Logo Saibumi

Rupiah Terkapar Lagi, Dolar AS Sedang 'Seksi'

Rupiah Terkapar Lagi, Dolar AS Sedang

Foto: Istimewa

Saibumi.com, Lampung - Setelah sebelumnya melemah selama empat hari beruntun dan baru menguat kemarin sebesar 0,07% di pasar spot melawan dolar AS,  kini rupiah justru terkapar lagi.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah melemah 0,07% ke level Rp 14.455/dolar AS, Jumat, 17 Mei 2019.

Pada pukul 08:45 WIB, pelemahan rupiah sudah bertambah dalam menjadi 0,1% ke level Rp 14.460/dolar AS, dilansir CNBC Indonesia.

Rupiah tak melemah sendirian pada pagi hari ini. Mayoritas mata uang negara-negara Asia lainnya juga bertekukuk lutut di hadapan dolar AS. Pelemahan rupiah menjadi yang terdalam keempat setelah ringgit (0,17%), yuan (0,14%), dan rupee (0,14%).

Kinclongnya data ekonomi AS membuat dolar AS menjadi buruan investor. Kemarin, pembangunan hunian baru periode April 2019 diumumkan sejumlah 1,24 juta unit, mengalahkan konsensus yang sejumlah 1,21 juta unit, seperti dilansir dari Forex Factory.

Kemudian, klaim tunjangan pengangguran untuk minggu yang berakhir pada tanggal 11 Mei diumumkan sebanyak 212.000, lebih baik dari konsensus yang sebanyak 220.000, dilansir dari Forex Factory.

Dengan data ekonomi yang kinclong, urgensi bagi The Federal Reserve selaku bank sentral AS untuk memangkas tingkat suku bunga acuan menjadi berkurang. Praktis, dolar AS menjadi mendapatkan suntikan energi untuk menguat.

Proyeksi BI Bebani Rupiah
Dari dalam negeri, kinerja rupiah dibebani oleh pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) periode Mei 2019.

Mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level 6%, bank sentral merevisi proyeksinya atas defisit transaksi berjalan/Current Account Deficit (CAD) periode 2019.

Kini, proyeksi CAD ditetapkan berada di rentang 2,5%-3% dari PDB, dari yang sebelumnya 2,5% dari PDB.

"Defisit transaksi berjalan 2019 juga diprakirakan lebih rendah dari tahun 2018, yaitu dalam kisaran 2,5-3,0% PDB, meskipun tidak serendah prakiraan semula," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Gedung BI, Kamis (16/5/2019).

Perlambatan ekonomi global hingga perang dagang menjadi faktor yang memaksa BI merevisi proyeksi CAD untuk tahun 2019.

Jika berbicara mengenai rupiah, transaksi berjalan merupakan hal yang sangat penting lantaran menggambarkan pasokan devisa yang tidak mudah berubah (dari aktivitas ekspor-impor barang dan jasa).

Hal ini berbeda dengan pos transaksi modal dan finansial yang bisa cepat berubah karena datang dari aliran modal portfolio atau yang biasa disebut sebagai hot money. (*/SB-03)

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong