Logo Saibumi

Kritik Kehidupan Masyarakat Tanah Minang, Melatarbelakangi Terbitnya Novel Anak Rantau

Kritik Kehidupan Masyarakat Tanah Minang, Melatarbelakangi Terbitnya Novel Anak Rantau

Penulis Novel Anak Rantau A. Fuadi saat memberikan materi teknik menulis kreatif di Ball Room BI KPW Lampung, Rabu, 29 Agustus 2018 | Anisah Farras/Saibumi.com

Saibumi.com, Bandar Lampung - Banyak cerita dibalik seseorang dalam menulis sebuah buku, dalam proses penulisan novel Anak Rantau dibutuhkan riset dan jurnal-jurnal dalam mendeskripsikan karya yang kini telah menjadi Best Seller.

Penulis novel Anak Rantau Ahmad Fuadi mengatakan bahwa dirinya mendapat inspirasi saat operandi seni visual dengan mengangkat budaya Minang yang sudah berubah dalam kehidupan lokal.

"Saya menulisnya saat ketika dapat residensi di Italia. Waktu itu ingin menulis tentang akar budaya saya. Tetapi setelah melakukan riset lebih jauh ternyata akar riset ini sudah berubah, nggak kayak zaman dulu lagi," ujarnya, Rabu, 29 Agustus 2018.

Ia menjelaskan cerita Anak Rantau sedikit banyak mengkritik kehidupan masyarakat di tanah Minang yang ada beberapa bagain perlu ditingkatkan untuk kelangsungan kehidupan dimasa modern ataupun ditempat lainnya cermin kehidupan lebih baik lagi.

"Cerita ini menjadi ada unsur kritik sosialnya, untuk kebaikan kampung halaman. Mungkin ini, bukan hanya kampung halaman saya, tetapi kampung halaman siapa saja, seleksi ke akar kita bahwa, kita itu perlu perbaiki kalau ada yang kurang," jelasnya di Ball Room KPW BI Lampung. 

Riset-riset banyak ia lakukan sebelum menulis karya Anak Rantau tersebut dalam merealisasikan isi cerita seperti visual untuk cover dan visual untuk petanya untuk menambah imajinasi pembacanya.

"Melakukan riset langsung ke tempat lokasi, ada tentang narkorba sampai saya riset ke BNN, dari riset budaya, riset perpustakaan juga dan terakhir ada riset visual," tambah pria kelahiran daerah Pinggir Danau Maninjau.

Ia mengungkapkan masa milenial saat ini para penerbit lebih tertarik dengan sebuah cerita yang anti-mainstream, karya yang memiliki ide-ide kreatif dan berbeda dalam pendeskripsiannya.

"Penerbit sekarang itu mencari tema-tema lebih luas. Karena ada pembaca baru, anak-anak muda baru. Artinya mereka (penerbit) lebih terbuka, tingga penulis memajukan ide itu untuk menyakinkan," pungkas pria berbaju hijau.

Minat membaca dengan buku fisik saat ini sudah mulai menurun dikalangan anak-anak generasi digitalisasi yang lebih tertarik dengan sebuah media elektronik berupa aplikasi di ponsel. 

"Buku non-fisik atau buku digital dengan harapan lebih mudah diakses oleh pembaca-pembaca milenial dan generasi sekarang," jelas pria yang pernah mengenyam pendidikan di Gontor Modern.

"Kita punya komite buku nasional, yg mempunyai sebuah misi untuk membuat buku Indonesia lebih dikenal didunia. Jadi ada peluang untuk kita menulis lebih baik lagi," ungkap pria berkacamata. 

Menurutnya tips yang paling awal dalam memulai suatu penciptaan tulisan dengan kepercayaan dari dalam diri dengan kearifan lokal namun tetap harus melakukan penelitian, observasi yang sesuai dengan keadaan saat ini. 

"percaya dirilah dengan kekuatan lokalitas. Jadi, tidak harus berpura-pura menjadi gaya kota, gaya lokal itu aja harganya mahal," kata dia.

Ia mencontohkan seperti salah satu penulis yang memiliki karakteristik sendiri yaitu Dewi Lesstari menulis novel dengan mendeskripsikan sudut pandang penulisan dengan kekuatan penciuman manusia yang jarang ada yang membahasnya. 

"Carilah sudut pandang yang baru, kalau bisa sampai ke tema yang baru, ya lebih baik lagi," jelas pria yang pernah menjadi wartawan. 

Ia memberi motivasi untuk mengirimkakn naskah novel ke beberapa penerbit untuk mendapatkan peluang agar karya dapat diterima dan dinikmati oleh masyarakat. 

"Kirim aja naskahnya ke penerbit mayor itu, dan ada masa tunggu dalam proses. Kalau belum diterbitkan ya jangan takut. Masih banyak yang lain," katanya.

Di Masa saat ini banyak penulis lokal yang sulit bersaing dengan penulis yang sudah mapan ataupun baru di Ibukota. 

"Penulis itu pasti lebih sedikit daripada pembaca, cuma bukan berarti tidak ada calon penulis baru. Cuma untuk masuk ke level nasional yang dari daerah ini tdiak mudah," ujarnya.

Namun, ia menegaskan bahwa persaingan saat ini lebih ketat dengan kemajuan tekonologi yang lebih memudahkan mengirim suatu naskah kepada penerbit papan atas hanya diutuhkan media elektronik.

"Zaman sekarang yang serba teknologi, naskah itu bisa dengan email, orang bisa dari mana aja, yang penting mereka punya kepercayaan diri bahwa cerita mereka bisa dianggap bagus di level nasional," tandasnya (*)

Laporan kontributor Saibumi.com Anisah Farras

 

 

 

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong