dirun kerap kali seperti orang bingung. Namun, Mbah Dirun tetap memaksa berdagang setiap hari, meskipun saat Sabtu atau Minggu ia sering istirahat.

"Sebenarnya anak-anak melarang Bapak untuk berkeliling dagang seperti ini Mbak. Tapi Bapak juga enggak betah di rumah, lebih baik dia dagang kayak gini," ungkap Pardiyanti saat ditemui di rumahnya.

Pardiyanti juga mengungkapkan, Ayahnya berjualan sudah lima tahun belakangan. Dulu, tidak berjalan kaki, sempat berjualan dengan memakai sepeda onthel.

"Bapak itu setelah subuhan langsung berangkat ke luar rumah untuk dagang Mbak, dulu sempat berdagang pakai sepeda, karena pernah jatuh, jadi dagang jalan kaki lagi", lanjutnya.

Ia juga bercerita, ayahnya memang begitu semangat mencari nafkah, bahkan di rumah pun Mbah Dirun masih membatunya membuat arem-arem, seperti mencari daun dan mengelapnya.

Dengan keuntungan dan hasil yang tidak seberapa, tapi keluarga mereka sangat bersyukur. Dengan penghasilan penjualan rata-rata Rp70-80 ribu per hari, keluarga mereka bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

"Kalau memang Bapak pulang dagang itu hitungannya enggak pas, malah saya stop, karena takut Bapak sudah pikun. Tapi karena bapak pulang ternyata masih bisa ngitung uang ya akhirnya saya biarkan bapak dagang. Kadang dapet Rp70-80 ribu per hari. Hasil penjualan kita putar buat beli bahan lagi dan sisanya buat beli kebutuan sehari-hari," pungkasnya. (*)

Laporan Reporter Saibumi.com, Windi Safitri.

BACA JUGA: Truk Bermuatan Besi Wiremesh Terguling di Pajaresuk Pringsewu

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong