Logo Saibumi

Dolar Tertekan, Rupiah dan Mata Uang Asia Lanjutkan Penguatan

Dolar Tertekan, Rupiah dan Mata Uang Asia Lanjutkan Penguatan

Foto: Istimewa

Saibumi.com, Lampung - Di perdagangan pasar spot hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat.

Rupiah dan berbagai mata uang Asia mampu memanfaatkan situasi dolar AS yang tengah tertekan.

Pada Kamis, 22 Agustus 2019, US$ 1 setara dengan Rp 14.220 kala pembukaan pasar spot.

Rupiah menguat 0,11% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya, dilansir CNBC Indonesia.

Kemarin, rupiah menutup perdagangan pasar spot dengan penguatan 0,14% di hadapan greenback.

Semoga apresiasi rupiah bertahan hingga penutupan lapak hari ini.

Namun tidak hanya rupiah, berbagai mata uang utama Asia juga berhasil berjaya di hadapan dolar AS.

Dolar AS memang sedang melemah secara global. Pada pukul 08:12 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama) melemah 0,02%.

Mata uang Negeri Paman Sam 'dicederai' oleh presiden negaranya sendiri. Melalui utas (thread) di Twitter, Presiden AS Donald Trump kembali mengeluhkan dolar AS yang terlalu kuat dan Bank Sentral AS (The Federal Reserve.The Fed) seakan tidak melakukan apa-apa.

"Jerman saat ini menerapkan suku bunga nol, dan bahkan mungkin orang diberi uang saat meminjam uang. Sementara AS, yang kondisinya lebih kuat, masih membayar bunga. Hentikan pengetatan (moneter). Dolar AS menjadi sangat kuat, sulit untuk mengekspor. Padahal tidak ada inflasi!

"KE MANA FEDERAL RESERVE?" demikian cuitan Trump.

Seperti biasa, kala Trump cawe-cawe urusan dolar AS dan The Fed, respons pasar langsung negatif. Pelaku pasar khawatir dengan sikap Trump yang terus-menerus menggoyang marwah independensi bank sentral.

Jelang Pengumuman Bunga Acuan, Investor Bisa Main Aman

Rilis notula rapat (minutes of meeting) The Fed edisi Juli tidak banyak membantu dolar AS. Pasalnya, dokumen ini dinilai minim kejutan, sudah ketaker.

"Para peserta rapat rapat secara umum sepakat bahwa arah kebijakan harus berdasarkan kepada informasi yang masuk. Penurunan suku bunga 25 basis poin adalah bagian dari rekalibrasi posisi (stance) kebijakan atau penyesuaian dalam jangka menengah sebagai respons atas proyeksi perekonomian ke depan," sebut notula itu.

Pelaku pasar tidak banyak mengubah pandangan terhadap arah kebijakan moneter AS. Suku bunga acuan masih diperkirakan turun lagi 25 bps bulan depan, dengan probabilitas mencapai 98,1%, mengutip CME Fedwatch. Tidak banyak berubah dibandingkan kemarin yaitu 98,5%, datar lah...

Oleh karena itu, dolar AS tidak punya pijakan untuk menguat hari ini. Situasi yang bisa dimanfaatkan oleh rupiah.

Namun rupiah tidak boleh lengah, karena hari ini ada agenda penting yang bisa menentukan nasib mata uang Tanah Air. Siang ini, Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan suku bunga acuan setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama dua hari.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan BI masih mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% pada bulan ini.

Tetapi, empat dari 13 ekonom yang berpartisipasi dalam pembentukan konsensus memperkirakan BI 7 Day Reverse Repo Rate turun 25 bps ke 5,5%. Memang minoritas, tetapi tidak bisa dinafikan begitu saja.

Sembari menunggu pengumuman dari MH Thamrin, bisa saja investor memilih bermain aman. Jangan agresif dulu, lihat dulu ke mana arah angin bertiup.

Jadi walau dolar AS sedang limbung, rupiah tidak bisa berleha-leha. Ada risiko yang bisa membuat rupiah terpeleset, yaitu penantian investor akan suku bunga acuan. (*/ruslan)

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong