Logo Saibumi

Cita-cita Jadi TNI AL Tercapai Kol Laut (P) Yana Hardiyana Berkesan dengan KRI Banda Aceh
Secuil Kisah Hidup

Cita-cita Jadi TNI AL Tercapai Kol Laut (P) Yana Hardiyana Berkesan dengan KRI Banda Aceh

Danlanal Lampung Kol Laut (P) Yana Hardiyana saat memberikan pesannya pada majalah Saibumi.com kemarin. | Saibumi.com.

Saibumi.com, Bandar Lampung – Komandan Pangkalan TNI AL Lampung (Danlanal Lampung) Kol Laut (P) Yana Hardiyana sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) bercita-cita menjadi seorang prajurit TNI AL.

Berasal dari keluarga yang miskin tidak membuat Yana patah semangat untuk mengejar cita-citanya. Alasannya ingin menjadi seorang prajurit TNI AL dikarenakan meneruskan jejak sang ayah yang pensiunan AL.

BACA JUGA: Christina Jowry : Kesuksesan sebagai Wakil Rakyat dan IRT Tak Lepas dari Peran Seorang Ibu

"Ayah saya memang TNI AL. Dulu gaji prajurit TNI AL dengan pangkat bintara untuk menghidupi keluarga dengan anak lima itu bisa dibayangkan sulitnya. Jadi dari kecil memang sudah hidup prihatin. Kalau makan itu pakai lauk, satu telor pasti dibagi lima. Kalau nggak terbeli lauk, orangtua saya menyiasati dengan maros (darah kerbau yang direbus, diiris, lalu digoreng sebelum disantap) sebagai ganti daging. Dulu bisa makan daging hanya saat Lebaran. Kalau maros nggak ada, lauknya pakai sambel terasi saja," ucapdia mengawali ceritanya.

Saat kecil pun, Yana harus berebut piring dengan sang kakak maupun adiknya. "Dirumah itu cuma ada lima piring buat piring makan kami berlima sebagai anak. Satu dari lima piring seng itu lebih bagus dibanding empat lainnya. Jadi kalau mau makan itu pasti rebutan piring yang bagus itu karena yang empat itu warna motifnya sama dan yang berbeda itu biasanya jadi pemimpin," tutur Yana.

Situasi keluarga yang prihatin membuat anak kedua dari lima bersaudara ini berpikir dalam melanjutkan pendidikannya. "Mau kuliah terbentur biaya. Kata Bapak bisa kuliah gratis kalau masuk TNI. Akhirnya saya coba test masuk TNI. Sambil ikut test juga untuk jadi pramugara Simpati Air. Keduanya lulus. Akhirnya diskusi dengan orang tua. Saran orangtua untuk memilih TNI akhirnya berangkat test ke Magelang," ungkapnya.

Saat sekolah di Magelang, dari 150 orang taruna seangkatan, hanya 10 persen yang memilih AL. Lainnya pilih TNI AD atau Kepolisian. "Saat test penentuan korps dari lima korps yang ada di TNI AL, saya pilih jadi Pelaut. Padahal dalam formulir itu ada lima pilihan yang harus ditulis berdasarkan keinginan. Lima pilihan itu saya tulis semuanya Pelaut,” terangnya.

Yana pun sempat ditanya oleh petugas kenapa memilih pelaut semua. "Melihat pilihan Saya yang hanya pelaut itu, oleh petugassempat ditanyakankalau ditempatkan di teknik kamu harus terima, Saya tolak. Waktu ditekan kalau nggak lulus test jadi Pelaut bersedia dikeluarkan dari pendidikan, Saya jawab siap dikeluarkan. Akhirnya lolos jadi Pelaut," cerita Alumni AAL Angkatan 39 tahun 1993 ini.

Keinginan kuat jadi Pelaut didorong oleh cita-cita Yana yang ingin menjadi Komandan Kapal Laut. "Sepanjang karir jadi pelaut sampai sekarang ini sudah tiga kali jadi Komandan Kapal. Mulai dari Komandan kapal patroli yang ukurannya kecil. Selanjutnya jadi Komandan Kapal Penyapu Ranjau. Kemudian dipercaya jadi Komandan KRI Banda Aceh," papar Alumni SESKOAL Angkatan 45 tahun 2007 ini.

Yana mengaku terkesan ditunjuk menjadi Komandan KRI Banda Aceh yang menjadi awal mula kenaikan pangkatnya. “Selama bertugas yang paling tidak bisa dilupakan saat memimpin Komandan KRI Banda Aceh. Ceritanya saat mudik tahun 2012 menggunakan KRI Banda Aceh mengangkut penumpang mudik dari Semarang menuju Jakarta. Waktu itu tripnya tiga kali. Saat itu juga disidak oleh Presiden kala itu Pak SBY.”

“Beliau mengecek semua isi di kapal mulai dari tempat motor hingga kamar dan bertemu beliau. Ditanyakan oleh beliau kalau angkatan berapa dan saya jawab 93. Kok masih Letkol dan beliau sempat bertanya dengan jajaran yang ikut sidak “siapa yang angkatan 93”. Ada satu orang teman saya pangkatnya sudah kolonel. Tak lama saya dengar Pak SBY berbincang dengan KSAL dan rekan bilang selamat ya. Pak SBY pun mengatakan selamat bertugas sebelum meninggalkan kapal,” bebernya.

Selang tiga bulan, kata Yana, Surat keputusan kenaikan pangkat pun turun. “Kalau kata orang “Mbejo” cuma orang beruntung saja. Saya hanya bekerja dan tidak memikirkan jabatan apalagi pangkat kalau pada dasarnya naik ya naik,” ujarnya.

Ia pun mengingat nasihat orang tuanya sebagai pijakannya melangkah ke depan. "Kedepankan kewajiban, nomor duakan keinginan. Setelah keinginan tercapai, jangan lupa jaga kesehatan. Itu pesan Bapak saat Saya mau test SESKOAL. Sempat bingung juga diawal maksudnya apa, setelah mengerti pesan Bapak itu Saya sering sampaikan buat anggota saya. Kenapa jaga kesehatan ada didalamnya ? Karena waktu kecil, saya termasuk anak yang sering sakit," imbuhnya.

Yana yang akan genap berusia 45 tahun pada 21 Maret 2016 esok ini pun enggan berbicara terkait target dan masa depannya. "Saya nggak pernah punya target besok jadi apa. Apa yang sekarang ini rencana Allah jadi dijalankan dengan sebaik mungkin. Saya hanya minta disehatkan, dilancarkan dan dimudahkan dalam setiap penugasan. Tidak ingin disebut mendahului kehendak Allah, " jawab pria yang pecinta makanan lupis ini.

Kisah hidup Nabi Muhammad SAW jadi pegangan Yana kalau dihadapkan pertanyaan yang berkaitan dengan masa depan. "Masa depan itu ditentukan hari ini, saat ini. Kalau hari ini sudah hancur bagaimana bisa mengharapkan masa depan sukses besar ? Kalau tanam ketimun, nggak mungkin panen cabai ?, " jelas Yana sambil bertanya. (*)

Laporan wartawan Saibumi.com Saryah M Sitopu

BACA JUGA: Bowo Widi Atmono, Pengusaha Obat Tradisional dari Pasar Smep Bandar Lampung

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong