Logo Saibumi

Puluhan Anak Tuna Netra Berlajar Sejarah Majapahit di Trowulan

Puluhan Anak Tuna Netra Berlajar Sejarah Majapahit di Trowulan

Anak-anak tuna netra kunjungi museum Majapahit/Enggran EB | Detik.com

Mojokerto - Suasana museum Majapahit Trowulan tak seperti biasanya. Seakan tak mau kalah dengan anak normal, sebanyak 70 anak tuna netra mengunjungi museum Majapahit Trowulan untuk mengenal berbagai koleksi benda cagar budaya peninggalan zaman kerajaan Majapahit, Sabtu (7/6/2014).

Meski hanya dengan meraba-raba, anak-anak penyandang tuna netra ini terlihat antusias memahami objek di lokasi. Pantauan detikcom di lokasi, sebanyak 70 anak-anak tuna netra tingkat SD dan SMP berkumpul di museum Majapahit Trowulan.

Anak-anak yang berasal dari Yayasan Pendidikan Anak-Anak Buta Surabaya ini, terlihat begitu menikmati perjalanan wisata mereka. Itu nampak dari celoteh mereka selama dituntun guru dan orang tua mereka di area museum.

Tidak seperti anak-anak normal, mereka dituntun oleh orang tua dan guru mereka untuk meraba satu per satu koleksi yang tersimpan di museum Majapahit. Untuk lebih memahamkan anak-anak tuna netra ini, beberapa pemandu wisata dari museum Majapahit memberikan penjelasan satu per satu BCB yang diraba para siswa.

"Selain sebagai sarana refreshing bagi para siswa, juga agar anak-anak bisa mengenal sejarah Majapahit, tentunya ini kesempatan yang langka dengan keterbatasan para siswa," kata Silvia, Presiden Lions Club Kresna Surabaya yang mendampingi para siswa tuna netra kepada detikcom di lokasi.

Silvia menambahkan, meski hanya dengan indera peraba, dia yakin siswa tuna netra ini bisa membayangkan sendiri rupa dari BCB yang mereka pegang. Usai mengenal cagar budaya, para siswa ditugasi membuat esai untuk menuangkan apa yang telah mereka pahami dari beberapa cagar budaya yang mereka pegang.

"Kami berharap, agar masyarakat tidak memandang sebelah mata penyandang tuna netra. Bahwa tuna netra juga bisa berkarya dan melakukan sesuatu seperti anak normal," imbuhnya.

Sementara Enik Yumastutik, petugas museum Majapahit Trowulan mengatakan, meskipun ada larangan untuk memegang koleksi di museum, pihaknya memberikan kompensasi bagi anak-anak tuna netra ini. Namun bagi pengunjung lainnya tetap dilarang untuk memegang koleksi tersebut. Karena dikhawatirkan akan merusak relief yang ada di museum.

"Siswa-siwa ini kan tak bisa melihat, tapi bisa mendengar, mereka juga ingin mempelajari sejarah. Oleh sebab itu kita berikan rekomendasi anak-anak seperti ini supaya tahu koleksi peninggalan kerajaan Majapahit dengan meraba-raba," pungkasnya. (Detik.com)

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong