Logo Saibumi

Malangnya Penambal Ban di Lamtim, Puluhan Orang Makan Rastra Pasca Satu Keluarga Keracunan dan Meninggal

Malangnya Penambal Ban di Lamtim, Puluhan Orang Makan Rastra Pasca Satu Keluarga Keracunan dan Meninggal

Inilah kondisi rumah Heri di Dusun 1 Desa Karanganyar Kecamatan Labuhanmaringgai Kabupaten Lampung Timur, Ahad 8 Oktober 2017. | Foto Nurman Agung/Saibumi.com

Saibumi.com, Labuhanmaringgai - Keluarga Heri (37) diduga keracunan usai mengkonsumsi beras sejahtera (rastra) pada Sabtu 23 September 2017. Atas musibah ini, Silvi (2,5 tahun), anak bungsu Heri meninggal dunia.

Meski persoalan itu sudah berlangsung 15 hari yang lalu. Namun, Saibumi.com masih menyimpan sejumlah pertanyaan atas dugaan itu, meski banyak pihak yang mencoba menutup permasalahan ini agar tidak menguap di permukaan. Seperti apa cerita ini sebenarnya sehingga puluhan orang rela tandatangan di atas kertas untuk memakan nasi rastra yang diterima Heri di kediamannya pada Ahad 8 Oktober 2017 siang tadi.

Jalan lintas timur yang bergelombang mengiringi perjalanan wartawan Saibumi.com sore tadi untuk menuju kediaman Heri di Dusun 1 Desa Karanganyar Kecamatan Labuhanmaringgai Kabupaten Lampung Timur.

Untuk menuju kediaman Heri, jurnalis online ini memangkas waktu perjalanan dengan melewati prapatan pasar Wayjepara mengendarai mobil. Jarak yang ditempuh sekitar satu jam melewati jalan aspal dan onderlagh di Kecamatan Brajaselebah hingga ke tembus Labuhanmaringgai.

Di prapatan jalan onderlah Dusun 1 Desa Karanganyar Kecamatan Labuhanmaringgai terlihat sebuah rumah berdinding geribik dan papan. Di situlah Heri bersama isterinya, Erna (34) dan empat anaknya menetap.

Empat kali wartawan mencoba mengetuk pintu rumah Heri hingga akhirnya sang pemilik rumah keluar rumah. Saat itu Saibumi.com melihat Heri memakai kacamata hitam tebal memakai baju putih bergambar dan sarung corak kotak-kotak.

Setelah menyampaikan maksud dan tujuan, akhirnya pria yang bekerja sebagai penambal ban selama empat tahun terakhir ini menceritakan kejadiannya kepada wartawan.

Heri menceritakan, pada Sabtu 23 September 2017 pagi, isterinya memasak beras rastra satu kilogram satu canting dengan lauk talur dan sambal tempe. Keluarga berjumlah enam orang ini usai makan bersama.

"Berselang setengah jam kemudian kami berlima muntah-muntah, sedangkan anak saya yang bungsu tidak muntah dan masih lari-lari di rumah," ujarnya kepada Saibumi.com di kediamannya.

Dia melanjutkan ceritanya, malam harinya anaknya yang bungsu mengalami kejang-kejang dengan kondisi mulut kebiruan.

"Saat itu saya gendong anak saya waktu kejang-kejang itu. Bahkan kuku saya hampir copot karena digigit anak saya waktu itu. Seketika anaknya meninggal," ucapnya.

Waktu itu memang banyak warga tetangga yang mendatangi rumah atas musibah ini. Bahkan, kepolisian dan tentara setempat pun ke rumah.

"Saya sempat dibawa ke dokter Feri, setelah itu saya bersama isteri dan tiga anak saya disuruh dirawat ke puskesmas setempat. Baru satu jam diperiksa dan dinyatakan tim medis mengalami keracunan dan harus dirawat. Karena saya memikirkan bagaimana mengubur anak saya, makanya saya bersama keluarga pulang ke rumah," ungkap Heri.

Memang banyak orang yang datang baik anggota DPRD, kecamatan, aparatur desa, kepolisian, dan tentara memberikan belasungkawa serta tali asih berupa uang.

"Saya kepengen anak saya tenang dan tidak ingin mengingat lagi kejadian itu," akunya.

Setelah tujuh hari kematian anaknya, sisa rastra 13 kilogram dibawa oleh aparat desa selama beberapa hari. Baru kemudian dikembalikan ke rumahnya pada Ahad 8 Oktober 2017. Pada hari itu juga, perwakilan Bulog, kecamatan, aparat desa, kepolisian, tentara dan warga sekitar mendatangi kediaman Heri untuk memastikan apakah benar rastra itu beracun atau tidak.

Mereka pun tandatangan di atas kertas sebagai dasar kemauan untuk memakan rastra yang dimasak di rumah Heri. Menurut Heri, kondisi rastra itu tidak keruh warnanya.

"Iya tadi siang ada 37 orang yang tandatangan dan memakan nasi rastra tanpa lauk yang dimasak di rumah saya serta disaksikan warga sekitar. Hasilnya, tidak ada satu pun yang keracunan, dan saya pun heran," bebernya.

Kendati begitu, Heri mengaku Tuhan Yang Maha Esa adil karena cuma untuk dirinya saja yang ditimpa musibah.
"Ya sudahlah anak saya tidak kembali, semoga diterima di sisi Allah SWT. Saya ikhlas," tuturnya.

Peristiwa ini masih teringat di benak Heri. Sampai hari ini, Heri terlihat lemas dan kedua matanya merasakan sakit bila melihay cahaya yang terang.

"Makanya saya memakai kacamata hitam tebal ini karena mataku sakit. Sebab sebelumnya mata saya tidak sakit, sebab lubang jarung masih terlihat," paparnya.

Penuturan Heri, selama menetap di sini hanya menerima bantuan rastra, sedangkan bantuan lainnya tidak baik KIP, PKH, dan sebagainya.

Inilah cerita pilu yang dialami Heri dan keluarganya. Bagaimana pun juga musibah ini tentunya harus mendapat perhatian serius pemerintah agar tidak terjadi lagi kepada orang lain. (*)

Laporan picture wartawan Saibumi.comNurman Agung

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Sample Fixed Banner