Logo Saibumi

Yoris Sebastian Paparkan Pentingnya Ide Kreatif dan Penerapannya

Yoris Sebastian Paparkan Pentingnya Ide Kreatif dan Penerapannya

Yoris Sebastian saat memaparkan materi dalam Temu Responden Survei Bank Indonesia Perwakilan Lampung Selasa 10 November 2015. | Saryah M Sitopu/ Saibumi.com

Saibumi.com, Bandar Lampung – Pengusaha Industri Kreatif Indonesia Yoris Sebastian membeberkan pentingnya ide kreatif dalam penerapannya.

Banyak contoh dibeberkan pria yang menjadi pembicara dalam Temu Responden Survei Bank Indonesia Perwakilan Lampung dilantai IV gedung BI Perwakilan Lampung Jalan Sultan Hasanuddin No 38 Telukbetung Selatan, Bandar Lampung, Selasa, 10 November 2015.

BACA JUGA: Target Angka Kredit 15 Persen Tahun Depan, BI Akan Perbaiki Iklim Investasi dan Perusahaan di Lampung

Materi berjudul Creativity & Innovation dibedah bersama dengan contoh nyata dalam kehidupan.

Mulai dari peletakkan uang Rp2 ribu dalam dashboard taksi Uber yang memiliki makna untuk menutupi Air Conditioner (AC) agar tidak terpapar langsung pada pengemudi.

Mulanya peserta yang hadir pun banyak terkecoh dengan jawaban uang digunakan sebagai kembalian hingga uang parkir.

Dari sini, kata Yoris, kelihatan kreatifnya orang Indonesia. “Duit Rp2 ribu dipakai buat menutupi AC didashboard, ada yang pernah kepikiran ide kreatif seperti ini ?, " kata Yoris yang langsung mendapat banyak anggukan kepala saat mendengarkan pemaparannya.

Menurutnya, penerapan ide dengan kreatif dan tepat bisa mendatangkan efek yang maksimal. Yoris pun mencontohkan Pemerintah Hongkong untuk mengurangi masalah tumpukan sampah, dengan mengambil beberapa sampel sampah dari kondom bekas hingga kulit pisang. Sampel itu, terus dia, dibawa ke laboratorium sehingga diperoleh DNA orang yang terakhir kontak dengan sampel tersebut.

Dari DNA, kata dia, diperoleh data pribadi hingga foto dari pelaku pembuang sampah. Foto pun dicetak dalam ukuran besar bak iklan dan ditempel dibeberapa titik strategis.

Efeknya masyarakat, kata Yoris, jadi ekstra hati-hati memperlakukan sampah karena tak ingin wajahnya terpapar dan ditempel seperti wajah buronan, hanya karena membuang sampah sembarangan.

Sekilas ide ini penerapannya mahal karena melalui proses laboratorium untuk mengekstrak DNA, tapi hasilnya sesuai.

"Ide kreatif nggak melulu harus mahal. Gunakan budget secara kreatif. Dari dulu semua orang tahu 10 November itu Hari Pahlawan. Pasang iklan dikoran dengan satu halaman penuh cuma buat ucapin Selamat Hari Pahlawan itu nggak kreatif sekali, nggak keren, cuma buang budget," singgung pria yang menjadi General Manager (GM) Hard Rock Cafe Indonesia pada usia 26 tahun yang menjadikannya GM Termuda se - Asia dan nomor dua sedunia ini.

Uniknya, Yoris tak hanya menguak sisi enak dari ide kreatif. Sisi pahitnya juga diangkat berasal dari contoh idenya sendiri. "Kita sering terjebak bikin program hanya hebat dibagian awal, tapi hasil nggak ada. Alias out of the box yang malah jadi out beneran. Misalnya pengalaman saya sendiri waktu launching album band Padi. Bikin sensasi dengan launching langsung diatas atap Mall Sarinah. Bikin geger sampai macet sampai membuat saya kena semprot Paspampres karena iringan mobil Megawati terhambat. Saat launching sukses, tapi setelah itu penjualan album band tersebut tidak memuaskan. Terlihatkan idenya out of the box tapi malah out beneran karena hasilnya itu ternyata kurang," urai pria yang menjadi konsultan pemasaran kreatif film Queen Bee dan Ketika Cinta Bertasbih.

Ide, kata Yoris, tidak ada yang jelek. Yang ada, menurutnya, adalah ide yang bisa dieksekusi sekarang dan ide yang boleh dieksekusi dimasa mendatang. "Misalnya mall khusus perempuan. Saya pernah coba ajukan ide ini di Medan, dan gagal. Tapi ide ini bisa menunggu, misalnya dengan membuka mall seperti ini di Aceh. Siapa tahu suatu saat ide ini bisa dieksekusi dengan baik disana," kata peraih British Council’s International Young Creative Entrepreneur Award ini.

Kalau ide ditolak, Yoris pun menyarankan untuk mencari cara baru dalam mengeksekusi ide tersebut.

Ia pun menceritakan ketika program I Like Monday (program live music yang menampilkan musisi lokal Indonesia ditengah derasnya karya musisi asing di Indonesia saat itu-red) ditolak pada 2003 lalu. "Karena secara psikologis efek dari tulisan itu lebih mengena daripada lisan. Maka ide yang awalnya saya sampaikan secara lisan dan langsung ditolak mentah-mentah itu, saya bungkus dengan tampilan PDF. Saya angkat positif negatifnya. Saya print khusus dikertas daur ulang. Saya mainkan foto-foto yang mendukung apa yang saya sampaikan. Hasilnya, langsung di ACC hari itu juga," urainya. (*)

Laporan wartawan Saibumi.com Saryah M Sitopu

BACA JUGA: Sosialisasi Penggunaan Rupiah dalam Transaksi Apapun di Lampung Telah Sentuh Kasir Perbankan

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong