Logo Saibumi

Viral, Polisi Lamtim Tembak Terduga Pencuri hingga Tewas, KontraS: Melanggar HAM

Viral, Polisi Lamtim Tembak Terduga Pencuri hingga Tewas, KontraS: Melanggar HAM

Feri Kusuma (Kontras) Bersama Edi Arsadad (Aktivis Ham) dan Paimun Warga Lampung Timur. Foto IST

Saibumi.com, Lampung Timur -  Lampung heboh. Di media sosial (Medsos) dan aplikasi pesan WhatsApp beredar viral video penembakan oleh oknum polisi berpakaian preman terhadap terduga pelaku curanmor.

 Padahal, terduga terlihat sudah dibekuk dan menyerah dengan dipegang kaki dan tangannya dalam posisi tertelungkup.

Namun seorang oknum polisi yang mengenakan kaus singlet putih, justru menembak kaki Yusuf (24) hingga pria itu tewas satu hari kemudian, Minggu, 7 Juli 2019, pukul 09.30 WIB.

Yusuf merupakan terduga pencuri sepeda motor di halaman parkir minimarket di Sekampung, Lampung Timur (Lamtim).

Menurut Kapolres Lamtim, AKBP Taufan Dirgantoro, Yusuf tepergok hendak mencuri sepeda motor Honda Beat milik Budi Santoso (44), warga Desa Telogorejo, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur, Sabtu, 6 Juli 2019.

Warga yang mengetahui hal itu melaporkannya ke polisi. Petugas lalu mengejar pelaku yang membawa motor curiannya.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengecam aksi oknum polisi di Lampung Timur, yang menembak kaki terduga curanmor hingga menyebabkannya tewas dan viral di media sosial.

"Saya sudah dengar aksi polisi di Lampung Timur mengeksekusi terduga curanmor. Berdasarkan informasi awal ke kami, ada tiga peluru ditembakkan ke terduga. Ini bentuk tindakan penyiksaan, tidak boleh dilakukan," kata Divisi Koordinator Impunitas Kontras, Feri Kusuma, kepada awak media melalui sambungan telefon, Selasa, 9 Juli 2019.

Dijelaskannya, terduga pelaku curanmor itu sudah tertangkap dan seharusnya diproses hukum, bukan ditembak.

"Kalau memang terduga  terbukti mencuri, diproses hukum, karena sudah tertangkap. Jangan disiksa," tukas Feri.

Menurut dia, aksi oknum polisi yang viral di media sosial itu jelas menyalahi prosedur internal kepolisian, seperti Perkap Kapolri tentang  Implementasi Prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia dan Perkap Kapolri tentang Manajemen Penyidikan.

"Tindakan polisi itu jelas melanggar prosedur HAM dan aturan internal kepolisian," ujar  Feri.

Senada dikatakan aktivis kemanusiaan Lampung Timur, Edi Arsadad. Dia meminta Polri segera mengambil tindakan atas kesalahan prosedur yang dilakukan anggotanya.

Edi menilai sedikitnya ada dua hal prinsip yang telah dilanggar anggota Resmob Polres Lampung Timur itu.

"Pertama, anggota tersebut mengabaikan standar operasional prosedur (SOP) dalam melaksanakan tugas di lapangan, dengan melakukan penembakan yang seharusnya tidak perlu terjadi," jelasnya.

Lalu yang kedua, lanjut Edi, sesuai dengan hukum acara pidana, pelaku atau tersangka yang diancam dengan pidana lebih dari lima tahun berhak mendapatkan pembela (kuasa hukum).

"Namun itu juga tidak terpenuhi," ujar dia.

Untuk itu, Feri Kusuma dan Edi Arsadad meminta Polda Lampung dan Polres Lampung Timur turun tangan memproses tindakan anggotanya yang menyalahi prosedur.

"Kami minta kasus ini diusut dan anggotanya diproses hukum. Jangan dinilai ini hanya melanggar prosedural. Kami menilai jelas melanggar prosedur dan hukum," kata dia. (*)

 Laporan Reporter Saibumi.com: Nurman Agung

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong