Logo Saibumi

Pengacara Dosen Unila Bantah Kliennya Terima Uang Suap

Pengacara Dosen Unila Bantah Kliennya Terima Uang Suap

Oknum Dosen Universitas Lampung (Unila) Widya Krulinasari saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Bandar Lampung, Kamis, 8 November 2018 | Obbie Fernando/Saibumi.com

Saibumi.com, Bandar Lampung - Oknum Dosen Universitas Lampung (Unila) Widya Krulinasari yang diduga melakukan penipuan dengan menerima uang sebagai jaminan agar bisa masuk di Fakultas Kedokteran Unila, penasehat hukum terdakwa membantah bahwa kliennya bersalah.

Hal itu diungkapkan oleh pengacara dosen Unila tersebut Yudi Yusnandi, dalam wawancaranya Ia mengatakan bahwa kliennya tidak menerima uang yang disebutkan dalam dakwaan jaksa penuntut umum (JPU).

"Masalah uang itu sebenarnya klien saya tidak menerimanya, karena klien saya sendiri berperan sebagai penyambung antara korban dan orang yang dimintai tolong memasukan di Fakultas Kedokteran," katanya, Kamis, 8 November 2018.

Ia menambahkan, kliennya mempunyai hubungan pertemanan dengan orang bernama Nilamto seorang pegawai dibidang Pusat Komputer (Puskom) Kampus Unila dan pernah memberikan sejumlah uang.

"Masalah uang, memang ada sebagian melalui buku tabungan sejumlah Rp175 juta yang akan diberikan kepada rektorat. Sedangkan uang sejumlah Rp175 juta lagi yang diberikan korban diberikan kepada Nilamto," ujarnya.

Diketahui, perbuatan tersebut berawal pada bulan Mei 2017 silam. Terdakwa yang berstatus sebagai Dosen Fakultas Hukum di Kampus Unila yang mengaku bahwa bisa memasukan mahasiswi baru dengan sejumlah uang.

"Saksi Richard Parlindungan Sagala menghubungi keponakannya Francis Simanulang untuk menanyakan apakah ada orang yang bisa memasukan anaknya masuk Fakultas Kedokteran Unila. Setelah itu Francis memberikan nomor telepon terdakwa kepada ayah korban," kata JPU Rita Susanti

Setelah itu, Richard menghubungi terdakwa untuk menanyakan perihal tersebut. Terdakwa kemudian mengatakan bahwa ia bisa memasukan anaknya ke Fakultas tersebut dan terdakwa meminta uang sebesar Rp2 juta sebagai tanda jadi.

"Richard menyanggupi dan kemudian mentransfer uang sejumlah Rp2 juta. Kemudian pada tanggal 8 Mei 2017, terdakwa kembali meminta uang sebesar Rp3,5 juta sebagai tambahan tanda jadi dan Richard menyanggupinya," lanjutnya.

Kemudian pada tanggal 12 Mei 2017, terdakwa meminta Richard agar datang ke kediamannya dan terdakwa meyakinkan bahwa anaknya bisa masuk dengan membayarkan uang sejumlah Rp350 juta.

"Terdakwa meminta uang tersebut dibagi menjadi dua, Rp175 juta dimasukan buku tabungan untuk diserahkan Rektorat dan Rp175 juta diberikan secara tunai kepada terdakwa," jelasnya.

Pada tanggal 16 Mei 2017, setelah melakukan tes SBMPTN Richard menghubungi terdakwa bahwa nomor anaknya tidak keluar atau tidak lulus.

Terdakwa menawarkan kepada Richard agar masuk melalui jalur mandiri, namun Richard tidak menyetujui dan ia keminta uang yang telah diberikannya agar dikembalikan.

"Terdakwa minta waktu selama satu minggu untuk mengembalikan uang itu, namun terdakwa hanya bisa mengembalikan sejumlah Rp65 juta sisanya sejumlah Rp115 juta hingga saat ini belum bisa dikembalikan," tutupnya.(*)

Laporan wartawan Saibumi.com Obbie Fernando

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong