Logo Saibumi

Pokdarwis Minta Maaf Soal Dugaan Pelecehan Kuliner Khas Masyarakat Lampung Timur

Pokdarwis Minta Maaf Soal Dugaan Pelecehan Kuliner Khas Masyarakat Lampung Timur

Suasana permintaan maaf pihak Pokdarwis kepada para pemangku adat Sekkapung Limo Migo. Foto/Nurman

Saibumi.com, Lampung Timur - Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) meminta maaf kepada pemangku adat Sekappung Limo Migo terkait dugaan pecelehan kuliner khas masyarakat Lampung Timur (Lamtim) yang ditanyangkan pada salah satu stasiun televisi nasional.
Para pemangku adat tersinggung atas pemberitaan kuliner khas masyarakat Lamtim bernama "Klawar" diganti menjadi "Daging Kalelawar" pada pekan lalu.
Atas bentuk protes keras itu, pihak Pokdarwis menemui beberapa pemangku Sekappung Limo Migo di kediaman Raja Bandar, salah satu tokoh pemuda marga tersebut yang beralamat di Desa Gunungpasir Jaya, Kecamatan Sekampungudik, Selasa 17 September 2019.

Dalam pertemuan itu dihadiri oleh seluruh ketua adat dari Desa Toba, Desa Bojong, Desa Gunungsugih Besar, Desa Gunungraya, Desa Peniangan dan Desa Batubadak, serta dipimpin langsung oleh Hasan Basri Wakil Bandar Marga Sekappung Limo Migo.

Sementara dari pihak Pokdarwis dihadiri oleh Ketua Umumnya, Odi, didampingi oleh Petrus selaku Ketua Empat dan Darmanto Ketua Dua.
Pokdakwis mengakui adanya kesalahan saat acara syuting Jejak Petualang yang dilaksanakan oleh Pokdarwis.
"Kami mengakui adanya kesalahan dan kekurangan pada saat pelaksanaan Syuting yang mana saat itu tidak melibatkan atau bertanya terlebih dahulu kepada pihak pemangku atau Tetua adat Sekappung Limo Migo sebelum mengeksplor kuliner khas masyarakat Lampung Timur di tayangan televisi swasta nasional beberapa waktu lalu, sehingga timbul permasalahan seperti ini. Namun kami sudah berkoordinasi dengan pihak televisi nasional, dan pihak Trans7 sepakat dengan kami untuk melakukan syuting kembali untuk menjabarkan pada masyarakat luas tentang masakan khas yang bernama Klawar," kata dia.
Di lain pihak dari Bandar Adat Sekappung Limo yang diwakili Hasan Basri Gelar Pangeran Paku Bintang selaku Punggawa Dalem mengatakan permohonan dan permintaan maaf diterima. Namun sanksi adat atau hukum adat berupa denda harus dilaksanakan serta dipatuhi oleh pihak Pokdakwis.
"Dan bila mana Pokdarwis tidak mau mengikuti atau mentaati apa yang menjadi aturan adat, maka kami akan mengambil langkah-langkah secara hukum," jelasnya.
Menurut Punggawa Dalem, masakan khas masyarakat adat ini sudah turun temurun sejak ribuan tahun silam. Sehingga tidak bisa seenaknya diganti dengan jenis campuran bahan lain atau tidak bisa semaunya untuk diadopsi namanya ke masakan lain.
"Apalagi jenis yang dimasak itu sejenis binatang ekstrim yaitu kelelawar yang sangat tidak lazim untuk dikonsumsi dikalangan warga masyarakat adat asli Lampung," ungkapnya. (*)

Laporan Reporter Saibumi.com Nurman Agung

 

 

 

 

 

 

#

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong