Logo Saibumi

Yuli Yanti, Doktor Pertama di Tingkat SMA Bandar Lampung

Yuli Yanti, Doktor Pertama di Tingkat SMA Bandar Lampung

Yuli Yanti | Irzon Dwi Darma/ Saibumi.com.

Saibumi.com, Bandar Lampung - Yuli Yanti merupakan guru pertama ditingkat SMA se-Bandar Lampung yang mendapat gelar Doktor. Dirinya mengenyam pendidikan pascasarjana di Universitas Negeri Malang, Yuli bertugas di SMAN 7 Bandar Lampung.

Menurutnya, sesuai dengan kajian disertasi yang diangkat pada penyelesaian tugas akhir program doktor, Yuli berharap proses kreatif anak dapat dikembangkan sejak dini untuk mengaktualisasikan diri melalui karya sastra. Selain itu, ia juga berharap temuan penelitiannya dapat dikemas dalam strategi pembelajaran. 

"Sehingga proses kreatif subjek penelitian bisa diteladani oleh siswa. Ia juga berkeinginan untuk mengungkap proses kreatif sastrawan Lampung. Tentunya, dengan harapan ada hibah atau bantuan penelitian dari pemerintah, perguruan tinggi, dan atau pihak-pihak lain," kata Yuli, di Ruang Kerjanya, SMAN 7 Bandar Lampung, Jalan Teuku Cik Ditiro, Kemiling Bandar Lampung kemarin.

Diungkapkannya, ada tiga tujuan yang mendasari kajian dalam disertasinya yang berjudul "Proses Kreatif Salsabiilaa Roihanah dalam Menulis Cerita", yaitu mendeskripsikan dan menjelaskan proses menulis cerita pada tahap satu persiapan, kedua pengedrafan, dan ketiga perevisian. 

Jenis penelitian tersebut, kata Yuli, termasuk penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan ekspresif yang didukung dengan teori menulis, sosiologi sastra, dan psikologi sastra. Sumber data penelitian adalah Salsabiila Roihanah (SR), orang tuanya, dan cerita yang ditulis SR.

"Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan pengumpulan dokumen. Peneliti merupakan instrumen kunci, yaitu peneliti yang menjalankan seluruh prosedur penelitian dan analisis datanya menggunakan model alir dan model interaktif," bebernya.

BACA JUGA: Fichrin Rozi Bangun Desa dari Awal Bergejolak Hingga Definitif

Pada fokus tahap persiapan menulis, Yuli menunjukan beberapa perubahan. Pertama, SR tidak secara formal menentukan tema, misalnya dituliskan, tetapi sesungguhnya dalam proses menulis SR diikat oleh tema yang ada dalam pikirannya, tema persahabatan. Kedua, bahan cerita yang digunakan oleh SR adalah pengalaman sendiri, pengalaman orang lain, hasil membaca, hasil melihat televisi, hasil melihat compact disk, dan hasil melihat film.

Bahan-bahan tersebut tidak dituliskan apa adanya, tetapi dituliskan setelah melalui proses imajinasi, misalnya SR berandai-andai mengalami suatu peristiwa yang akan ditulis. Ketiga, lima tokoh yang sangat berperan dalam keseluruhan ceritanya telah ditentukan sejak awal, yakni Nabilla Anindya (Nina), Nida Ananda Putri Lestari (Nida), Lyly Puspitasari (Lyly), Fania Ratna Sarita (Fani), dan Aima Safina (Ima). SR juga menentukan karakteristik setiap tokoh tersebut. 

Yang Keempat, latar didasarkan dari pengalaman langsung, misalnya rumah budenya dan Bandara Juanda.

SR juga menentukan latar dengan mempertimbangkan kelogisan suatu cerita, misalnya, kondisi latar dan jarak antara latar yang satu dengan yang lainnya. Kelima, alur yang digunakan SR adalah alur maju. Menurut SR, alur maju lebih mudah dipahami. SR melakukan konsultasi alur dengan ayahnya agar cerita lebih menarik.

Keenam, judul cerita ada yang ditentukan sebelum dan juga setelah cerita ditulis. Penentuan judul disesuaikan dengan isi cerita dan kemenarikan untuk dibaca. Pemilihan judul berbahasa Inggris dengan alasan biar terkesan 
keren. 

Selanjutnya yang ketujuh, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. Sudut pandang ini memudahkan SR dalam menulis cerita karena lebih bisa mengungkapkan sesuatu secara emosional. Tokoh aku dalam cerita bukan sosok SR, tetapi sosok imajiner meskipun dari beberapa sisi ada kemiripan dengan SR, misalnya pintar, anak tunggal, dan senang bulu tangkis.

Sumber inspirasi pemilihan sudut pandang tersebut adalah hasil membaca dan saran dari ayah SR. Kedelapan, bahasa Indonesia dipilih SR sebagai bahasa pengantar cerita karena bahasa Indonesia adalah  bahasanya sehari-hari. Untuk judul buku SR, satu berbahasa Inggris (Adventure Day), satu berbahasa Arab (La Tahzan Nina), dan satu campuran Arab dan Inggris (Sohib Never Dies). 

"Yang terakhir, SR tidak membuat kerangka karangan. SR dipandu oleh tokoh-tokoh yang sudah ditentukan sebelumnya. Kesepuluh, cerita ditujukan kepada pembaca yang seumuran dengan SR. Hal tersebut berlangsung secara alami karena SR menulis cerita disesuaikan dengan usia anak-anak sekelas SR," ungkapnya. Saat menulis cerita SR berusia 10 sampai 12 tahun. 

Untuk fokus tahap kedua, menurut Yuli mengahasilkan dua hal: (1) SR mengembangkan cerita bertumpu pada ide-ide yang dipikirkan. Ide-ide dikembangkan dengan baik dengan panduan nama dan karakter tokoh yang sudah dipastikan sebelumnya dan (2) untuk menarik perhatian pembaca, SR membuat cerita dengan mempertimbangkan logika usia tokoh, logika jarak antartempat, adegan lucu, dan perseteruan tokoh. 

Untuk fokus pada tahap perevisian, hasil penelitian menunjukkan dua hal juga, yaitu (1) SR merevisi substansi cerita, misalnya judul, tokoh, latar, dan konflik cerita. Revisi dilakukan atas inisiatif SR dan juga mendapat saran dari orang tuanya dan (2) SR merevisi hal-dal teknis, misalnya ejaan dan kalimat dialog. Dalam perevisian tersebut SR dibantu oleh orang tuanya. 

"Secara teoretis keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang tingkat kesulitannya paling tinggi. Namun, pada kenyataannya menulis dapat dikerjakan oleh seorang anak kecil. Ini hal yang sangat menarik dan harus mendapat apresiasi. Oleh karena itu, melalui fokus yang saya angkat dalam disertasi, saya berharap ke depan tumbuh penulis-penulis lainnya," ujarnya. 

Hal yang perlu dipahami oleh semua kalangan adalah dengan menulis kita dapat membuka wawasan dan pikiran, serta dapat menuangkan hal yang menjadi harapan kita semua. "Mengingat saya adalah seorang guru, saya berharap siswa saya dapat memulai menulis karena dengan menuliskan dapat menunjukkan eksistensiu diri. Anak kecil saja bisa menulis, bagaimana dengan yang lebih besar?," ujarnya sambil tertawa. 

Yuli mengucapkan terima kasih kepada Walikota Bandar Lampung, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung, dan Kepala SMAN 7 Bandar Lampung Drs Suharto M Pd.

Atas izin beliau kepada Yuli untuk mendampingi suami yang sedang ditugaskan dari Unila untuk S3 di Universitas Negeri Malang (dulu IKIP Malang) dan juga mendapat izin belajar, ia berkesempatan menempuh pendidikan S3 di tempat yang sama. Sebetulnya, Yuli juga mengucapkan terima kasih untuk banyak pihak yang lain, tetapi tidak bisa disebut satu per satu di sini.(*)

Laporan wartawan Saibumi.com Irzon Dwi Darma

BACA JUGA: Tangkap Peluang Bisnis, Ririn Asnetasia Kreasikan Bunga Buket dan Flanel

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong