Logo Saibumi

Bowo Widi Atmono, Pengusaha Obat Tradisional dari Pasar Smep Bandar Lampung

Bowo Widi Atmono, Pengusaha Obat Tradisional dari Pasar Smep Bandar Lampung

Bowo Widi Atmono | Anggun Tya Isworo/ Saibumi.com

Saibumi.com, Bandar Lampung - Pengobatan tradisional masih tetap eksis ditengah semakin canggihnya dunia medis saat ini. Tidak sedikit masyarakat yang terus mempercayai cara alternatif ini.

Bowo Widi Atmono, seorang pengusaha obat-obatan tradisional yang pemilik Toko Jamu Kartini di Pasar Smep merupakan salah satunya.

BACA JUGA: Dikenal karena Pengembangan Potensi Dini Anak, Ingkan Harahap Juga Gali Eksplorasi Sampah Rumah Tangga

Pria yang akrab dengan kumis ini generasi kedua di Lampung dan generasi ketiga dalam keluarganya.

Usaha menjual bahan obat tradisional dimulai dari eyangnya yang berada di Yogyakarta. Karena ayahnya dipindahtugaskan pada 1967 ke Lampung, Ia dan keluarganya ikut berhijrah. Dari situlah, Ibundanya memulai usaha.

"Dari eyang saya sudah berjualan, kemudian Bunda saya, dan sekarang saya," katanya.

Sejak kecil membantu usaha keluarga tersebut, membuatnya tidak asing dan banyak belajar tentang ilmu-ilmu pengobatan serta peracikan obat.

Meski tidak memiliki basic pendidikan dibidang kesehatan, Sarjana Ekonomi sebuah akademi keuangan di Jogja ini belajar secara otodidak dari membaca buku dan bertanya pada ahli.

"Saya banyak baca buku, dari pengalaman orangtua. Banyak bertanya saya juga, kebetulan tetangga saya ahli jantung ada, ahli gizi ada," jelasnya.

Selain itu, anaknya yang berprofesi sebagai dokter juga menjadi sumber ilmu baru bagi dirinya.

Sebagai lulusan ekonomi, Ia pun pernah mencoba mencari pekerjaan lain sebelum akhirnya menjadi penerus usaha keluarga tersebut. Namun anak kedua dari 4 bersaudara ini enggan bekerja secara terikat.

"Saya pernah cari kerja, tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya gak mau kerja secara terikat. Berangkat jam sekian nanti pulang jam sekian, begini-begini, saya gak suka," tambahnya.

Bekerja sebagai pengusaha Ia pilih untuk menggali power individunya. "Saya disini termotivasi untuk menggali power individu. Penghidupan ada 3, bekerja, ikut perusahaan, ikut keterampilan. Zona aman PNS, ikut perusahaan tergantung dari background, tapi kalau pensiun ya sudah gak ada power lagi. Tetapi kalau mandiri, skill terampil, ditekuni, ulet, yakin, ada suatu kepuasan tersendiri. Hanya kalau jatuh sendiri, bangun ya sendiri, insha allah sampai puncak ada kepuasan. Hidup itu harus ada power," jelasnya.

Jatuh bangun mengelola usaha pun sempat Ia alami, seperti penipuan, masalah modal atau barang, namun ketekunan dan semangat membuatnya mampu bertahan hingga saat ini.

Bahkan beberapa kali Ia diundang oleh Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) untuk mengisi seminar tentang jamu tradisional. "Jadi saya sebagai tutor atau pembicara menyosialisasikan tentang penggunaan jamu atau obat tradisional. Kurang lebih 3 kali saya jadi pembicara," ucapnya.

Dalam memberikan obat kepada konsumennya, Ia sangat teliti dan tidak sembarangan. Meskipun obat-obatan tradisional dianggap tidak memiliki efek samping. "Saya berjualan juga mengutamakan kualitas, madu ya madu asli, pokoknya terbaik. Kemudian untuk memberikan racikan, saya tanya dulu keluhannya apa, penyakitnya apa saja, karena bisa salah kalau penyakit lain diabaikan," terang pria 57 tahun itu.

Menurut pria keturunan jawa tersebut, banyak penyakit yang datangnya dari psikis. Seperti stress, darah tinggi, kolesterol, asam urat, diabetes. "Sehat adalah bahagia, bahagia adalah sehat. Kebahagiaan gak bisa dibeli, harta tidak menjamin kebahagiaan. Bersyukur, ikhlas, mensyukuri berkah, dan jangan lupa pola makan, istirahat, pola hidup, olahraga teratur semampunya. Tubuh seiring usia, kalau logam pasti karatan, kalau kayu pasti lapuk, tubuh bakal tua, ompong pasti, tua pasti, mati pasti. Pasien saya 60 persen yang dirasakan stress, psikis, karena penyakit itu datangnya dari individu itu sendiri," urainya.

Untuknya, hidup dengan mensyukuri segala sesuatu dapat mengurangi beban tubuh dan bisa terhindar dari penyakit. "Gak ada iri dengki, jengkel, saya legowo saja, ya sudah buat kamu saja, alah berapa sih, begitu saja saya berpikir. Makanya alhamdulillah saya sehat, gak ada darah tinggi, kolesterol, atau apa. Jaga kalbu, ibadah, kerja, istirahat harus seimbang," tutur pria 3 orang anak itu.

Dalam memprediksi penyakit, Ia melihat dari ciri-ciri tubuh dan gejala yang timbul. "Saya memprediksi, tidak tepat sekali, tapi mendekati," katanya.

Diusianya yang sudah menginjak setengah abad, Ia lebih menjaga kesehatannya dan mengurangi aktivitas. "Saya ini sudah setengah abad, jadi ya bersyukur saja. Toko juga sekarang jarang buka, kalau kita terus mengejar harta tidak akan ada habisnya. Makanya, disyukuri saja, kalau dengan baju Rp60 ribu sudah layak pakai kenapa harus beli yang Rp600 ribu," katanya ketika ditemui ditokonya yang beralamat di Jalan Batu Sangkar Blok C No. 1.

Setelah dirinya, toko jamu tersebut akan diteruskan anaknya sebagai generasi keempat dalam keluarga. "Kan pertama eyang, bunda, saya, nah setelah ini akan ke anak saya. Kebetulan skripsi dia juga tentang obat tradisional," ungkap dia.

Diusianya saat ini, pria yang mempunyai cita-cita menjadi pilot tersebut mempunyai cara tersendiri menjaga kesehatan tubuh. "Saya sarapan singkong rebus, pada saat direbus jangan ditutup. Antara bekerja, ibadah, istirahat seimbang, olahraga teratur. Setiap hari minimal 10 menit, lebih efektif dari pada seminggu sekali meskipun 2 jam," tutupnya. (*)

Laporan wartawan Saibumi.com Anggun Tya Isworo

BACA JUGA: Yuli Yanti, Doktor Pertama di Tingkat SMA Bandar Lampung

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong