Logo Saibumi

Awas Ancaman Penyakit Hepatitis A
dr. Duddy Mulyawan Djajadisastra, Sp.PD, FINASIM

Awas Ancaman Penyakit Hepatitis A

Foto Ilustrasi

Saibumi.com, Bandar Lampung - Spesialis penyakit dalam dari Bethsaida Hospitals , dr. Duddy Mulyawan Djajadisastra, SpPD, FINASIM mengatakan infeksi hepatitis A adalah infeksi akut, tidak menyebabkan penyakit hati jangka panjang (kronis) dan pada umumnya jarang yang mengakibatkan kefatalan.

Tetapi, tambahnya, bila terinfeksi virus yang A yang patogen (berbahaya) atau pada
beberapa kelompok seperti manula dan mereka yang memiliki penyakit diabetes,
orang yang bermasalah dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun, seperti
penderita HIV dan orang yang telah menderita penyakit hati sebelum terinfeksi
hepatitis A, lebih rentan mengalami komplikasi risiko gagal hati, risiko kambuhnya infeksi dan risiko kolestasis (gangguan aliran empedu). Kolestasis pada hati dapat menyebabkan gagal hati, bahkan berakhir pada kematian.

Untuk penyebabnya ia mengatakan, faktor risiko penyebab terjangkit hepatitis A di antaranya karena faktor lingkungan yang padat dan kurang sehat, sedangkan penyebaran virus hepatitis A biasanya melalui makanan yang tercemar kotoran atau tinja penderita.

Bila kemudian mengonsumsi makanan dari sumber sama, maka berpotensi tertular
virus hepatitis A. “Masa inkubasi membutuhkan waktu sejak pertama virus masuk hingga timbul gejala sekitar dua pekan,” ujar dr. Duddy Mulyawan Djajadisastra,SpPD, FINASIM.

Selain makanan atau minuman yang terkontaminasi kotoran atau tinja penderita,
beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan penyebaran virus ini meliputi,
Sanitasi yang buruk, kontak langsung dengan pengidap hepatitis A.

Bekerja di area yang berhubungan dengan sistem limbah, karena virus tersebut terdapat dalam darah, maka penularannya meningkat pada pengguna jarum suntik yang dipakai ulang, berhubungan seks dengan pengidap, terutama seks anal

Guna meminimalisasi terkena virus hepatitis A, dr. Duddy menyarankan agar menjaga kebersihan seperti mencuci tangan sebelum makan atau pun setelah buang air besar, memasak makanan sampai matang, dan melakukan pencegahan dengan vaksinasi hepatitis A.

Gejala adapun gejala-gejala awal yang muncul pada umumnya berupa demam tinggi, nyeri otot, mual, muntah. Ketika organ hati sudah terserang, maka akan didapatkan
gambaran kuning di mata pasien, urine yang berwarna kuning tua atau kecokelatan, serta sakit di daerah perut bagian kanan atas terutama bila ditekan.

Meski begitu, ujar dr. Duddy, banyak pasien yang asimtomatik tidak menyadari gejala apapun terhadap peyakit yang menyerangnya dan baru terdiagnosa setelah
melakukan tes medik. Selain itu, tidak semua pengidap mengalami gejala hepatitis A, sehingga penyakit ini kadang sulit untuk disadari.

Tetapi apabila penderita mengalami demam, mual dan sakit di perut kanan bagian atas, serta tidak mempunyai nafsu makan sehingga kondisi tubuh penderita semakin
lemah, maka segera memeriksakan secara medis.

Dengan terdiagnosa secara dini, maka akan menghindarkan dari komplikasi yang mungkin terjadi.

Menurut dr. Duddy, apabila terdiagnosa terkena hepatitis A maka pasien harus
istirahat total, mengurangi kontak dengan orang lain, mengkonsumsi makanan yang
bergizi guna meningkatkan daya tahan tubuh, serta menghindari makanan berlemak dan berminyak agar tidak mual dan muntah.


Hingga kini ada lima hepatitis yang umum diketahui, yakni hepatitis A, B, C, D dan E.
Selain itu juga tengah diteliti tentang adanya hepatitis G. Sedang virus yang menyebabkan hepatitis di antaranya adalah virus mumps, rubella, cytomegalovirus,
Epstein-barr dan virus herpes. Infeksi virus seringkali mengakibatkan komplikasi
gangguan fungsi hati, meskipun tidak dikatakan sebagai hepatitis.

Menurut dr. Duddy, penyakit hepatitis itu sejatinya terbagi menjadi dua, yakni akut
dan kronik. Penyakit hepatitis akut mempengaruhi kesehatan seseorang untuk waktu yang singkat dan bisa sembuh dalam beberapa minggu tanpa efek berkelanjutan.

Sedang penyakit kronik itu berlangsung lama (di atas 6 bulan) dan terkadang bisa
sampai seumur hidup. Ia mengatakan, penyakit hepatitis A dan hepatitis E pada umumnya menimbulkan penyakit yang akut dan bisa sembuh dalam waktu relatif tidak lama. Sedang hepatitis B, C, dan hepatitis D berlangsung lama dan dampaknya bisa sampai 10 - 20 tahun.

Ketiga hepatitis tersebut dapat menimbulkan sirosis hati (gagal fungsi hati)
Penularan Virus Hepatitis Penyakit hepatitis merupakan penyakit menular. Bahkan, ada jenis hepatitis yang virusnya membandel dan tetap bertahan dalam liver, sehingga ketika terlihat sehat tetapi masih bisa menularkan kepada mereka yang sehat.

Adapun penularan jenis-jenis hepatitis, sebagai berikut:

Hepatitis A : Hepatitis ini pada umumnya bisa disembuhkan dan jarang menimbulkan kerusakan hati secara permanen. Tetapi sangat mudah menular, terutama melalui makanan dan air yang terkontaminasi oleh tinja orang yang terinfeksi. Sudah ada vaksinasi hepatitis A.

Hepatitis B: Hepatitis jenis berbahaya dan dapat menimbulkan kematian. Penularan penyakit liver ini di antaranya karena hubungan seksual, transfusi darah,peralatan tidak steril, atau penularan dari ibu kepada janinnya. Hepatitis ini yang sering menimbulkan sirosis hati (sel hati normal terganti oleh jaringan ikat yang tak berfungsi). Mereka yang bisa sembuh dari hepatitis B terkadang masih membawa
virus dan bisa berkembang menjadi kronik hingga menyebabkan sirosis di kemudian
hari, serta berpotensi menularkan kepada mereka yang sehat.

Pencegahan hepatisis B melalui vaksin pada bayi hingga orang dewasa. Pemberian
vaksin hepatitis pada bayi dilakukan tiga kali, yakni pada waktu lahir, usia 1-2 bulan,
dan enam bulan. Sedang orang dewasa pada usia 18 tahun, terutama bagi yang
berisiko seperti pengguna suntik narkoba, pasien HIV, pasien hati kronis dan lainnya.

Hepatitis C: Penularan melalui darah (transfusi), suntik – termasuk pembuatan
tato dan body piercing yang tidak steril atau ditularkan ibu ke janinnya. Virus penyebab hepatitis C ini sulit menghilang dan sekitar 20 persen pasien mengalami kekambuhan sehingga mengganggu hati. Belum ada vaksin hepatitis C.

Hepatitis D: Penularannya mirip hepatitis B. Penyebabnya adalah virus delta atau virus cacat dan memerlukan pertolongan virus hepatitis B untuk berkembang biak. Karena itu, hepatitis D pada umumnya ditemukan pada pasien hepatitis B.

Hepatitis D jarang ditemukan tetapi paling berbahaya dibanding lainnya. Belum ada
vaksinasi hepatitis D. Tetapi bila sudah mendapat vaksinasi hepatitis B maka juga bisa terhindar dari serangan hepatitis D, karena hepatitis jenis ini harus ada “kolaborasi” dengan hepatitis B.

Hepatitis E: Penyakit lever ini seperti hepatitis A dan ditularkan melalui kotoran
manusia melalui makanan serta minuman. (*)

 

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong