Logo Saibumi

Dokter Saibumi : Alami Gejala Mirip Virus Corona? Bisa Jadi Psikosomatik !

Dokter Saibumi : Alami Gejala Mirip Virus Corona? Bisa Jadi Psikosomatik !

Dokter Umum Klinik Saibumi dr. Kurnia Fitri Apriliana. (Siska Purnama Sari/Saibumi.com)

Saibumi.com (SMSI) Bandar Lampung - Selama pandemi Virus Corona, kecemasan publik menyebar lebih cepat daripada penyakit. Rasa khawatir yang berlebihan tersebut, dapat menyebabkan tubuh menciptakan gejala mirip Coronavirus Disease 19 (Covid-19). Akibatnya, Anda akan berpikir telah terinfeksi virus corona.

Dikatakan Dokter Klinik Saibumi, dr.Kurnia Fitri Aprilliana, di tengah pandemi Covid-19 ini informasi mengenai virus yang mewabah dunia ini pasti memadati situs pemberitaan dan media sosial. Wabah ini merupakan kejadian yang besar karena terjadi hampir diseluruh negara, sehingga wajar bila kita merasa membutuhkan infomasi sebagai bentuk kewaspadaan.

BACA JUGA: Gelar Pesta Mewah saat Corona, Kapolsek Kembangan Kompol Fahrul Dipecat!

“Misalkan seseorang jadi merasakan gejala-gejala Covid-19, seperti demam, batuk, tenggorokan gatal atau bahkan sesak napas, setelah mendengar berita tersebut. Gejala ini bisa jadi timbul karena rasa takut dan cemas yang ditimbulkan oleh tubuh, bukan murni akibat terinfeksi virus ini. Kondisi ini dikenal dengan istilah psikosomatik akibat virus corona," kata Kurnia kepada Saibumi.com, Kamis 2 April 2020.

Dokter Kurnia menjelaskan, Psikosomatik sendiri berasal dari dua kata, yaitu pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Pada umumnya, psikosomatik adalah suatu kondisi keluhan fisik yang disebabkan atau diperparah oleh pikiran atau emosi. Biasanya, kondisi ini berawal dari stres, cemas, takut, atau depresi.

Mengapa bisa terjadi seperti itu? Salah satunya adalah peningkatan hormon adrenalin dan hormon stres. Saat seseorang terus-menerus membaca berita yang kurang baik, yang membuat seseorang menjadi merasa cemas, takut, dan stres, perasaan ini akan membuat tubuh menyangka bahwa sedang dalam bahaya, lalu mengeluarkan hormon-hormon stress.

Secara alami, hormon ini diproduksi saat tubuh merasa terancam, misalnya ketika seseorang sedang dikejar anjing. Tujuannya adalah untuk meningkatkan respons tubuh agar siap untuk menghadapi bahaya.

“Namun, bila hormon ini keluar di saat seseorang sebenarnya dalam keadaan aman, orang tersebut justru akan merasakan keluhan-keluhan yang ia takutkan terjadi. Jika kamu merasakan gejala ini setiap mendengar berita mengenai virus corona ini, artinya keadaan ini telah mempengaruhi kesehatan mentalmu. Ini adalah hal yang wajar bila terjadi di masa-masa seperti ini“ jelasnya.

Namun, jangan salah. Walaupun berasal dari pikiran dan emosi, bukan berarti keluhan fisik yang terjadi itu tidak nyata. Pada gejala psikosomatis, penderita benar-benar bisa merasakan keluhan fisik yang sesungguhnya dan membutuhkan pengobatan, sama halnya dengan penyakit lainnya.

Psikosomatik ini jelas mempengaruhi kualitas hidup seseorang, namun tidak berdampak negatif jika seseorang bisa mengontrol kecemasan dalam dirinya. Kalau sudah sampai muncul gangguan tidur, gangguan mood atau perasaan dan gangguan makan, disarankan untuk berkonsultasi ke dokter," paparnya.

Kurnia menyarankan, agar masyarakat dapat memilih informasi yang akurat karena banyaknya berita hoaks. Untuk seseorang yang memiliki gejala psikosomatik sarannya memilih atau membaca berita baik, seperti berita pasien yang berhasil sembuh atau maraknya aksi kemanusiaan untuk berdonasi, mungkin bisa membuat kita lebih bernapas lega.

Tidak terus menerus membaca berita yang kurang baik atau bahkan yang menyeramkan. Serta mengikuti peraturan serta himbauan dari pemerintah, yang sebagaimana mestinya dilakukan untuk kebaikan bersama.

"Imbauan pemerintah itu lebih baik diikuti, di rumah saja, social distancing, dan tidak panik sendiri. Jika merasa batuk flu, selagi tidak ada kontak dengan pasien, boleh untuk self-isolation di rumah dan mengikuti protokol yang telah dibuat pemerintah, atau jika sakit berlanjut bisa berkonsultasi menggunakan telemedicine (konsultasi online) atau kepada call center Call Centre Virus Corona (Covid-19) di nomor 112/119 ext.9 sebelum melangkah ke rumah sakit," ungkapnya.

Selama menjalani isolasi mandiri, tetap menjaga jarak juga dengan keluarga, mengunakan peralatan makan pribadi dan tidak campur dengan keluarga. Tetap pakai masker dan lakukan pengecekan suhu, serta amati batuk, sesak tiap hari.

"Kemudian kita juga terus meningkatkan kebersihan diri, rumah dan lingkungan. Pola makan, gizi seimbang dan vitamin B, C, D setiap hari. Dan hubungi fasilitas kesehatan jika gejala memburuk," pungkasnya.

Laporan Reporter Saibumi.com Siska Purnama Sari

BACA JUGA: NSS Kedaton Sediakan Hand Sanitizer di Showroom

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Newsletter Saibumi

BERLANGGANAN BERITA

Bethsaida Hospital | Rumah Sakit Tangerang, Gading Serpong