Logo Saibumi

Dikenal karena Pengembangan Potensi Dini Anak, Ingkan Harahap Juga Gali Eksplorasi Sampah Rumah Tangga

Dikenal karena Pengembangan Potensi Dini Anak, Ingkan Harahap Juga Gali Eksplorasi Sampah Rumah Tangga

Ingkan Harahap (batik coklat sebelah kanan) saat mengajarkan teknik melipat yang lebih sulit karena harus menghasilkan motif dengan panjang dan lebar sama persis.| Saryah M Sitopu/ Saibumi.com.

Saibumi.com, Bandar Lampung - Ir Ingkan Harahap dikenal secara luas pengabdiannya dalam pengembangan potensi dini anak dan remaja. Diluar itu, Ia pun mengeksplorasi sampah terutama sampah rumah tangga.

"Sederhana saja pemikirannya. Ini bagi orang sekilas remeh tapi kalau ditekuni bisa jadi besar nantinya," kata Ingkan saat diwawancarai media online Saibumi.com usai melatih para Ibu Jalasenastri di Balai Kesehatan Lanal Lampung Jalan Yos Sudarso Km 10 Panjang Bandar Lampung, Jumat 26 Februari 2016.

"Sebenarnya saya nggak full buat jadi crafter khusus daur ulang. Saya hanya eksplorasi proses recycle sampah dan kasih ilmu ke siapa saja yang berminat dan ingin belajar. Kerajinan ini sebenarnya sudah banyak, sudah lama ada disekitar kita. Saya hanya menggali, membuat bagus dan lebih bagus lagi sehingga nilainya jadi berkali lipat. Jadi ini memotivasi mereka kalau ini adalah hal baik yang kalau ditekuni bisa besar manfaatnya," kata Ingkan.

Akhir-akhir ini kita diributkan polemik diet plastik pembungkus dalam rangka mengurangi jumlah sampah plastik yang sulit diurai oleh tanah. Apalagi Indonesia menduduki peringkat dua negara terbesar pengguna plastik sebagai pembungkus berbagai produk.

"Saya ini punya kerinduan besar bangsa kita setara dengan bangsa lain didunia. Besar dan kuat dengan menghargai alam yang kita miliki. Banyak cara buat berkiprah. Salah satunya dengan berusaha kurangi sampah plastik yang kita pakai. Karena sampah plastik ini lama terurai, ayo kita olah sehingga bisa menjadi bentuk baru yang punya nilai," terang alumnus ITB tahun 1973 ini dengan ramah.

Mulanya Ingkan melakukan daur ulang sampah ditempat tinggalnya di Bandung. Dieksplorasi dengan beragam bentuk dari berbagai teknik "anyaman" pembungkus yang dikumpulkannya. Jadi bahan baku tambahan, kata dia, tidak terlalu banyak diperlukan. Murni mengandalkan eksplorasi dari pembungkus plastik sehingga terlihat lebih unik dan full hand made, sambungnya. Bahan baku sampahnya juga, lanjut dia, diperoleh sendiri setiap pagi dari tetangga dan kenalannya.

"Kegiatan ini bisa siapa saja mengerjakannya. Tidak melulu para Ibu. Saya saja kalau ngajar itu lebih cepat ngerti itu para pria. Bahkan Danlanal (Kol Laut (P) Yana Hardiyana, ed) sendiri cepat bisa bahkan sudah jadi satu. Pria memang begitu, lebih cepat nangkep (mengerti) tapi kurang telaten (teliti). Nah, kalau perempuan, agak lambat nangkep (mengerti) tapi telaten. Karena kerajinan ini lama dan ribet juga sebenarnya," ujar perempuan yang menjadi pionir teknik bertanam padi diatap rumah ini.

Menurutnya, kerajinan ini juga sangat terbuka lebar bagi penyandang cacat. "Yang tunanetra justru paling bagus hasil kerjanya. Entah bagaimana saya hanya bisa bilang kuasa Allah itu besar. Bisa lebih rapi dan menarik. Saya pernah mengajarkan kerajinan ini ke sekitar 100 tunanetra di Semarang dan hasil kerajinan mereka langsung ludes dibeli bule. Tahu sendiri kan kalau orang dari luar sana sangat menghargai karya hand made. Mereka makin tertarik saat mereka tahu kalau bahan bakunya asli dari sampah," paparnya.

Berkreasi dengan sampah, terus dia, tak sekadar melatih keterampilan tangan. "Kerajinan ini bisa bikin otak lebih aktif. Saat mengerjakan kerajinan begini, otak kanan dan otak kiri jadi seimbang kerjanya karena diarahkan untuk konsentrasi dan fokus. Makanya, kalau saya lagi melatih para Ibu sering saya becandain. Kalau bikin kerajinan begini bisa lupa sama gaji suami yang kurang buat belanja dapur," ceritanya.

BACA JUGA: Yuli Yanti, Doktor Pertama di Tingkat SMA Bandar Lampung

Berkecimpung dalam dunia kerajinan daur ulang sampah disebutnya punya magnet kuat. "Saat kita sudah bisa bikin sesuatu dengan teknik yang sederhana, nah kita jadi pengen bikin yang lebih sulit lagi. Yang sulit sudah kelar, kita pasti tertantang untuk bikin sesuatu yang baru lagi yang orang lain belum bisa bikin. Kalau sudah bisa, pasti permintaan buat menularkan ketrampilan yang sudah kita kuasai itu ada. Jadi sangat luas jadinya dan nggak ada batasan. Tergantung kita menggalinya," tambah perempuan Sunda ini.

Waktu yang dibutuhkan buat menghasilkan satu produk baru daur ulang variatif, kata dia, tergantung bahan baku dan kecepatan melipat, menggunting dan menganyam dari tiap orang. "Kalau buat saya yang menjadikan kerajinan begini sebagai sampingan, untuk dompet koin saya bisa buat dua buah dalam sehari. Soal bahan sudah bukan masalah lagi buat saya karena semua tetangga dan kenalan sudah tahu saya suka bermain-main dengan sampah jadi selalu dapat kiriman. Dulu saat pertama kali memulai eksplorasi dikerajinan ini agak susah dapatnya. Kadang sampai ambil dari tempat sampah sehingga harus dibersihkan dulu sebelum diolah. Kalau sekarang, sama tetangga dan kenalan sudah langsung dipisah. Jadi tak sempat masuk tempat sampah," cerita perempuan yang sudah berkelana didalam dan luar negeri buat mengajarkan kerajinan ini.

Nilai ekonomis dari produk daur ulang sampah ini disebutnya sangat kuat. "Saya pernah menemukan clutch disebuah Mall di Las Vegas hasil kerajinan begini bisa laku 300 US Dollar. Saya sendiri jualnya sekitaran Rp300 ribu. Dan itu sering sekali ditawar sangat murah. Mungkin paradigma masyarakat kita ini kalau nggak nawar itu gimana yah. Saya jual Rp50 ribu juga masih suka nawar. Mungkin karena bahan bakunya sampah makanya nawarnya juga murah sekali. Padahal buat jadi suatu produk baru nggak gampang lho. Prosesnya banyak. Bahkan salah gunting saja tidak bisa," terangnya perempuan yang sudah punya jadwal terbang ke Malaysia bulan depan ini untuk membagikan ilmu daur ulang sampahnya.

"Pihak luar banyak yang tertarik dengan kerajinan ini lho. Saya beberapa kali terima murid dari luar negeri yang murni datang ke Indonesia hanya buat belajar bikin kerajinan dari sampah. Mereka sangat menghargai kerajinan ini. Saya sendiri pernah dapat pesanan dari Spanyol, India, Roma, Barcelona, dan Italia. Buat memasarkan karya saya, pembelinya yang datang kerumah atau seringnya saat saya buka kelas atau ngajar, saya juga bawa produk jadi untuk dijual. Seringnya habis dan mau pesan kalau nggak dapat. Saya juga sudah pernah diundang langsung berbagi ilmu sampai ke Belanda dan Tibet. Jadi banyak hal yang saya dapat dari menekuni daur ulang sampah ini. Padahal ini bukan fokus utama saya, ini hanya eksplorasi sampingan saya," tutupnya. (*)

Laporan wartawan Saibumi.com Saryah M Sitopu

BACA JUGA: Fichrin Rozi Bangun Desa dari Awal Bergejolak Hingga Definitif

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong