Logo Saibumi

The Fed 'Galau', Rupiah Jadi Nomor Satu di Asia

The Fed

Foto: Ilustrasi/Istimewa

Saibumi.com, Lampung - Di perdagangan pasar spot, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum kunjung bosan menguat.

Situasi eksternal yang suportif membuat rupiah dan mata uang utama Asia ramai-ramai menguat.

Pada Rabu, 12 Juni 2019, US$ 1 dibanderol Rp 14.220 kala pembukaan pasar spot. Rupiah menguat 0,11% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Jika penguatan ini bertahan sampai penutupan pasar, maka rupiah resmi menguat selama empat hari perdagangan beruntun. Sesuatu yang kali terakhir terjadi pada 23-28 Mei, dilansir CNBC Indonesia.

Rupiah bergerak searah dengan mata uang utama Asia yang berhasil menguat di hadapan dolar AS. Hanya won Korea Selatan dan dolar Singapura yang masih tertinggal di zona merah.

Bahkan dengan apresiasi 0,11%, rupiah mampu keluar menjadi mata uang terbaik di Asia. Disusul oleh peso Filipina di posisi runner-up dan baht Thailand di peringkat ketiga.

The Fed Kian Kalem, Dolar AS Mendem

Tekanan yang dialami dolar AS datang dari potensi penurunan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam yang semakin besar.

Mengutip CME Fedwatch, The Federal Reserves/The Fed diperkirakan sudah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2-2,25% pada Juli. Peluangnya mencapai 63%.

Data-data ekonomi AS semakin memberi konfirmasi adanya perlambatan.

Pada April, pembukaan lowongan kerja baru di Negeri Adidaya yang ditunjukkan melalui survei Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan angka 7,4 juta. Turun dibandingkan posisi Maret yaitu 7,5 juta.

Salah satu risiko besar yang dihadapi AS adalah perang dagang dengan China. Semarah apa pun AS kepada China, Negeri Panda adalah salah satu mitra dagang utama mereka.

Sepanjang Januari-April 2019, US Census Bureau mencatat total nilai perdagangan AS-China adalah US$ 174,7 miliar dengan porsi 12,9%.

Kalau produk AS sulit masuk ke China karena kena bea masuk, ekspor AS tentu akan terpengaruh signifikan. Ketika ekspor tertekan, investasi pun berkurang. Artinya aktivitas dunia usaha menurun sehingga wajar pembukaan lowongan kerja berkurang.

Jika lapangan kerja yang tersedia semakin sedikit, maka perlambatan konsumsi rumah tangga tinggal menunggu waktu. Saat konsumsi rumah tangga sudah mulai merasakan tekanan, maka pertumbuhan ekonomi AS pasti akan melambat.

"Pada April, saya bilang bahwa saya optimistis outlook cukup solid. Namun saat ini saya benar-benar waspada terhadap risiko downside. Sebuah perubahan besar dalam waktu yang begitu singkat," kata Presiden The Fed Dallas Robert Kaplan, dikutip dari Reuters.

Sepertinya 'suasana kebatinan' di The Fed sudah berubah drastis dibandingkan tahun lalu. Kini aura dovish alias kalem semakin terasa, sehingga peluang penurunan Federal Funds Rate kian terbuka.

Bagi dolar AS, penurunan suku bunga bukan kabar baik. Sebab penurunan suku bunga akan membuat berinvestasi di aset-aset berbasis mata uang ini (utamanya di instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi) kurang menguntungkan.

Akibatnya, arus modal bertaburan keluar dari dolar AS. Aliran modal itu menyebar ke berbagai penjuru, salah satunya ke Indonesia. Hasilnya adalah rupiah mampu menguat. (*/SB-03)

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong