Logo Saibumi

Batik Lampung Identik PNS dan Guru, Ini Komentar Pemakai dan Pemilik Usaha Batik

Batik Lampung Identik PNS dan Guru, Ini Komentar Pemakai dan Pemilik Usaha Batik

Pengunjung Griya Batik Gsbovira saat mencari batik Lampung | Aden Kuswira Wicaksana/ Saibumi.com.

Saibumi.com, Bandar Lampung – Popularitas batik di tingkat mancanegara sudah tak diragukan lagi.

Hal ini terbukti batik Indonesia diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, namun bagaimana dengan batik Lampung yang notabene hanya dipakai oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kalangan Pemerintah Lampung sampai-sampai ada yang menyebutkan “Batik PNS” atau “Batik Guru”.

Salah satu pegawai negeri sipil Kota Bandar Lampung Suwartini mengatakan asumsi tersebut dikarenakan batik Lampung hanya dipakai pada acara-acara formal seperti halnya pada saat kekantor.

“Ini saya beli bahannya ya untuk kekantor, mungkin karena sudah terkenal dengan batik formal aja makanya itu banyak orang yang nyebut batik PNS. Ya mau gimana memang banyak yang makai PNS,” ujarnya kepada Saibumi.com sambil memilih batik di Griya Batik Gabovira.

Salah satu pengusaha Batik Lampung Gatot Kartiko menepis hal tersebut, baginya anggapan tersebut muncul dikarenakan oleh beberapa orang yang tidak mengerti.

“Kalau itu yang ada dipikiran masyarakat Lampung ya salah. Menurut saya batik Lampung ini bukan batik PNS saja. Awal saya membuat batik itu justru segmentasi pasar saya kelas menengah kebawah,” ungkap pemilik Griya Batik Gabovira kepada Saibumi.com saat ditemui diruang kerjanya.

Tahun 2000an, menurutnya, awal mula masyarakat di Bumi Ruwa Jurai mulai memakai batik Lampung dan pada tahun itu  dipakai di kalangan PNS Pemda.

“Pokoknya sekitar tahun duaribuan sampai duaribu empat, ketika itu zaman kepemimpinan Pak Sjachroedin ya. Beliau mengimbau PNS itu harus pakai batik khususnya hari kamis dan jumat dan dari situlah batik Lampung sudah mulai populer,” terangnya

Masih kata dia, penggunaan batik Lampung dikalangan PNS atau dikalangan guru yang semakin populer baginya tidak menjadi masalah, yang harus menjadi perhatian ialah penjiplakan desain-desain batik oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Saya itu kalau mendesain batik untuk PNS di Lampung ini pasti saya buat secara eksklusif dan beda. Setiap instansi itu desainnya berbeda atau kalau sudah mentok warnanya pasti berbeda dan yang jadi masalah adalah penjiplakan desain oleh pengusaha-pengusaha tekstil dan itu bukan batik tapi kain tekstil,” papar dia.

Dia menjelaskan edukasi tentang perbedaan batik dan tekstil seharusnya menjadi penekanan kepada masyarakat agar nantinya tidak salah dalam menilai karya batik orisinil dan teksil. Kain tekstil biasanya diproduksi dalam jumlah banyak hingga ribuan meter dan harga yang ditawarkan biasanya tergolong murah.

“Kami terus mengedukasi masyarakat tentang bedanya kain batik dan tekstil, disini saya jual kain tekstil saya juga jual batik yang asli, gunanya apa ? ya untuk mengedukasi masyarakat itu tadi dan ini sangat penting,” jelas pria bergelar Ahlimadya itu.

Dampaknya sudah cukup jelas, desain batik Lampung yang tidak variatif alias pasaran membuat batik Lampung tidak berkembang, bahkan disebut-sebut sebagai batik PNS atau batik guru-guru di Lampung.

“Ya itu tadi karena penjiplakan desain, jadi batik-batik di Lampung sama semua. Sudah banyak produk yang saya desain sendiri dijiplak oleh pengesuaha tekstil tapi kalau itu cara mereka ya biarkan aja. Desain batik yang tadinya saya buat esklusif kini banyak yang nyamain,”tegasnya.

Gatot menambahkan agar batik Lampung semakin membumi di tanah sendiri, para pengusaha batik terus berkreasi memunculkan produk-produk baru yang bersifat tidak formal dalam artian dapat dipakai pada kegiatan-kegiatan nonformal.*)

Laporan wartawan Saibumi.com Aden Kuswira Wicaksana

Saibumi.com

merupakan portal berita Lampung, media online Lampung yang fokus kepada penyajian berbagai informasi mengenai berita online Lampung, berita terkini Lampung dan berita terkini Indonesia baik dalam bentuk news (berita), views (artikel), foto, maupun video.

Sample Fixed Banner