Logo Saibumi

Pembukaan Pasar Awal Pekan, Rupiah Bertaji

Pembukaan Pasar Awal Pekan, Rupiah Bertaji

Foto: Istimewa

Saibumi.com, Lampung - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat di perdagangan pasar spot hari ini.

Dolar AS berhasil dilengserkan dari kisaran Rp 14.200.

Pada Senin, 19 Agustus 2019, US$ 1 setara dengan Rp 14.210 kala pembukaan pasar spot.

Rupiah menguat 0,14% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu, dilansir CNBC Indonesia.

Dolar AS sudah berada di bibir jurang kisaran Rp 14.200. Jika rupiah mampu menguat lebih lanjut, bukan tidak mungkin dolar AS mampu diturunkan ke bawa level tersebut.

Menurunkan dolar AS ke bawah Rp 14.200 bukan Mission: Impossible bukan rupiah.

Pasalnya, angin sedang berpihak ke Asia, hampir seluruh mata uang utama Benua Kuning menguat di hadapan greenback.

Sejauh ini hanya yuan China, won Korea Selatan, dolar Singapura, dan dolar Taiwan yang melemah.

Benar saja, misi mendorong dolar AS ke bawah Rp 14.200 sukses terlaksana. Pada pukul 08:23 WIB, US$ 1 dihargai Rp 14.195 di mana rupiah menguat 0,25%.

Kekhawatiran Akan Resesi Mulai Terangkat

Sepertinya kabar baik dari Negeri Paman Sam berhasil mengangkat mood pelaku pasar pada awal pekan ini.

Lawrence 'Larry' Kudlow, Penasihat Ekonomi Gedung Putih, mengungkapkan tim negosiasi dagang AS dan China akan berkomunikasi secara intensif dalam 10 hari ke depan.

Apabila komunikasi ini positif, maka rencana dialog dagang di Washington pada awal September bisa terlaksana.

"(Perkembangan dialog dagang AS-China) cukup baik. Oleh karena itu, tidak ada risiko resesi. Konsumen terus bekerja, upah naik, mereka terus melakukan konsumsi dan menabung," kata Kudlow dalam wawancara dengan Fox News Sunday, seperti diberitakan Reuters.

Pernyataan Kudlow dikuatkan oleh koleganya, Penasihat Perdagangan Gedung Putih Peter Navarro. Menurut Navarro, ekonomi AS masih sangat kuat.

"Kita adalah perekonomian terkuat di dunia. Uang berdatangan ke pasar modal kita," tegas Navarro dalam program ABC This Week.

Sepertinya perkembangan perundingan dagang AS-China yang positif, ditambah keyakinan Gedung Putih bahwa perekonomian Negeri Adidaya masih digdaya, cukup untuk membuat pelaku pasar lega. Setelah pekan lalu kekhawatiran terhadap resesi begitu terasa, kini beban berat itu mulai terangkat.

Salah satu sinyal resesi, yaitu inversi imbal hasil (yield) pemerintah AS tenor dua dan 10 tahun, juga sudah tidak lagi terjadi.

Pada pukul 08:18 WIB, yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun adalah 1,5048% sementara yang 10 tahun berada di 1,5927%. Tidak ada inversi, yield tenor pendek lebih tinggi ketimbang tenor panjang.

Oleh karena itu, risk appetite pelaku pasar bisa dibilang sudah pulih. Perburuan terhadap aset-aset berisiko kembali dimulai seiring meredanya kecemasan terhadap resesi. Rupiah pun menikmati berkahnya. (*/ruslan)

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong