Logo Saibumi

(Video) UAS: Orang yang Berkurban Boleh Makan Daging Hewan Kurbannya

(Video) UAS: Orang yang Berkurban Boleh Makan Daging Hewan Kurbannya

Foto: ilustrasi/Istimewa

Saibumi.com, Lampung - Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1440 Hijriah tahun ini jatuh pada Minggu, 11 Agustus 2019.

Sejumlah pertanyaan seputar hewan kurban, terus mengalir dari tahun ke tahun.

Salah satunya tentang hukum orang yang berkurban tidak boleh memakan daging kurbannya sendiri.

Pendapat itu dibantah oleh Ustadz Abdul Somad (UAS).

Dilansir dari tayangan YouTube, Ustadz Abdul Somad malah menanyakan balik siapa yang melarang orang yang berkurban untuk memakan daging kurbannya.

“Apakah boleh orang berkurban, memakan daging hewan kurbannya?,” kata Ustaz Abdul Somad membacakan pertanyaan di selembar kertas, dilihat pada Jumat, 9 Agustus 2019.

Ustadz Abdul Somad kemudian tampak melirik ke arah kanan dan tidak langsung menjawab.

“Bapak (memotong) kurban? Iya. Jangan makan dagingnya nanti ya, itu tak boleh dimakan. Dapat dari mana (dalil) itu? Entah, begitulah kata nenek moyang kami dulu,” ujarnya mempraktekkan percakapan.

Ustadz Abdul Somad kemudian membacakan sebuah ayat Al-Quran.

“Makanlah, walah, malah disuruh (makan). Mana ayatnya pak ustadz? Surat Al Hajj: 28. Makanlah, tapi jangan semuanya. Pak ketua masjid, ini sapi tolong potongkan, nanti antarkan ke rumah pahanya, kakinya, kepalanya, ekornya, kulit. Nanti kalau ada orang kayak gini di komplek kita, ambillah semua, potong sendiri, bagi sendiri, mati sendiri,” tukasnya disertai candaan jika ada orang yang berkurban tapi ingin mengambil semuanya.

Namun, Ustadz Abdul Somad mengatakan jika sebagian besar dari hewan kurban itu memang seharusnya diberikan kepada fakir miskin.

Kemudian jika orang yang berkurban ingin mengikuti sunnah rasul, lebih baik memakan hati hewan kurbannya.

“Yang paling afdol kalau mau ikut sunnah, begitu selesai shalat (Idul Adha), pulang, motong, langsung belah ambil hatinya, potong sesuap, cuci, kasih garam, bakar sebentar saja, ketika matang langsung makan hatinya, itu yang dilakukan nabi,” jelas UAS.

“Kenapa tidak dagingnya? Dagingnya lama, teksturnya keras, matangnya lama, tapi kalau hatinya lunak, langsung potong, bakar dan makan,” ujarnya.

Nah, baru kemudian sisanya yakni mulai dari daging, kulit, kaki, kepala dan sebagainya, dibagikan kepada fakir miskin.

“Bagikan ke fakir, best (terbaik), paling bagus (orang yang berkurban) makan hatinya (hewan kurban) sedikit, (lainnya) bagikan,” kata Ustadz Abdul Somad.

Dia kemudian memberitahukan cara kedua yang bisa dilakukan oleh orang yang berkurban terhadap daging kurbannya tersebut.

Menurut UAS, orang yang berkurban boleh memakan daging kurbannya, namun tidak lebih dari sepertiga bagian saja.

“Setelah dipotong, sebenarnya itu jatahnya sepertiga, sepertiga untuk yang berkurban, sepertiga untuk sahabat, kerabat, tetangga, keluarga, sepertiga lagi untuk fakir miskin,” terangnya.

Jika yang berkurban selama ini sering mendapat dua atau tiga kupon, tidak masalah.

“Jadi, pembagian kita selama ini, antara-antara, tidak yang terlalu minim, tidak yang terlalu banyak, tidak yang terlalu afdol, tidak sepertiga, (orang yang berkurban) dapat dua kupon ambillah, tiga kupon tak masalah,” ujar UAS.

Namun, kata dia, tentu saja hal itu tetap tidak boleh melebihi sepertiga bagian dari hewan kurbannya.

“Selama jangan lebih dari sepertiga (boleh). Kalau lebih kita ambil dari sepertiga, kita sudah makan jatah orang lain, haram. Tapi jangan gara-gara ini, semuanya (orang yang berkurban) minta sepertiga,” imbau UAS. (*/ruslan)

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong