Logo Saibumi

Lampung Barat dan Mimpi Sastra Kaum Tani

Lampung Barat dan Mimpi Sastra Kaum Tani

Petani kopi di Lampung Barat. | dok./Saibumi.com

Oleh: Riduan Hamsyah

Seni sastra muncul dari latar belakang kaum terdidik, terpelajar! itu sudah biasa. Tetapi, bagaimana bila tiba-tiba muncul dari barisan orang-orang kampung (kaum petani), mungkin sedikit aneh, dan lebih tepat sebuah keajaiban. Boleh saja ada yang berpikir bahwa itu adalah barisan seni abal- abal dan tidak mungkin bermutu. Tapi,  pertanyaannya adalah itu seni milik siapa? Dan efek warna keberagaman yang dimiliki oleh masyarakat Negara manakah?

Kita, masyarakat Indonesia lah pemilik semua itu. Jiwa diskirminasi kita yang berlangsung sudah sangat kronis ini membuat segalanya menjadi sangat mustahil. Serta, keegoisan sejumlah orang yang mengaku sebagai “pegiat seni” justru telah memberangus rasa ingin tau sejumlah masyarakat tepi itu tentang definisi seni. Ini tak adil, bila sastra bertumpu pada sejenis kata “pengakuan” semata, masa depan bidang yang satu ini akan semakin menciut, tergerus, dan terinjak oleh budaya adopsi.

Kegelisahan ini sebenarnya cukup lama menghantui kami: kaum pinggiran, sekaligus para peminat seni yang terkekang oleh pelitnya ilmu serta informasi orang orang kota. Ada peluang untuk tumbuh, tetapi sangat lambat dan minimal. Selanjutnya kami coba mendeklarasikan diri ke sebuah ranah abu-abu. Sebuah wilayah yang mungkin menjadi sorot hambar beberapa pasang mata. Tapi, setidaknya ada pertanyaan yang mesti kami lunaskan sendiri jawabannya. Terlepas dari semacam keterkungkungan dalam jalan pencarian sebuah titik. Di mana, keluguan imajenasi mesti terobati dengan sebuah usaha (mungkin) sedikit militan untuk sekedar melawan mental blok yang telah sejak lama diwariskan.

Terhitung hari itu, 1 Juni 2016, pertengahan tahun ini, sejumlah anak muda mengawali sebuah titik. Di sebuah pekon, di Kabupaten Lampung Barat, mereka berkumpul untuk membentuk Komunitas Seni Masyarakat (KSM) Lampung Barat yang kemudian lebih diperjelas dengan membentuk kepengurusan bernama KOMUNITAS SASTRA SILATURAHMI MASYARAKAT LAMPUNG BARAT (KOMSAS SIMALABA). Memiliki 7 pengurus inti dan sekitar 40 anggota saat ini.

Inilah keajaiban itu. Sekumpulan masyarakat petani yang akhirnya tergabung dalam sebuah koloni budaya. Budaya kaum petani, tentunya. Mereka bicara tentang segala hal menyangkut seni budaya dan sekaligus sastra dalam pemahaman yang sangat terbatas. Tetapi sekali lagi bahwa, aspek edukasi masyarakat mesti dihidupkan dari segala kalangan mulai dari kaum terdidik dan kaum tradisional yang teknik pembelajarannya sangat autodidak.

Keterbatasan informasi tentang sastra dan belum adanya reprensi yang bisa dijadikan titik pandang kebudayaan menjadi sebuah tantangan besar dan semua tentu akan mereka diskusikan jalan keluarnya. Hingga ratusan puisi lahir di sini. Hampir setiap hari para petani yang umumnya bertani kopi dan sayuran ini menulis puisi, saling mengkoreksi dan membangun satu sama lain sedikit demi sedikit tetapi konsisten yangdiilhami oleh sebuah tekad untuk terus menjadi insan kreatife serta berdaya cipta. Luar biasa. Meskipun karya yang dihasilkan belum begitu memenuhi kaidah kaidah sesungguhnya (dalam bingkai dan analisis yang mutakhir) tetapi intensitas mereka terjaga cukup baik dengan kecintaan yang perlahan tumbuh menjadi sebuah penjiwa-an. Serta kegiatan diskusi diskusi kolom dunia maya mereka yang terus dihidupkan.

Ada yang sangat menarik sebenarnya. Setiap malam minggu, masyarakat sastra petani ini menghidupkan tradisi publikasi karya-karya mereka dalam sebuah program bernama SEMARAK PUISI MALAM MINGGU LAMPUNG BARAT disiarkan di sejumlah media online. Semakin hari maka semakin bertambah pula pengikutnya hingga saat ini telah memasuki ke-36 kali malam minggu (edisi ke-36). Dalam rentang waktu tersebut sebuah peristiwa yang manis terjadi pula karena menurut pengamatan saya secara peribadi, mereka tumbuh, dan berkembang. Berawal dari seguratan puisi yang sejenis dengan curahan isi hati semata kini lambat laun mulai berbentuk, bahkan beberapa di antaranya ada yang sudah mulai enak dibaca.

Bila sudah begini, pantaskan kesenian masyarakat kaum tepi kita singkirkan? Luput dari pengamatan serta analisis kita (yang sebaiknya) harus lebih beragam lagi. Memberi ruang dan akses untuk setiap elemen yang ingin mencintai sastra di negeri ini adalah sebuah sikap bijaksana dan tidak mengurungkan kita sibuk dengan pertumbuhan diri pribadi yang sangat pongah dan penyendiri.

Kembali pada Lampung Barat dengan sekelompok masyarakatnya yang mimpi untuk memiliki koloni sastra saat ini, ada sejumlah nama yang selain produktif, tapi juga mulai menemukan bentuk. Mereka adalah; Nanang Romdani, Q Alsungkawa, Muhammad Sarjuli, R Tia dan Yulyani Farida. Tanpa mengabaikan puluhan para pemula lainnya di KOMSAS SIMALABA yang kian gigih berlatih. Tapi, ke-5 pemuda tersebut mengalami perkembangan cukup signifikan. Baru mengenal sekaligus belajar menulis puisi dalam kurun waktu kurang dari setahun mereka kini memiliki bentuk serta karakter karya yang berpotensi untuk terus dibina menjadi matang.

Ada ruh yang mulai terlihat. Dan, menari menjadi sebuah gelembung kesungguhan yang secara jujur anak anak ini tuliskan. Sebuah implementasi yang nyaris sempurna dan tinggal membutuhkan latihan latihan yang penuh kesungguhan hati. Maka setelah saya, masyarakat Lampung Barat-lah yang paling pertama akan menyebut mereka seniman. Para seniman Lampung Barat suatu hari nanti.

Di samping mereka juga ada; Aan Hidayat, Ahmad Rifa’I, Suyono, Titin Ulpianti, Diah Pebriani, Ayu, M Hidayat, Naz Elhadzag, Pahlepi, Rahmat dan Wanti Okdavia yang terus semangat berlatih. Selanjutnya, ada nama nama yang baru bergabung, tapi sudah cukup potensial untuk turut serta meramaikan SASTRA KAUM PETANI di Lampung Barat. Mereka ini; Kamson, Yenni DA, Miftah Shofiyana, Vina Yuliana, Wahyudi, Abroril Kholidi DE, Agung Widodo, dan lain-lain. Juga sejumlah lainnya yang telah bergabung di Komsas Simalaba, tetapi masih malu-malu.

Berikut coba saya uraikan beberapa karya sastra petani ini:

(Puisi Karya Nanang R)

BINGKISAN KALBU

Sejenak,

singgah di bangku kosong

kupangku segelas kopi.

 

Semilir mencuri pandang

lalu lalang merujuk hasrat

pulang.

 

Aku, sengaja tak khabarkan

pada pucuk ilalang

dibalut replica kapas

sebab rindu ini akan pecah esok lusa.

 

(Puisi Karya Q Alsungkawa)

MATA MALAM

Selembar malam. Di atas meja,

membaca matamu, lalu

melempar ke jejak hujan.

 

Terimakasih; sudut malam!

Tatapan itu-

 

masih bangkit dari masa lalu,

ketika kita lemah, berebut nasib, hingga

kemesraan dipukul waktu.


(Puisi Karya M Sarjuli)

CELOTEH MANIS TANDAN PISANG

Desir pelepah pisang di bulan ini berbicara

sulitnya hidup setelah panen kopi. Tentang teriakan bumbu dapur

serta beras dan minyak goreng

di sudut belakang rumah.

 

Sementara petani kopi

beralih memanggul bertandan tandan pisang

ibu ibu merangkai

kata manis pada pedagang sembako di warung samping

tempat menumpukan harapan.

 

Saat matahari meninggi belum juga rayuan berhasil

mengajak sekarung beras

untuk ditimbang menjadi harapan.

 

(puisi karya Yulyani Farida)

KEMBALI PULANG

Bergetar dalam gigil, tak mampu

berkata

meski hanya berbisik lirih.

 

Gumpalan sesal, penuhi rongga

dada

kalimat ampunan merintih.

 

Begitu perih, detik detik kepergian sukma

meniti jalan kembali pada Ilahi Robbi.

 

(Puisi Karya R Tia)

CATATAN PAGI

 

Terimakasih hujan

telah menyapaku dengan indah

mengalirkan pagi ke selokan dan membawanya

bertualang menuju sungai.

 

Menikmati pagi dengan seragam

yang basah juga gerutu orang orang lupa membawa mantel

 

Adalah sebuah kerugian besar bila kita tidak memberikan ruang pada komunitas sastra para petani ini. Ada banyak sumber daya yang terbuang bahkan terbunuh oleh sebuah sikap lalai dan mementingkan diri sendiri semata. Sementara, manusia-manusia penghasil seni dan kebudayaan di negeri ini mesti terus dilestarikan.

Sebab, dari tunas-tunas yang sedang tumbuh tersebut kelak bangsa ini akan diwariskan menjadi warna-warna lain dan saya sangat sepakat bila kita semua berkata, bahwa “Sastra Indonesia itu adalah juga sebuah keberagaman. Tidak hanya milik kaum yang terkenal dan punya nama besar saja, tetapi juga milik semua lapisan yang telah sudi mencintainya. Termasuk kaum petani yang punya kejujuran kata kata”. 

 

(Penulis adalah warga Pekon Tugumulya, Ciptagara, Kecamatan Kebuntebu, Lampung Barat. Sejumlah puisinya lolos dalam event besar tanah air tahun 2016 ini, antara lain TIFA NUSANTARA III, SAIL CIMANUK, NEGERI POCI VII, MEMBACA KARTINI, dll.

Buku antologinya berjudul SEPASANG PUISI akan terbit akhir tahun ini. Riduan Hamsyah, bekerja di Dinkes Pandeglang, Banten, sebagai seorang bendahara. Tetapi masih aktif menulis artikel untuk sejumlah media lokal setempat).

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong