Logo Saibumi

Agama dan Konflik
Oleh: Veronica Desiana

Agama dan Konflik

Veronica Desiana (Foto: Dok. Pribadi)

CLASH of Civilizations adalah hasil pemikiran yang dibuat oleh Samuel P. Huntington, atas pemahamannya terhadap dunia.

Ia berpendapat bahwa identitas masyarakat dan ajaran agama akan menjadi sumber utama konflik di dunia modern.

BACA JUGA: Universitas Teknokrat Gelar PkM Daring Bersama Komunitas Odapus Lampung

Samuel P. Huntington di dalam tulisannya ini, ia melihat dari Perang Dingin dan dari perang-perang lainnya, bahwa itu bukan suatu hal yang relevan lagi untuk dibawa ke masa modern ini.

Menurutnya ada hal yang jauh lebih penting dari melihat hanya sekedar ekonomi, persenjataan dan politik, yaitu mengelompokkan negara- negara ke dalam kebudayaan dan peradaban mereka.

Pendapat ini tentu sangat relatable terhadap kondisi saat ini. Pada saat ini banyak masyarakat tidak menaruh perhatiannya kepada Hard Power dan terlihat tidak mau berurusan dengan hal-hal yang berkaitan dengan perang persenjataan.

Walaupun tidak bisa kita pungkiri bahwa hal ini adalah hal yang tidak kalah penting.

Hal ini didukung oleh Teori Kritis yang dipelopori oleh Andrew Linklater adalah Hubungan Internasional mampu berekspansi kedalam hal Hak-Hak manusia dan tidak hanya membahas tentang High Politics semata.

Masyarakat pada saat ini sangat menaruh perhatiannya kepada Identitas.

Sejak 10 tahun belakangan ini identitas isu agama dan budaya sangat diperhatikan oleh banyak pihak.

Isu agama saat ini sudah memasuki ranah wilayah Politik.

Belakangan kita melihat ada banyaknya Identitas Agama yang digunakan sebagai alat untuk mendapatkan banyak perhatian dan dukungan di dalam mencapai tujuan politik.

Isu Agama dapat menjadi hal yang sangat sensitif dalam pembahasannya.

Namun kita sebagai masyarakat tidak bisa tutup mata akan hal yang terjadi dan melihat bagaimana peran Agama bercampur ke dalam hal politik, bahkan ke dalam hal yang lain.

Samuel P. Huntington dalam pemikirannya yang ia tuangkan di Clash Of Civilizations, membagi peradaban menjadi delapan.

Di dalamnya terdapat pemisahan negara-negara berdasarkan dengan identitas agama salah satunya dan ke dalam kebudayaan, letak geografis hingga ke dalam asal usul sejarah negara.

Salah satunya, Huntingthon ada menyebutkan peradaban Campuran dari agama Buddha dan Dunia Muslim di Timur Tengah Raya.

Hal ini menjadi bukti bahwa dunia dapat diidentifikasi dari Agama, dan Agama dapat digunakan juga untuk membuat suatu kelompok yang berisikan dengan value yang sama.

Hal ini tentu sangat relatable dengan kondisi saat ini, dimana kelompok-kelompok yang berlandaskan kesamaan identitas akan menimbulkan konflik.

Tentunya ada kasus yang disebabkan oleh Agama, karena seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa pembicaraan agama merupakan hal yang sensitif untuk dibahas.

Kasus di tahun 2017 yang sempat membuat keadaan negara menjadi panas adalah pada saat kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa dipanggil Ahok.

Pada saat itu, ia menghadiri pertemuan di Pulau Seribu dan di dalam pidatonya dinilai telah menodai Agama.

Hal ini semakin memanas karena pada saat itu Ahok sedang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Ujaran kebencian yang dilontarkan berlangsung cukup lama pada saat itu, sehingga menimbulkan hal-hal yang bersinggungan dengan Agama dan berpotensi untuk memecah-belah persatuan.

Walaupun pada saat itu Ahok telah ditetapkan menjadi tersangka, namun ujaran kebencian masih terus berdatangan dan membawa konteks Agama ke dalam berbagai aspek seperti politik.

Gerakan-gerakan yang menyuarakan pendapatnya terus berdatangan dan menimbulkan kerusuhan yang membawa konsep pembelaan Agama menjadi alasan.

Di dalam kasus ini tentunya tidak hanya dilihat dari satu pihak semata, namun berbagai pihak ikut menyuarakan dalam kasus ini.

Tidak semua menganggap Ahok bersalah, namun ada sebagian besar yang menganggap bahwa kejadian ini seharusnya tidak harus terlalu dibesar-besarkan.

Di Indonesia, ada beragam suku, budaya, bahasa dan agama.

Seharusnya di dalamnya ada rasa toleransi yang besar dan adanya keadilan.

Keadilan di sini bukan hanya berdiri terhadap kaum mayoritas, namun juga harus menjadi milik kaum minoritas.

Mengingat bahwa Indonesia adalah negara yang multikultural, kita sebagai masyarakat seharusnya mempunyai rasa toleransi yang tinggi.

Perbedaan yang ada seharusnya menimbulkan keindahan dan bukan pertengkaran.

Indonesia merupakan negara yang Intersectional, yaitu negara yang di dalamnya memang bersinggungan dengan agama, namun tidak secara penuh.

Sejak adanya kasus ini, Identitas Agama semakin diberi porsi lebih oleh masyarakat di dalam kehidupan bernegara.

Bisa kita lihat dari grafik angka Intoleran masyarakat Indonesia meningkat pada tahun 2017:



(sumber: tirto.id)

Agama selalu dikait-kaitkan dengan Politik, bahkan digunakan alat untuk mencapai tujuan Politik dengan menggunakan Politik Identitas.

Di dalam kasus Ahok, kita bisa melihat bagaimana ada sebagian pihak yang diuntungkan dalam kasus ini, yaitu kubu rival Ahok di Pilkada DKI Jakarta 2017 yaitu Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Tentunya kasus ini memberikan keuntungan bagi Anies dan Sandiaga dan membuat mereka bisa menggunakan Identitas Agama sebagai alat untuk meraih banyak suara di Pilkada 2017, yang kita tahu Anies Baswedan memeluk Agama Islam dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memeluk agama Kristen Protestan.

Perbedaan agama dari dua calon Gubernur DKI Jakarta pada saat itu membuat suatu peristiwa bagaimana Politik Identitas Agama mampu berperan dalam merebutkan bangku jabatan menjadi orang penting di Pemerintahan DKI Jakarta.

Hal ini membuktikan bahwa Agama mampu membuat suatu bentrok, menjadi alat mendapatkan kekuasaan, dan konflik hingga ke tingkat Politik.

Hal ini membuat terancamnya persatuan Indonesia dalam konflik Agama.

Konflik Antar Agama dapat terjadi karena ada banyaknya Perbedaan yang terjadi dalam satu wilayah.

Pasti jika ada suatu perbedaan akan menimbulkan gesekan permasalahan apalagi Agama merupakan hal yang sakral bagi masyarakat di Indonesia.

Masyarakat Indonesia sebagian besar masih belum bisa dewasa secara sepenuhnya dalam menerima perbedaa, masih banyak oknum yang beranggapan bahwa kepercayaan yang ia anut adalah yang paling benar dan mengharuskan semua mengikuti kebijakan kepercayaannya.

Hal ini tentu tidak bisa diaplikasikan di negara Indonesia yang multikultural dan berbeda.

Sikap Intoleran yang masih ada menjadi penyebab mengapa konflik antar umat beragama masih sering terjadi.

Cara penyampaian opini yang berlandaskan oleh nilai Agama untuk menyalahkan Agama lain dan penganutnya merupakan penyebab yang sering terjadi juga dalam konflik antar beragama.

Tanggapan ini didukung pendapat dari Samuel P. Huntington di dalam tulisannya di Clash of Civilizations.

Ia melihat bahwa ada elemen-elemen yang obyektif untuk digunakan agar mampu membedakan identitas-identitas yang ada yaitu bahasa, sejarah, agama, adat istiadat, institusi dan penilaian yang dikeluarkan dari pendapat atau opini orang lain.

Penyebab lainnya yang bisa menyebabkan Konflik antar umat beragamaadalahpenyalah artian dalam Kitab Suci.

Ada banyak penyalah artian atau penafsiran dari maksud Kitab Suci Hal ini bisa menyebabkan kesalahpahaman terhadap satu agama dengan agama yang lain.

Seharusnya kita sebagai umat manusia yang beragama harus menilai segala sesuatu dengan hal yang baik dan menerima pendapat seseorang dengan hati yang terbuka dan mengerti bahwa perbedaan akan selalu ada.

Identitas agama mampu membuat suatu hal yang besar.

Jika kita kembali kepada kasus yang dialami oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, walau kejadiannya sudah berlangsung lama, namun dampaknya sampai saat ini.

Isu agama selalu menjadi hal yang menarik perhatian terlebih di dalam bidang Politik.

Akan ada selalu yang menilai secara subjektif, bukan melihat kepada kinerja namun melihat apa agama yang dianut.

Teori Konstruktivis menyatakan bahwa hal yang mempunyai dampak besar bukanlah sekedar kepentingan saja namun ada seperti maksud, identitas, dan bahasa.

Hal ini tentu benar dan terlihat dari dampak kasus Identitas ini yang masih terasa walau sudah melewati sudah beberapa tahun.

Bagi Teori Konstruktivis semakin intensif hubungan maka akan membuat perdamaian. Namun jika kurang intensifnya suatu hubungan, maka akan menjadi rival yang sensitif.

Hal ini bisa kita lihat dan jadikan analisis, apakah setiap agama di Indonesia sering melakukan hubungan yang baik secara intensif? Apakah sering adanya dialog antar Agama?

Tentu, jika hal ini tidak dilakukan maka yang terjadi akan adanya saling bersinggungan satu sama lain dan menimbulkan konflik.

Hal ini ditambah jika kedewasaan bernegara masih belum menyeluruh.
Keberagaman adalah anugerah yang seharusnya kita syukuri.

Perbedaan membuat keindahan yang tidak semu. Menghargai adalah hal baik yang seharusnya kita praktikkan sehari-hari.

Tidak ada agama yang mengajarkan untuk membenci dan memaki. Semua agama mengajarkan saling mengasihi dan menghargai.

Kalau Tuhan yang membuat agama memiliki tujuan yang mulia, siapa kita manusia yang ingin menodai tujuan yang mulia itu?

*Penulis Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Lampung (Unila)

BACA JUGA: SMSI Harus di Depan Zaman

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong