Logo Saibumi

Pembukaan Pasar Spot Usai Libur Panjang Idul Fitri, Rupiah Menguat

Pembukaan Pasar Spot Usai Libur Panjang Idul Fitri, Rupiah Menguat

Foto: Ilustrasi/Istimewa

Saibumi.com, Lampung - Di perdagangan pasar spot pagi ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat.

Faktor eksternal dan domestik memang suportif buat rupiah, bahkan setelah seminggu tidak diperdagangkan.

Pada Senin, 10 Juni 2019, US$ 1 dibanderol Rp 14.200 kala pembukaan pasar spot.

Rupiah menguat 0,49% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelum libur panjang Idul Fitri, dilansir CNBC Indonesia.

Biasanya gerak rupiah agak lambat bahkan cenderung tertekan setelah libur panjang. Namun hari ini rupiah langsung perkasa, tidak ada jetlag sama sekali.

Meski absen satu minggu, rupiah berhasil menyesuaikan diri dengan cepat dan menjadi yang terbaik di Asia. Ya, apresiasi 0,49% sudah cukup membawa rupiah menjadi mata uang terkuat Benua Kuning.

Mungkin ada untungnya rupiah absen dari pasar spot selama pekan kemarin. Sebab dengan begitu rupiah bisa tampil lebih segar saat mata uang utama Asia mulai layu.

Dalam sepekan terakhir, rupee India menguat 0,33% terhadap dolar AS. Sementara dolar Singapura terapresiasi 0,12% dan baht Thailand menguat 0,03%.

Kini, berbagai mata uang tersebut mulai merasakan kejamnya ambil untung (profit taking) sehingga bergerak melemah. Sementara rupiah yang baru datang seakan disambut karpet merah dan langsung menguat.

Mata uang Tanah Air juga sepertinya masih merasakan 'kenikmatan' atas keputusan Standard and Poors's (S&P) yang menaikkan peringkat utang Indonesia dari BBB- menjadi BBB.

Keputusan ini membuat investor makin yakin untuk berinvestasi di aset-aset berbasis rupiah (terutama obligasi) karena kemungkinan gagal bayar semakin kecil.

Inflasi Tenang, Rupiah Terbang

Sedangkan dari dalam negeri, investor menantikan rilis data inflasi Mei yang akan dirilis pada pukul 11:00 WIB.

Konsensus pasar yang dihimpun memperkirakan inflasi bulanan (month-on-month) berada di 0,53%. Sementara inflasi year-on-year (YoY) diramal 3,165% dan inflasi inti YoY sebesar 3,08%.

Inflasi bulanan yang sebesar 0,53% bisa dibilang minim, mengingat sejak awal Mei (tepatnya 5 Mei) Indonesia sudah memasuki Ramadan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa periode Ramadan-Idul Fitri merupakan puncak konsumsi masyarakat yang otomatis menjadi puncak inflasi.

Namun pada Ramadan kali ini, inflasi bulanan 'hanya' 0,53%. Pada 2018, inflasi Ramadan adalah 0,21% pada Mei dan 0,59% pada Juni. Kemudian pada 2017, inflasi Ramadan yang sebagian besar jatuh pada Juni adalah 0,69%.

Secara tahunan, inflasi 3,165% juga relatif rendah. Tahun lalu, inflasi Ramadan yang jatuh pada Mei dan Juni masing-masing 3,23% dan 3,12%. Sedangkan pada 2017, inflasi Ramadan mencapai 4,37%.

Apakah inflasi rendah merupakan pertanda permintaan lesu? Tampaknya tidak demikian.

Sebab inflasi inti pada Mei diperkirakan 3,08% YoY, terakselerasi dibandingkan April yang sebesar 3,05%. Artinya, konsumsi masih kuat yang tercermin dari peningkatan ekspektasi inflasi.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, inflasi tinggi adalah sebuah default setting. Sebab permintaan terus tumbuh sementara industri domestik masih mencari bentuk permainan terbaik. Artinya pasokan yang tersedia niscaya belum mampu memenuhi permintaan yang terus naik.

Jadi inflasi rendah adalah sebuah berkah, karena pertanda permintaan yang tumbuh mampu dipenuhi oleh sisi penawaran. Sisi pasokan Indonesia semakin baik, dunia usaha semakin mampu untuk menyesuaikan irama permintaan konsumen. (*/SB-03)

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong