Logo Saibumi

Usai Jadi 'Pesakitan', Dolar AS Sapu Bersih Mata Uang Asia!

Usai Jadi

Foto: Ilustrasi/Istimewa

Saibumi.com, Lampung - Setelah sempat jadi 'pesakitan' di pembukaan Kamis, 14 Maret 2019, pagi, dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada siang hari.

Kini, justru rupiah yang melemah, setelah sempat perkasa pada pagi hari. Rupiah tidak mampu melawan keperkasaan dolar AS yang menguat terhadap seluruh mata uang utama Asia.

Pada pukul 12.00 WIB, US$ 1 dihargai Rp 14.270. Rupiah melemah 0,07% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya, dilansir CNBC Indonesia.

Padahal kala pembukaan pasar, rupiah masih mampu menguat 0,21%. Namun memang selepas itu penguatan rupiah terus menipis, habis, dan akhirnya melemah.

Memang situasinya agak sulit buat rupiah. Bukan apa-apa, dolar AS terlalu perkasa.

Keperkasaan ini ditunjukkan dengan cara menundukkan seluruh mata uang utama Benua Kuning tanpa kecuali. Sapu bersih, tidak ada yang bisa menguat di hadapan greenback.

Dolar AS Jadi Pilihan Utama

Tidak cuma di Asia, penguatan dolar AS semakin mantap di level global.

Pada pukul 12:17 WIB, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback di hadapan enam mata uang Asia) menguat 0,1%. Padahal dini hari tadi, indeks ini masih terkoreksi 0,4%.

Investor kembali melirik dolar AS karena nilainya memang sudah murah. Dalam sepekan terakhir, Dollar Index sudah anjlok 1,05%. Dolar AS yang sudah 'terdiskon' ini tentu menjadi menarik untuk dikoleksi.

Selain itu, ada kemungkinan investor mulai ragu untuk masuk ke pasar keuangan Asia karena data ekonomi China yang kurang oke. Pada Januari-Februari 2019, output industri naik 5,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lebih lambat dibandingkan konsensus pasar yang dihimpun Reuters yang memperkirakan pertumbuhan 5,5%. Ini juga menjadi laju paling lemah sejak 2002.

China adalah perekonomian terbesar di Asia, sang kepala naga. Kala kepala naga terjun ke air, maka seluruh tubuhnya lambat laun akan ikut terseret ke dalam air.

Perlambatan ekonomi di China yang semakin nyata akan berdampak ke negara-negara lain di Asia termasuk Indonesia.

Menurut kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), setiap 1% perlambatan ekonomi China akan menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 0,72%.

Oleh karena itu, apa yang terjadi di China akan sangat menentukan nasib satu benua. Ketika ada masalah di China, pelaku pasar akan cenderung menjauh dari Asia. (*/SB-03)

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong