Logo Saibumi

Memanusiakan Pekerja Kreatif

Memanusiakan Pekerja Kreatif

Ist

“Karoshi”, begitu orang Jepang menyebut kematian akibat bekerja melampaui batas (overwork). Kementerian Perburuhan Jepang mencatat kerja lembur berlebih mengakibatkan 96 pekerja tewas karena sakit serta terjadi 93 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri karena gangguan mental.

Di Indonesia, Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) melihat pekerja industri kreatif rentan mengalami depresi seperti di Jepang karena memiliki kecenderungan overwork. Ironis karena Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri kreatif menyerap 15,9 juta pekerja tahun lalu dan tumbuh 4,3 persen dalam setahun.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) membagi industri ini menjadi 16 subsektor. Subsektor tersebut aplikasi dan game developer; arsitektur; desain interior; desain komunikasi visual; desain produk; fesyen; film, animasi, dan video; fotografi; kriya; kuliner; musik; penerbitan; periklanan; seni pertunjukan; seni rupa; serta televisi dan radio.

Sindikasi melihat sisi kesehatan dan keselamatan kerja sering diabaikan ketika persoalan ekonomi kreatif menjadi perbincangan. Padahal, Bekraf memproyeksikan sektor ini menjadi “tulang punggung ekonomi Indonesia”. Banyak pekerja kreatif diduga mengalami depresi karena kelebihan kerja.

“Saya cerita ke teman bahwa saya mengalami gejala depresi. Ternyata mereka pun mengalami gejala yang sama,” kata anggota Sindikasi, Ellena Ekarahendy.

Desainer grafis itu menyampaikan keprihatinannya dalam diskusi berjudul “Antara Dedikasi dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)” yang diselenggarakan Sindikasi. Diskusi didukung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Federasi Serikat Pekerja Media (FSPM) Independen diselenggarakan tahun lalu di Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta Selatan.

Salah satu kasus yang menyita perhatian di Jepang adalah peristiwa tewasnya Matsuri Takahashi, pekerja perusahaan periklanan raksasa Dentsu Inc. karena terjun dari apartemen. Hasil penyelidikan menyimpulkan perempuan 24 tahun ini mengalami depresi akibat beban psikologis di tempatnya bekerja.

Kondisi ini terjadi karena beban kerja Matsuri bertambah drastis dan membuatnya harus lembur selama 150 jam dalam sebulan. Setelah kematian Matsuri, perusahaan iklan Dentsu Inc. melarang pekerjanya bekerja di kantor di atas pukul 22.

Ellena menambahkan, banyaknya jam lembur muncul karena tidak ada sistem yang melindungi para pekerja kreatif. “Ada yang kerja full timedan lembur dalam sebulan gajinya ‘hanya’ Rp 1,5 juta,” katanya mencontohkan kondisi suram pekerja kreatif.

Untuk itu, Ellena mendesak adanya instrumen hukum sebagai penjamin kesehatan dan keselamatan kerja di sektor ini. Terlebih banyak pekerja kreatif cenderung informal tanpa tempat kerja yang jelas.

Sindikasi melihat jam kerja yang panjang, lembur tanpa kompensasi, minimnya perlindungan kesehatan, tingkat stres tinggi, dan ancaman kekerasan menjadi gambaran rentannya para pekerja kreatif dalam kesehariannya. Kasus meninggalnya pekerja periklanan Mita Diran pada 2013 membuka mata publik akan rentannya kesehatan pekerja industri kreatif dalam kultur kerjanya. Perempuan 27 tahun itu meregang nyawa setelah bekerja nonstop selama 30 jam.

Lembaga pemerhati K3 Local Initiative for OSH Network (LION) menganggap pemerintah gagap dalam melindungi para pekerja kreatif. Fakta ini karena banyak pekerja kreatif cenderung berada di ranah informal.

“Pekerja dengan pola hubungan nonstandar tidak punya jaminan pasti. Itu berdampak pada K3, negosiasi kenaikan upah,” ungkap Koordinator LION, Wiranta Yudha Ginting.

Ia mengusulkan agar pemerintah menyusun definisi ulang hubungan ketenagakerjaan di sektor kreatif. Di antaranya adalah definisi ulang tempat kerja dan jam kerja. Kajian itu dapat menjadi dasar pembentukan regulasi untuk perlindungan pekerja kreatif.

Sindikasi menyerukan agar ada kerja sama antara berbagai sektor pekerja kreatif untuk menyusun standar kerja yang lebih manusiawi. Ellena juga mengajak seluruh komponen mencari waktu dan duduk bersama, “Untuk melihat sumber daya manusia yang ada, organisasi dan komunitas apa saja yang sudah ada dan apa yang kita bisa lakukan bersama.”

Ajakan ini disambut oleh sejumlah peserta diskusi. Di antaranya Sammy Suyanto yang mewakili Asosiasi Profesional Desain Komunikasi Visual Indonesia (AIDIA), Jati Andito dari Komunitas Voice Over Indonesia, dan Rege Indrastudianto dari Asosiasi Desainer Grafis Indonesia. “Ini sebuah hajat besar yang perlu dikerjakan bersama,” kata Sammy.

Overwork adalah masalah serius di seluruh Asia meskipun panjangnya jam kerja tidak otomatis membuat produktivitas negara meningkat. Seperti dikutip Nikkei Asian Review, hasil studi terhadap 18 perusahaan manufaktur di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 10 persen peningkatan terhadap jam lembur malah menurunkan 2,4 persen produktivitas.

Data International Labor Organization (ILO) pada 2015 mencatat sebanyak 26,3 persen pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam dalam sepekan. Padahal, Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mensyaratkan 40 jam kerja dalam sepekan.

Data lain menunjukkan pekerja di Jakarta, berdasarkan survei UBS pada 2015, menghabiskan 2.102 jam untuk bekerja dalam setahun. Angka tersebut jauh di atas pekerja di Manila (1.950 jam per tahun) atau Kuala Lumpur (1.934 jam per tahun). (*)

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong